Tuntutan Prestasi Pasar Modal Jadi Tantangan

Menjelang penutupan akhir tahun 2012, industri pasar modal mencatatkan prestasi kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terbilang cukup bagus, meski dalam perjalanan pergerakan berfluktuasi kencang. Kendati demikian, indeks BEI mampu tembus di level 4.000 poin. Bahkan sebaliknya, para analis berani memasang target lebih tinggi hingga akhir tahun diprediksi mencapai 4.500.

Untuk di Asia, bursa saham Filipina tercatat sebagai bursa saham yang mengalami pertumbuhan paling tinggi, disusul Thailand, Singapura dan Malaysia. Namun, sejauh ini pertumbuhan IHSG tergolong masih positif walau tidak lagi menempati urutan tertinggi seperti terjadi pada akhir tahun lalu dan 2010. Sementara itu, dari sisi kapitalisasi pasar, pertumbuhan bursa saham Indonesia juga tidak terlalu mengesankan.

Kapitalisasi pasar IHSG hanya tumbuh 6,07% sampai dengan 9 Agustus 2012 sejak dibukanya perdagangan pada 2 Januari 2012. Pertumbuhan paling tinggi dicatatkan bursa saham Filipina yang mencapai pertumbuhan kapitalisasi hingga 25,82%.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan, pertumbuhan bursa saham Indonesia kalah saing dibandingkan beberapa bursa lain di Asia, karena start dari posisi yang lebih tinggi dibandingkan bursa lainnya itu. “Karena kita start sudah beda. Mereka banyak yang start dari posisi minus, sehingga secara valuasi bursa Indonesia relatif lebih mahal. Tapi wajar saja karena kinerja emiten kita kan positif, rata-rata cetak laba,” ujar Ito.

Namun, secara jangka panjang, menurut dia, bursa saham Indonesia masih jauh unggul dibandingkan bursa saham lainnya di regional Asia. Terlebih jika diukur sejak akhir 2008 atau sejak krisis berakhir pada periode saat itu.

Selain itu, prestasi BEI juga masih dapat rapot merah lantaran target IPO di tahun ini melesat dari target. Asal tahu saja, BEI menargetkan 25 emiten tahun ini yang bakal IPO atau melakukan penawaran saham perdana, tetap yang terealisasi hanya 23 emiten.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen pernah mengatakan, tidak tercapainya target IPO karena calon emiten belum menemukan harga cocok untuk IPO sehingga menjadwalkan ulang di tahun 2013. Pencatatan saham perdana PT Waskita Karya Tbk sebagai emiten ke-23 menjadi emiten terakhir pada tahun 2012. Kondisi ini makin mempertegas, bila pertumbuhan emiten di pasar modal Indonesia masih jauh dari ideal dibandingkan potensinya, yaitu hanya mencatatkan pertumbuhan sekitar 20-25 emiten per tahun.

Target Meleset

Jumlah emiten tahun ini sebanyak 23 dengan nilai IPO sebesar Rp8,56 triliun, lebih kecil dibanding tahun 2011 yang mencapai Rp19,59 triliun. Tidak mau tercoreng, BEI tetap menyakini kegagalan target tahun ini bisa terbayar di tahun 2013. Alasannya, ada sebanyak sembilan calon emiten pindah ke Januari 2013 dan karena itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan IPO sebanyak 30 emiten tahun depan

Disebutkan, dari sembilan perusahaan tersebut, ada sekitar tujuh perusahaan yang benar menunjukkan komitmen untuk melakukan IPO pada Januari 2013 sehingga nilai IPO tahun ini diperkirakan hanya mencapai Rp8,56 triliun. Angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai penawaran saham perdana pada 2011 yang mencapai Rp19,59 triliun.

Untuk sejumlah perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana pada awal 2013, antara lain PT Pelayaran Bina Buana Raya dan PT Cipaganti. PT Pelayaran Bina Buana Raya telah menunjuk PT OSK Nusadana Securities Indonesia sebagai penjamin emisi dan akan melepas 600 juta sahamnya. Rencananya, perusahaan akan melakukan pencatatan pada 9 Januari 2013 sebagai perusahaan publik. Sementara untuk PT Cipaganti, pihak manajemen perusahaan berencana akan melepas sekitar 23%-25% saham ke publik, dan diharapkan dapat mencatatkan saham perdana pada Januari 2013.

Selain kedua calon emiten tersebut, beberapa emiten lainnya yaitu PT Indoprima Gemilang, Bank Maspion, Spindo, PT Sarana Media Internasional, dan PT Siba Surya yang akan melepas saham di atas 20%. Untuk PT Pelita Paper Cengkareng pun rencananya juga akan melepas 20% saham.

Perjalanan kinerja industri pasar modal juga masih diramaikan kasus grup Bakrie soal sengketa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bumi Plc dengan salah satu pemegang sahamnya, Nathaniel Rothschild yang mengungkapkan adanya penyimpangan laporan keuangan yang dilakukan grup Bumi. Alhasil kasus ini berbuntut pajang hingga upaya menjatuhkan satu sama lain. Teranyar, Nathaniel Rothschild, menyatakan konsorsium yang ia pimpin akan menyuntikkan dana hingga sebesar US$ 270 juta (Rp 2,5 triliun) kepada Bumi Plc jika dewan komisarisnya berani memutuskan hubungannya dengan Grup Bakrie.

Perusahaan yang dulu bernama Vallar Plc itu sudah menerima dua proposal, satu lagi Rothschild, satu dari lagi Grup Bakrie yang menguasai 23,8% di perusahaan tersebut.

Grup Bakrie menawarkan untuk melepas hubungan dengan Bumi Plc melalui pembelian kembali saham-saham yang dipegang Bumi Plc di aset-asetnya di Indonesia senilai US$ 1,2 miliar. Yaitu melalui pembelian kembali 29% saham BUMI juga 85% kepemilikan di PT Berau Coal Tbk (BRAU) yang keduanya merupakan anak usaha Bumi Plc. Pembelian akan dilakukan secara bertahap. Masing-masing nilainya US$ 278 juta dan US$ 950 juta.

Iuran OJK

Kemudian terakhir soal penolakan keras Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) soal iuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dibebankan kepada emiten. Ketua AEI Airlangga Hartarto mengatakan, iuran OJK harus berdasarkan aktivitas, hal ini dimaksudkan agar tidak memberatkan keuangan perusahaan, “Dulu waktu Bapepam tidak dikenakan iuran, kenapa sekarang jadi kena iuran," katanya.

Menurutnya, OJK bisa lebih baik dari Bapepam-LK, sehingga memberi keyakinan bagi emiten dan perusahaan publik dalam pasar modal. "OJK harus membuktikan bisa lebih baik ketimbang sistem sebelumnya,”tuturnya. bani

BERITA TERKAIT

Jaga Pertumbuhan Pasar Modal - OJK Siapkan Tiga Inisiatif Penting

NERACA Jakarta – Menjaga kepercayaan investor pasar modal di tahun politik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berbenah diri dalam rangka…

Revitalisasi Pasar Dorong Peningkatan Penerimaan Daerah

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Candra Fajri Ananda meyakini revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan pemerintah dapat mendorong peningkatan retribusi pajak…

Kayu Olahan Indonesia Didorong Kuasai Pasar Global

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) secara konsisten berupaya memacu produk potensial Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Meski Impor Gula Naik 216%, NPI Surplus US$0,33 Miliar

NERACA Jakarta- Meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia (NPI) Februari 2019 surplus sebesar US$ 0,33 miliar, impor…

PEMERINTAH DAN PENGUSAHA KECEWA KEBIJAKAN UE - CPO Dinilai Bukan Produk Bahan Bakar

Jakarta-Pemerintah dan pengusaha sawit merasa prihatin dan akan mengambil langkah tegas terhadap putusan Komisi Uni Eropa terkait kebijakan minyak sawit…

Ditjen Pajak Lacak WP Nasabah di 94 Negara - KEMENKEU SIAP PANGKAS FORM LAPORAN SPT 2020

Jakarta-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu akan bisa melacak data wajib pajak (WP) yang menjadi nasabah jasa keuangan luar negeri di 94 negara.…