Hasilkan Rupiah dengan Bisnis Bimbel

Bagi masayarakat kota besar, Bimbel bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pendidikan anak. Tetapi, kini sudah bergeser ke gaya hidup. Tak heran, jika kini para orangtua berlomba-lomba menyertakan anak-anaknya di Bimbel ternama.

NERACA

Mungkin, masih lekang di ingatan, ketika memasuki era 1990-an, para orangtua sering kali mengatakan kalau anak mereka sekarang tidak cukup lagi hanya mengenyam penidikan disekolah saja, tetapi juga perlu menimba ilmu di luar sekolah.

Ya, seiring perkembangan zaman, pendidikan dan pembelajaran yang diperoleh anak-anak di bangku sekolah rasanya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan dan minat pengetahuan si anak sendiri. Dari sinilah perlahan hadir lembaga-lembaga pendidikan nonformal atau di luar sekolah yang bidangnya pun beraneka ragam.

Dahulu, bimbel lebih dikenal dengan istilah kursus, akibat banyak diminati perkembangan bimbel tumbuh menjadi industri yang menghasilkan profit. Terlebih setelah diakui sebagai salah satu bagian dalam sistem pendidikan nasional, tepatnya bagian dari model pendidikan nonformal, seperti tertuang pada Pasal 26 Ayat 4 dan Pasal 62 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003.

Kementerian Pendidikan Nasional yang menaunginya lewat Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, menerbitkan Peraturan Kementerian Pendidikan Nasional No.30 Tahun 2005 tentang Badan Akreditasi Nasional (BAN) Pendidikan Non Formal (PNF) yang menetapkan delapan komponen layanan pendidikan bermutu.

Hal itu tentunya kian membuat pendidikan sebagai salah satu bisnis yang menjanjikan profit besar dan tidak terpengaruh terhadap situasi perekonomian yang ada. Pasalnya, kini pendidikan tak ubahnya kebutuhan primer kehidupan.

Bahkan, bagi masyarakat menengah atas di Jakarta dan kota besar lainnya, pendidikan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dari segi ekonomi, pada kenyataannya bisnis ini dapat berkembang secara signifikan di Jakarta.

“Yang membuat bisnis ini kian berkembang, karena telah menjadi kebutuhan sebagaian besar masyarakat, bahkan sudah menjadi gaya hidup,” sebut prkatisi pendidikan Muhammad Qudrat Nugraha yang juga dosen di Universitas Bina Nusantara.

Ketatnya Persaingan

Persaingan bisnis antar lembaga kursus atau Bimbel di Jakarta sudah sedemikian ketat. Sejauh ini, semua itu bersifat positif dan mampu memacu masing-masing untuk memberikan kualitas dan pelayanan pendidikan yang terbaik sesuai yang dibutuhkan.

Ya, agar dapat bertahan, yang dibutuhkan adalah kualitas pendidikan yang diberikan itu harus tetap terjaga. Pasalnya, orangtua sekarang ini banyak yang kritis terhadap pendidikan yang diberikan pada ank-anaknya. Untuk itu pengelola bisnis harus memperhatikan hal ini agar dapat bersaing dengan tempat lainnya.

Dengan demikian, faktor tenaga pengajar atau SDM yang dimiliki juga harus pula berkualitas. Jangan asal mengambil SDM, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, SDM yang mumpuni akan mampu memberikan pendidikan yang baik, sesuai dengan kurikulum yang diusung sebuah lembaga pendidikan.

Nah, saat ini jenis Bimbel yang diminati adalah pendalaman materi sekolah seperti matematika, fisika, kimia dan lain sebagainya. Semua itu biasanya mulai marak saat anak-anak menjelang Ujian Nasional dan lain sebegainya.

Selain itu, beberapa kursus bahasa, seperti bahasa mandarin, Inggris dan lain sebagainya. Saat ini juga masih sangat diminati. Makanya, hal itu membuat peluang bisnis di dunia pendidikan tak pernah mati. Bahkan, kabarnya sebuah Bimbel bisa memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulannya. Menarik bukan? Ingin mencoba?

BERITA TERKAIT

Sequis Luncurkan Produk Asuransi dengan Perlindungan Hingga Rp90 miliar

    NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sequis Life meluncurkan produk asuransi kesehatan dengan perlindungan hingga Rp 90…

LG Perkenalkan Monitor dengan Kecepatan 1 Milisecond

    NERACA   Jakarta - LG Electronics (LG) menyatakan kesiapannya untuk segera memasarkan dua monitor gaming terbarunya. Hadir dengan…

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan dengan SN

Kasus SAT Tidak Bisa Dikaitkan dengan SN NERACA Jakarta - Kasus Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT) sangat berlainan dan tidak bisa…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…