Kurikulum Pendidikan Indonesia Harus Berwawasan Wirausaha

Penyampaian dan penerapan metode pendidikan kewirausahaan yang tepat, membuat para siswa dapat mengerti bagaimana harus melangkah dengan ilmu yang mereka dapatkan dari sekolah ketika lulus nanti.

NERACA

Wirausaha merupakan sebuah elemen penting dalam pembangunan bangsa, diantaranya untuk menciptakan kesempatan kerja dalam skala besar, mengurangi angka pengangguran, meningkatkan pembangunan ekonomi, mengurangi konsentrasi kekuasaan ekonomi, dan turut membangun Indonesia secara keseluruhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausahawan di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 1,56% dari jumlah populasi yang ada. Padahal, berdasarkan teori David McLelland, seorang Sosiolog Pembangunan, sebuah negara dapat dikatakan makmur bila 2% dari jumlah populasinya merupakan wirausahawan.

Rendahnya jumlah wirausahawan di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Untuk itu, pendidikan di Indonesia ditargetkan pada “normalisasi” atau kesetaraan, dan jarang mendorong siswa dalam mengembangkan potensi mereka.

"Semangat kewirausahaan di Indonesia menghadapi tantangan dalam pendidikan,dimana pendidikan cenderung mencegah siswa untuk berani dalam mengambil risiko, tidak mentolerir kegagalan, pilihan spesialisasi yang terbatas," ujarHead of Human Development Unit of World Bank,Mae Chu Chang.

Ya, selama ini pendidikan kewirausahaan di Indonesia hanya berorientasi pada penilain ranah kognitif saja. Materi tentang kewirausahaan hanya disampaikan sebatas teori. Metoda pembelajaran yang dalam penerapannya membawa siswa untuk mempraktekkan langsung teori-teori tentang kewirausahaan pun dinilai masih kurang. Akibatnya, prosentase aplikasi atau penerapan ilmu di dunia usaha masih amat sangat minim.

Seperti pernyataan yang dilontarkan Dekan Sampoerna School of Education (SSE), Prof. Dr Paulina Pannen misalnya, pendidikan kewirausahaan itu sudah dimulai sejak akhir 90-an dan di tahun 2008-2009 sudah ada paket-paket yang dimasukkan oleh Dikti mengenai pendidikan kewirausahaan.

Ironisnya, upaya-upaya tersebut hanya diterjemahkan sebagai modul pengembangan mata kuliah saja. Sejak itu hingga sekarang, pendidikan kewirausahaan di Indonesia seolah-olah meredup atau tidak menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Pada akhirnya, kita kekurangan orang yang berdaya pikir kreatif, analitis, berani mengambil keputusan dan resiko, dan lain sebagainya.

Seorang pemerhati pendidikan, Lukman Hakim, S.pd, menyatakan, permasalahan yang ada itu harus segera dicarikan solusinya. Caranya, dengan melakukan penanaman karakter kewirausahaan sejak dini, sehingga perlu diadakan perubahan mendasar tentang pembelajaran kewirausahaan di sekolah.“Bukan hanya teori saja tetapi harus lebih banyak praktik,” ujarnya.

Karena, peserta didik yang memiliki jiwa kewirausahaan pastinya merupakan orang yang percaya diri, berorientasi tugas dan hasil, berani mengambil resiko, berjiwa kepemimpinan, berorientasi kedepan, dan keorisinilan.

Salah satu upaya untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan adalah dengan memasukkan muatan lokal produk inovatif dalam kurikulum sekolah, dimana setiap siswa diwajibkan membuat satu karya produk inovatif.Produk ini memiliki sifat untuk memudahkan dan mendukung suatu pekerjaan atau kegiatan yang berhubungan dengan keadaan keseharian, atau memiliki sifat menghibur dan menyenangkan dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Kemudian, terus dikembangkan sedemikian rupa sampai dapat diimplementasikan secara nyata kepada masyarakat. Efektifitas proyek produk inovatif antara lain melatih berpikir dan bertindak kreatif dan inovatif, menumbuhkan jiwa wirausaha, dan melatih kemampuan penyelesaian masalah.

Selain mengintegrasikan ke dalam muatan lokal, program pendidikan disekolah dapat diinternalisasikan melalui berbagai aspek, seperti mengintegrasikan dalam semua mata pelajaran, memadukan dengan kegiatan ekstrakurikuler, melalui pengembangan diri, mengubah paradigma belajar dari teori ke praktik, dan mengintegrasikan ke dalam bahan ajar. Seandainya cara-cara itu dapat dilaksanakan dengan konsisten, maka 2% dari penduduk Indonesia menjadi pengusaha, bukanlah hal yang mustahil.

BERITA TERKAIT

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Menko PMK - Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM

Puan Maharani Menko PMK Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM Depok - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)…

Tutup CGV di Mall of Indonesia - Graha Layar Masih Agresif Buka Layar Baru

NERACA Jakarta –PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) menutup kegiatan operasional layar lebar CGV di pusat perbelanjaan Mall Of I…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…