Fundamental Ekonomi Mengerek Pertumbuhan Investasi Saham Melesat - Sektor Properti Menjadi Idola di 2013

NERACA

Jakarta – Target pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% di 2013 menjadi peluang keyakinan bagi pelaku pasar bila pertumbuhan industri pasar modal juga akan seirama dengan positifnya pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, banyak pelaku pasar bila target kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa melesat dari tahun ini.

Kata pengamat pasar modal Michael Tjoajadi, prospek investasi saham di pasar modal Indonesia pada 2013, diyakini masih memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, “Prospek investasi saham pada 2013 memiliki ruang tumbuh yang cukup tinggi. Saham sektor infrastruktur, properti, dan barang konsumsi masih menjadi penopang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," katanya di Jakarta, Senin (17/12).

Dia menjelaskan, potensi pertumbuhan kinerja saham dari sektor properti sudah terlihat dari awal 2012 hingga akhir kuartal III tahun ini. Sektor properti mencatatkan pertumbuhan laba bersih per saham (earning per share/EPS) tertinggi dibandingkan sektor lainnya, yakni sekitar 57% dan kinerja indeks sektor properti secara "year to date" naik 53,8%.

Menurutnya, pendapatan emiten properti akan meningkat dan harga sahamnya diperkirakan mulai diapresiasi investor pada awal 2013 jika ekonomi nasional tidak terganggu.

Sementara analis PT Recapital Securities Agustini Hamid menuturkan, kinerja IHSG pada 2013 diperkirakan masih memberikan imbal hasil yang menarik akibat pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga yang didukung oleh konsumsi domestik dan stimulus infrastruktur, “Indeks BEI ditargetkan dapat mencapai level 5.000-5.500 poin,”ungkapnya.

Dia menuturkan, kebijakan tingkat suku bunga rendah yang dilakukan semua negara dan "quantitative easing" yang dilakukan AS berdampak terhadap adanya dana asing yang masuk (capital inflow) ke dalam negeri, “Imbal hasil dan pertumbuhan kinerja emiten di bursa Indonesia masih menarik untuk dikoleksi. Sektor pilihan adalah sektor konsumsi, semen, infrastruktur, konstruksi, perbankan, serta perdagangan,”jelasnya.

Meski demikian, kata Agustini, risiko yang perlu diperhatikan, yakni perlambatan ekonomi global yang berlanjut dan penyelesaian Eropa yang berlarut-larut.

Indeks Tembus 4500 Poin

Sebelumnya, CEO Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo pernah mengatakan, ekspektasi IHSG yang diproyeksikan dapat mencapai level 4.000-4.500 di akhir tahun 2012 dinilai dapat membawa IHSG untuk menembus level 5.000 di tahun depan. Meskipun demikian, penguatan tersebut perlu diantisipasi mengingat ada beberapa sektor yang berpotensi terkoreksi.

Dia menjelaskan, hingga Desember 2012 penutupan harian IHSG tertinggi mencapai level 4.378 sehingga berpeluang mengalami penutupan 4.400 di akhir tahun dan berlanjut ke level 4.500 pada Januari 2013. Sementara, jika tidak mencapai level tersebut, diperkirakan hanya akan mencapai batas minimalnya, yaitu pada kisaran 4.225-4.230.

Dari sisi teknikal, lanjut Lucky, peningkatan IHSG yang diprediksi akan mengalami penguatan di tahun depan, memungkinkan berpeluang terjadinya koreksi bagi beberapa sektor yang saat ini mengalami penguatan (rebound) sehingga perlu diantisipasi, seperti infrastruktur dan properti. “Untuk sektor infrastruktur tetap akan up trend, tapi perlu diansipasi karena penjualan sudah terjadi sejak Oktober dan menunjukkan sell lebih banyak dari buyer.” jelasnya.

Dirinya juga sepakat dengan Michael Tjoajadi, sektor properti berpotensi mengalami koreksi 11% dengan melihat beberapa emiten yang menunjukkan volume perdagangan yang mulai menyempit dan harga yang sudah terlalu tinggi.

Lucky mengatakan, selain kedua sektor tersebut, sektor yang masih mungkin mengalami penguatan secara positif, yaitu sektor manufaktur dikarenakan volume jual dan beli yang terjadi pada sektor ini cukup tinggi. Adapun untuk emiten berbasis agribisnis, sejauh ini masih layak dikoleksi, namun dengan prinsip kehati-hatian karena minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai underlying-nya mengalami penurunan.

Proyeksi pertumbuhan IHSG juga diamini oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Pardomuan Sihombing. Dia mengatakan, IHSG diperkirakan dapat mencapai level 4.500. Bahkan dia memproyeksikan, secara fundamental, pertumbuhan IHSG tahun depan dapat menembus di kisaran 5.000-5.500.

BERITA TERKAIT

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

Menjaga Pertumbuhan Bisnis - Setelah Gojek, BIRD Terbuka Berkolaborasi

NERACA Jakarta –Menjaga eksistensi PT Blue Bird Tbk (BIRD) ditengah ketatnya persaingan bisnis transportasi onlinel, maka kolaborsai menjadi pilihan yang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…