Lembek Pengawasan, Otoritas Pasar Modal Belum Berfungsi - Sengketa BUMI Belum Selesai

NERACA

Jakarta – Belum terselesaikannya kasus sengketa PT Bumi Resources Tbk dengan Nathaniel Rothschild sebagai salah satu pemegang saham di Bumi Plc menjadi contoh kecil dan gambaran jelas betapa mandulnya peran otoritas pasar modal dalam pengawasan.

Hal tersebut disampaikan pengamat pasar modal Achmad Deni Daruri di Jakarta, Senin (17/12). Dia menjelaskan, permasalah kasus di industri pasar modal sampai saat ini belum ada yang terselesaikan dengan baik,”Kisruh pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI) memperlihatkan bahwa pasar modal hanya merupakan ajang rente dimana kekuatan politik merupakan kekuatan yang paling menentukan dalam perubahan rente ekonomi itu,"katanya.

Menurutnya, jika pengawas pasar modal tidak dapat menyelesaikan kasus ini secara tuntas maka tentunya perkembangan industrinya akan semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan bur-bursa negara lain.

Apalagi, lanjut dia, perdagangan bebas ASEAN segera akan dimulai, sehingga jika persoalan seperti itu tidak dapat diselesaikan secara cepat dan permanen maka dipastikan pasar modal Indonesia tidak akan mampu berbuat banyak sebagai sumber pendanaan pembangunan di Indonesia.

Kata Deni, konflik BUMI dan Sumalindo memperlihatkan transparansi di pasar modal Indonesia masih lemah. Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mampu membawa transparansi emiten dan perusahaan publik yang setara dengan level negara maju dunia seperti Hong Kong, London, dan new York, “Informasi yang dikeluarkan selama ini menimbulkan banyak interpretasi. Secara politik, Bapepam-LK menunda-nunda kasus agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan menyelesaikan kasusnya,”ujarnya.

Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pihaknya tidak mempunyai wewenang untuk ikut campur tangan dalam kisruh tersebut, “Kasus mereka merupakan konflik pemegang saham, kami tidak bisa ikut campur,"tegasnya.

Ito menuturkan, pihaknya tidak melakukan suspensi (penghentian perdagangan saham sementara) terhadap saham Bumi Resources (BUMI) karena belum menerima adanya kerugian dari investor. Sebelumnya, industri pasar modal dalam negeri juga dikritik oleh Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) karena minimnya kontribusi terhadap sektor keuangan.

Ketua Bidang Pengkajian Perbanas Raden Pardede pernah bilang, kontribusi pasar modal di sektor keuangan tidak mengalami signifikan dan diminta untuk lebih ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan sektor lainnya, “Pasar modal perlu dipacu pertumbuhannya, kemampuan pasar modal dalam penyediaan likuiditas masih terbatas sekitar Rp30 triliun per tahun, padahal pertumbuhan di sektor lain cepat,”tandasnya.

Menurutnya, pasar modal yang dapat berkembang lebih baik, maka industri perbankan juga akan mengalami hal sama. Pasar modal perlu dikembangkan dikarenakan bank tidak dapat berkembang tanpa pasar modal.

Dia mengemukakan, industri perbankan saat ini menguasai sekitar 70% dari pangsa pasar di sektor keuangan, ke depannya diharapkan kontribusi pasar modal dapat seimbang dengan industri perbankan. (bani)

BERITA TERKAIT

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Moodys Pangkas Peringkat Alam Sutera

NERACA Jakarta - Perusahaan pemeringkat Moody’s Investor Service menurunkan peringkat utang PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dari menjadi Caa1…

Express Trasindo Masih Merugi Rp 275,5 Miliar

NERACA Jakarta –Persaingan bisins transportasi online masih menjadi tantangan bagi PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI). Performance kinerja keuangan perseroan…

Martina Berto Bukukan Rugi Rp 66,94 MIiliar

NERACA Jakarta –Bisnis kosmetik PT Martina Berto Tbk (MBTO) sepanjang tahun 2019 kemarin masih negatif. Pasalnya, perseroan masih membukukan rugi…