Pasar Sepeda Motor Bakal Tertekan - Dampak Aturan Uang Muka 25% di Perbankan Syariah

NERACA

Jakarta - Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menilai rencana penerapan Down Payment (DP) pada perbankan syariah membuat pasar otomotif menjadi khawatir. Pasalnya dengan aturan yang mewajibkan DP sebesar 25% membuat pasar otomotif khususnya sepeda motor menjadi tertekan.

"Untuk 2013, pasar sepeda motor nasional akan melambat akibat penyeragaman uang muka perbankan syariah sebesar 25%. Produsen berharap pemerintah bisa bijak dalam menentukan peraturan," kata Wakil Ketua Umum AISI, Johannes Loman, di Jakarta, Kamis (20/12).

Menurut Johannes, pasar kendaraan bermotor hingga akhir tahun ini diperkirakan turun dari 8 juta pada 2011 menjadi 6,8 juta unit. Ia menjelaskan hingga November 2012, penjualan sepeda motor nasional mencapai 6,57 juta unit. "Kondisi pasar kendaraan bermotor tampaknya lebih pesimistis dengan adanya kebijakan kenaikan uang muka jika dibandingkan pasar mobil yang masih berpotensi tumbuh hingga mencapai 1 juta unit," ucapnya.

Dia mengatakan penurunan permintaan sepeda motor terjadi di beberapa daerah baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Berdasarkan data AISI, penjualan sepeda motor pada bulan lalu mengalami penurunan sebesar 1,2% menjadi 627.048 unit dari penjualan Oktober 2012 sebanyak 634.575 unit. Penurunan terbesar berada pada jenis motor bebek.

Sedangkan Ketua Umum AISI, Gunadi Sindhuwinata, mengatakan penjualan sebenarnya bisa bertumbuh 10% setiap tahun apabila tidak ada hambatan di tengah jalan. Bahkan, target penjualan yang sebesar 10 juta unit pada tahun depan juga harus mundur hingga 2016 mendatang.

"Saat ini yang kami amati, pasar turun karena kebijakan uang muka. Uang muka buat pembeli sepeda motor sangat sensitif sehingga membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk membeli motor baru," ujarnya.

Gunadi menyebutkan, karena penjualan menurun, maka rencana ekspansi atau investasi yang akan dilakukan oleh para prinsipal sepeda motor akhirnya terpaksa ditunda atau tertahan. "Potensi ekspansi yang tertahan dari sekarang sampai setidaknya dua tahun mendatang adalah sekitar 20-25% dari total kapasitas produksi sepeda motor saat ini sebesar 8,5 juta unit," katanya.

Pasar sepeda motor juga akan booming mengingat pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menjadikan kendaraan bermotor roda dua sebagai kebutuhan utama rumah tangga. Setelah itu baru menyusul kebutuhan lain seperti televisi, lemari pendingin, mesin cuci, penyejuk udara, dan mobil. Untuk jenis pangsa pasar sepeda motor berkapasitas mesin 100-125 cc, dinilai Gunadi paling banyak diminati. Sebab, selain hemat, jenis motor ini juga masih bisa mengkonsumsi bahan bakar minyak Premium bersubsidi.

Secara regional pertumbuhan sepeda motor di ASEAN akan mencapai 10 juta tahun ini dengan sumbangan terbesar oleh Indonesia. Adapun rasio sepeda motor dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 1:5. Dari nilai pembiayaan sepeda motor yang tumbuh 10,44% tahun 2009, rasio kredit macetnya masih minim atau sekitar 2%. Dengan begitu ia tidak khawatir akan terjadi bubble dalam pemberian kredit.

Bila dibandingkan dengan penjualan sepeda motor di Cina dan India masing-masing mencapai 32,9 juta unit dan 9,8 juta unit, pasar di Indonesia masih lebih rendah. Adapun total pembiayaan sepeda motor dunia mencapai 56,4 juta unit. Sementara pasar motor di ASEAN mencapai 8,486 juta unit.

Motor Bekas Mendominasi

Sebelumnya, Direktur Keuangan Adira Dinamika Multifinance, I Dewa Made Susila mengatakan walaupun penjualan sepeda motor baru tahun depan diprediksi akan mengalami penurunan tetapi terbalik dengan motor bekas. "Penjualan sepeda motor baru akan menurun, sekitar lima persen. Namun penjualan sepeda motor bekas akan meningkat," katanya. Pasalnya, saat ini penjualan motor bekas mendominasi 40% dari bisnis roda dua Adira. Angka ini, menurut dia, akan meningkat pada tahun depan.

Ia menjelaskan bahwa Adira berkomitmen akan memperluas strategi bisnisnya melalui pengembangan dealer sepeda motor bekas lebih banyak tahun depan. Sampai Oktober 2012, industri penjualan motor nasional turun 13% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan penjualan mobil meningkat 22%. Situasi ini terbilang unik. Pasalnya, sejak diberlakukannya beberapa peraturan, seperti loan to value (LTV) uang muka kredit kendaraan bermotor dan pendaftaran fidusia, justru lebih berdampak pada konsumen sepeda motor, dibandingkan konsumen mobil.

Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Anton Gunawan, memproyeksikan kedua aturan baru di atas menyebabkan produsen-produsen mobil tahun depan mengakali pasar. "Caranya, mereka akan memperbanyak penjualan mobil-mobil murah," katanya.

Penetapan aturan DP dan fidusia membuat konsumen motor cenderung menyimpang uangnya. Konsumen, kata Anton, masih menunggu apakah aturan tersebut akan diperlonggar oleh pemerintah setelah setahun penerapannya. Dengan membanjirnya pasar mobil murah, maka konsumen akan melakukan pertukaran (switching). Mereka yang awalnya berniat membeli sepeda motor akan tertarik membeli mobil murah.

Pasar sepeda motor di Indonesia, menurut prediksi Adira Dinamika Multifinance, masih belum mencapai puncaknya. Penjualan sepeda motor akan mencapai titik puncaknya pada saat angka penjualan mencapai 12 juta unit per tahun. Posisi rata-rata penjualan saat ini masih tujuh juta unit sepeda motor per tahun. Adira saat ini menguasai pasar sepeda motor nasional 20%.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Lambat Perbankan Syariah Di Kalbar

  NERACA Pontianak – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat, Mochamad Riezky F Purnomo, mengatakan pertumbuhan perbankan syariah…

BPOM Perketat Aturan Perdagangan Obat dan Kosmetik Daring

BPOM Perketat Aturan Perdagangan Obat dan Kosmetik Daring NERACA Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memperketat aturan…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…