Industri Petrokimia Bakal Sulit Berkembang - Pasokan Bahan Baku Minim

NERACA

Jakarta - Industri petrokimia sangat membutuhkan bahan baku seperti naphtha dan kondensat. Namun keadaanya pasokan kedua bahan baku tersebut semakin sedikit serta minimnya lahan. Karena itulah, pemerintah mengakui, minimnya bahan baku tersebut bakal membuat industri petrokimia sulit berkembang.

"Minimnya bahan baku baku seperti naphtha serta kondesat menjadi salah satu hambatan untuk meningkatkan pertumbuhan industri petrokimia nasional. Selain itu, kemampuan produksi crude di dalam negeri semakin menurun sehingga feed untuk pembangunan kilang baru harus diimpor," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto, dalam diskusi Proyeksi Industri Petrokimia Nasional 2013, di Kementerian Perindustrian, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, salah satu syarat utama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri petrokimia adalah dengan membangun kilang sebagai tempat penyimpanan bahan bakunya. "Hingga saat ini, penyediaan lahan dan infrastruktur bagi pembangunan kilang tidak mudah karena memerlukan kontribusi pemerintah daerah dalam penyediaan lahan. Sedangkan untuk biaya investasi kilang sangat tinggi dan memerlukan skema pendanaan yang menarik,” paparnya.

Panggah menjelaskan, pengembangan industri petrokimia difokuskan pada penguatan struktur dari hulu ke hilir melalui pembangunan industri petrokimia dasar yang memanfaatkan cadangan minyak, gas dan batu bara. "Perlu koordinasi kebijakan dalam pemanfaatan minyak dan gas bumi untuk kepentingan energi dan bahan baku petrokimia. Pengembangan industri petrokimia di luar Jawa perlu didukung infrastruktur dan insentif keringanan pajak dan kebijakan fiskal," tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Panggah, ketergantungan impor migas dan petrokimia mencapai US$34 miliar sangat rawan terhadap keberlangsungan pengembangan industri petrokimia dan logam dasar. Untuk itu harus diupayakan menggali potensi migas di dalam negeri dengan membangun kilang minyak baru. “Ini rawan tak hanya membebani APBN juga mengancam kelangsungan industri logam dasar dan petrokimia kita,” ungkapnya.

Berikan Insentif

Untuk menarik minat investasi pembangunan kilang, lanjut Panggah, pemerintah akan memberikan insentif pengurangan pajak seperti tax holiday, tax allowance dan pembebasan bea masuk barang modal. “Insentif tax holiday berdasarkan PMK No.130 2011 tentang pemberian fasilitas pembebasan pajak penghasilan badan untuk lima sektor pionir seperti industri logam dasar, kilang minyak, permesinan, sumber daya terbarukan dan peralatan komunikasi,” ujarnya.

Pemerintah juga mengusulkan sektor industri hulu petrokimia mendapatkan fasilitas pembebasan pajak (tax holiday) selama 10 tahun untuk meningkatan produksi dalam negeri dan mengurangi impor produk petrokimia. Kemenperin fokus mengembangkan industri petrokimia agar mampu memberi nilai tambah dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik. "Saat ini, kebutuhan produk petrokimia di dalam negeri seperti polypropylene, butadiene, maupun kondensat masih dipenuhi dari impor yang mencapai US$5,5 miliar per tahun," kata Panggah.

Panggah menjelaskan produksi petrokimia di dalam negeri hanya mampu memasok separuh kebutuhan saja. "Pengembangan industri hulu dalam negeri terus didorong melalui pemberian fasilitas fiskal berupa pembebasan pajak. Sejumlah perusahaan yang telah diusulkan ke Kementerian Keuangan untuk menerima keringanan pajak adalah Unilever dan Chandra Asri," paparnya.

Sementara itu Sekretaris Perusahaan PT Chandra Asri Tbk., Suhat Miyarso mengatakan, permintaan fasilitas tax holiday selama 10 tahun mampu meningkatkan investasi. Untuk pembangunan pabrik butadiene yang masih dalam proses untuk memperoleh tax holiday ditargetkan selesai pada 2013 dengan tambahan kapasitas pengolahan sebesar 50 ribu ton per tahun yang akan selesai pada 2014.

"Untuk penambahan investasi, salah satunya di industri hilir, yaitu penambahan investasi pada salah satu pabrik bahan baku pembuatan polyethylene dengan kapasitas pengolahan sekitar 70 ribu ton per tahun, serta methyl tert butyl ether (MTBE) sekitar 90 ribu ton per tahun," katanya.

Suhat mengatakan berbagai produk industri kimia seperti ban, keramik, tekstil, kemasan plastik dan cat telah berhasil menembus pasar internasional dan memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa negara. "Pada masa mendatang diharapkan produk-produk andalan tersebut mampu mengembangkan penguasaan pasar maupun kemampuan teknologi yang semakin efisien," tandasnya.

BERITA TERKAIT

Iklim Investasi Sektor Industri Perlu Terus Dijaga

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya membuat kebijakan strategis untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya ini salah satunya…

Pameran Industri TPT Siap Dongkrak Investasi di Indonesia

  NERACA   Jakarta - Peraga Expo kembali menggelar pameran industri TPT (Tekstil dan ProdukTekstil) terintegrasi bertaraf internasional terlengkap yakni…

Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…