Menyelamatkan Kinerja Indomobil di Tangan Gallant Venture - Siapkan Dana Akuisisi Rp 7,7 Triliun

NERACA

Jakarta – Melesatnya bisnis industri otomotif di dalam negeri menjadi pasar menjanjikan kedepan, seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan juga fundamental ekonomi yang kuat. Terlebih, pertumbuhan industri otomotif saat ini telah melebih targetnya sebesar 1 juta unit kendaraan.

Cerahnya prospeknya bisnis otomotif dalam negeri, menjadi alasan perusahaan investasi asal Singapura, Gallant Venture Ltd berencana mengakuisisi PT Indomobil Sukses International (IMAS). Dalam siaran persnya di Jakarta, akhir pekan kemarin, Gallant Venture bakal membeli 52% saham distributor otomotif Indonesia tersebut.

Nilai akuisisi PT Indomobil Sukses International Tbk ditaksir mencapai US$ 809,3 juta atau sekitar Rp 7,7 triliun. Berdasarkan laporan Gallant kepada bursa saham Singapura, saham yang akan dibeli Gallant itu saat ini dipegang oleh PT Cipta Sarana Duta Perkasa. Nantinya, dana yang digunakan untuk akuisisi ini merupakan hasil rights issue senilai US$ 553 juta yang baru saja dilangsungkan oleh Gallant. Sementara tambahan dana lainnya akan didapat Gallant dari pinjaman perbankan dan penerbitan obligasi.

Sesuai dengan peraturan bursa, Indomobil harus melakukan penawaran tender alias tender offer untuk sisa saham Indomobil yang beredar di pasar. Disebutkan, akuisisi ini memberi kesempatan kepada pemegang saham untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan industri ritel dan industri segmen kelas menengah.

Disamping itu, investasi ini juga memberi kesempatan kepada perusahaan masuk ke sektor finansial yang kabarnya masih bisa tumbuh cukup tinggi. Sebagai informasi, Indomobil merupakan satu dari dua raksasa otomotif di Indonesia. Lini bisnis utamanya adalah penjualan dan kredit kepemilikan mobil. Emitem berkode IMAS itu punya lisensi untuk beberapa merek mobil, seperti Audi, Nissan, Renault dan Suzuki.

Pangkas Penjualan

Sebelumnya, analis CIMB Securities Erwan Teguh dan Cindy Effendi pernah bilang, terberat bagi Indomobil adalah memangkas target penjualan dan laba Indomobil sepanjang 2012-2014. Target penjualan perseroan tahun ini direvisi turun dari Rp 22,87 triliun menjadi Rp 21,94 triliun. Sedangkan proyeksi laba bersih dipangkas dari 1,24 triliun menjadi Rp 1,09 triliun.

Selain itu, margin kotor perseroan juga diperkirakan turun dari 12,4% menjadi 12,2% dan margin bersih dipangkas dari 5,4% menjadi 5,0%. “Margin keuntungan dari bisnis penjualan roda empat Indomobil juga cenderung turun akibat kenaikan beban kampanye untuk produk Nissa Juke dan March setelah dilanda sejumlah masalah,”paparnya.

Selain memangkas target laba, CIMB Securities menyebutkan, ratarata pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) Indomobil ikut direvisi turun menjadi 31% sepanjang tahun ini. Sedangkan rata-rata pertumbuhan EPS tahun depan diharapkan pulih dengan pertumbuhan sekitar 53%.

Asal tahu saja, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk pernah melakukan transaksi pengambilan bagian atas pengeluaran saham tambahan dalam PT Wahana Inti Selara (WISEL) (afiliansi perseroan) sejumlah 5.110 saham atau senilai Rp5,110 miliar.

Disebutkan, Wahana Inti Selara meningkatkan modal sebesar Rp36 miliar dengan jumlah 36.000 saham, menjadi sebesar Rp65 miliar dengan jumlah 65.000 saham dengan nilai nominal sebesar Rp1 juta. Adapun alasan dilaksanakannya transaksi karena WISEL merupakan perusahaan yang profit dan mempunyai prospek usaha yang baik. Sehingga adanya peningkatan modal ini secara tidak langsung akan membawa dampak positif terhadap laporan keuangan konsolidasian perseroan secara keseluruhan, dan hal tersebut akan memberikan manfaat terhadap pemegang saham publik perseroan.

Disamping itu, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) juga menyuntik anak usahanya, PT Indomobil Wahana Trada (IWT) senilai Rp256 miliar. Sebelumnya, IWT melakukan peningkatan modal dasar yang semula sebesar Rp600 miliar menjadi Rp1 triliun. Sementara modal ditempatkan dan disetor yang semula Rp379 miliar terbagi atas 379 ribu saham menjadi Rp635 miliar atas 635 ribu saham. (bani)

BERITA TERKAIT

Akuisisi 56,77% Saham Phapros - Kimia Farma Anggarkan Dana Rp 1-1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mengakuisisi 56,77% saham Phapros yang dimiliki PT Rajawali Nusantara…

Pasca Dana Desa dan Kelurahan, Kini Muncul Dana Kecamatan

  NERACA   Jakarta – Dana desa dan dana kelurahan sudah digelontorkan oleh pemerintah, kini dana kecamatan ikut dikaji oleh…

Soal Sentimen Pemilu - BEI Lebih Cemas Kinerja Keuangan Emiten

NERACA Jakarta – Memanasnya konstelasi politik dalam negeri jelang pemilihan presiden (Pilpres) pada awal April 2019, diyakini tidak akan terlalu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…