Galangan Kapal Nasional Peroleh Peluang dari Hulu Migas - Sejalan dengan Asas Kabotase

NERACA

Jakarta – Besarnya porsi kegiatan industri hulu minyak dan gas yang berlangsung di lepas pantai menjadi peluang bagi galangan kapal nasional. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) memperkirakan, hingga tahun 2015 dibutuhkan 235 kapal untuk menunjang kegiatan hulu migas.

“Peluang bagi galangan kapal nasional sangat besar karena sekitar 70 persen kegiatan industri hulu migas dilaksanakan di offshore (lepas pantai),” kata Deputi Umum, BPMIGAS AS Rizal Asir, saat membuka workshop “Galangan Kapal Nasional dalam Mendukung Kegiatan Hulu Migas” di Jakarta, Rabu (11/5).

Dia menjelaskan, ke depan kegiatan di lepas pantai untuk mencari cadangan migas baru akan semakin marak, khususnya di wilayah timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Hal ini mengingat cekungan-cekungan di daratan sudah memasuki fase penurunan alami karena telah berproduksi sejak sebelum tahun 1970.

Berdasarkan data BPMIGAS, saat ini terdapat 526 kapal yang dioperasikan secara rutin untuk menunjang kegiatan operasi produksi. Jumlah tersebut masih ditambah dengan kapal pendukung kegiatan eksplorasi yang berjumlah sekitar 100 kapal.

Jenis kapal yang beroperasi bervariasi, mulai dari kapal penunjang seperti tug boat, crew boat, dan anchor handling tug & supply (AHTS), kemudian kapal penampung, semisal floating storage and offloading (FPO), floating production, storage, and offloading (FPSO), dan floating LNG, hingga kapal untuk kegiatan proyek migas (kategori C) semisal, pipe lay barge, drilling ship, survey vessel, dan jack up rig. “Kebutuhan kapal tersebut sebisa mungkin dilakukan di dalam negeri oleh galangan kapal nasional,” katanya.

Rizal mengatakan, kebijakan ini sejalan dengan asas cabotage yang diamanatkan Undang-undang Pelayaran bahwa kapal yang beroperasi di perairan Indonesia harus berbendera Indonesia. “Kami berharap dalam 2-3 tahun ke depan, telah banyak pengusaha dalam negeri yang memiliki kapal kategori C,” katanya.

Meski peluang pengembangan industri sangat terbuka, dia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak mudah. Operasi migas lepas pantai membutuhkan teknologi, modal, dan sumber daya yang melebihi persyaratan kualifikasi lapangan migas di daratan.

Di tempat yang sama, Kepala Divisi Pengadaan dan Manajemen Aset BPMIGAS Pandji A Ariaz menjelaskan, BPMIGAS mencoba menjembatani dan mempertemukan semua pihak terkait untuk menyelesaikan kendala-kendala yang dihadapi.

“Kontraktor migas diminta membuka diri mengenai apa saja kapal yang dibutuhkan, sementara galangan kapal dan industri penunjangnya mengungkapkan kemampuan apa yang sudah dimiliki dan seperti apa potensi yang bisa dikembangkan,” terangnya.

Dia mengaku juga melibatkan perbakan nasional untuk pembiayaannya. Diharapkan, dari sinergi ini akan diketahui sejauh mana gap antara kemampuan galangan kapal nasional dengan kebutuhan kontraktor migas.

Pandji menambahkan, BPMIGAS selalu berusaha memaksimalkan penggunaan produksi dan kompetensi dalam negeri, serta mengusahakan pelaksanaan pekerjaan dilakukan di dalam wilayah RI. “Dukungan diberikan tanpa mengesampingkan alokasi proyek dan target produksi yang telah ditetapkan,” kaya Pandji. Workshop diikuti 50 peserta yang berasal dari perusahaan galangan kapal, pemilik kapal, industri baja, perbankan nasional, dan kontraktor kontrak kerja sama.

Sebelumnya, Pertamina berencana menambah 47 kapal pengangkut bahan bakar minyak dan LPG selama kurun waktu 2008-2014. Sepuluh diantaranya dipesan dari China yang bakal rampung dalam dua tahun. Hal ini juga menjadi peluang penyediaan komponen dan perawatan bagai galangan kapal. Sayangnya, mereka masih menghadapi keterbatasan peralatan terutama crane yang sudah berusia tua. Untuk mereparasi kapal dengan tangki seberat 400 ton saja dibutuhkan crane berkapasitas 500 ton.

Total kapasitas terpasang galangan kapal nasional sejak 2005 sampai 2009 mencapai 650 ribu dead weight ton (DWT). Sedangan pada 2010, kapasitas terpasang sempat ditargetkan hingga 850 ribu-1 juta DWT dan kemudian meningkat menjadi 1,5 juta DWT untuk 2011.

BERITA TERKAIT

Covid-19 Meluas,Pemerintah Menjaga Produktivitas Industri

NERACA Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri dapat beperan aktif dalam upaya penanganan virus korona (Covid-19)…

Cegah Penyebaran COVID-19, Pertamina Sterilkan Tabung LPG

NERACA Semarang - Dalam rangka mencegah penyebaran infeksi Virus Corona (Covid-19), PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region IV wilayah…

Petani Milenial Siapkan Layanan Antar Produk Pangan

NERACA Jakarta - Virus Covid-19 telah menjangkit ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah pun sudah mengimbau masyarakat untuk menjalankan protokol…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Covid-19 Meluas,Pemerintah Menjaga Produktivitas Industri

NERACA Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri dapat beperan aktif dalam upaya penanganan virus korona (Covid-19)…

Cegah Penyebaran COVID-19, Pertamina Sterilkan Tabung LPG

NERACA Semarang - Dalam rangka mencegah penyebaran infeksi Virus Corona (Covid-19), PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region IV wilayah…

Petani Milenial Siapkan Layanan Antar Produk Pangan

NERACA Jakarta - Virus Covid-19 telah menjangkit ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah pun sudah mengimbau masyarakat untuk menjalankan protokol…