Penjualan Otomotif Masih Menumpuk di Jawa

NERACA

Jakarta - Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yongkie D. Sugiarto mengatakan bahwa penyebaran populasi kendaraan di Indonesia masih adanya ketimpangan. Pasalnya sebesar 70% penjualan kendaraan bermotor masih didominasi Pulau Jawa.

"Saat ini, pola pengembangan transportasi masih terpaku pada transportasi darat serta meningkatkan permintaan mobil di dalam negeri. Dari periode Januari sampai dengan November 2012, penjualan mobil sebesar 1.026.758 unit dan 70% terfokus di Pulau Jawa," ungkap Yongkie akhir pekan lalu.

Kendati terjadi ketimpangan, lanjut Yongkie, populasi dan pertumbuhan sebesar itu menjadikan Indonesia sebagai negara di Asean yang telah mencatatkan pertumbuhan populasi yang terus mengalami peningkatan.

"Perkembangan populasi kendaraan bermotor di Indonesia bergerak melebihi pertumbuhan panjang jalan di negeri ini. Panjang jalan di Indonesia hingga tahun lalu mencapai 368.360 kilometer," paparnya.

Namun demikian, menurut Yongkie, rasio kendaraan bermotor terhadap panjang jalan di Indonesia telah mencapai 138 unit per kilometer atau berada di bawah Thailand dan Vietnam. "Kalau di Thailand, itu mencapai 441 unit per kilometer dan Vietnam sebanyak 5.581 unit per kilometer. Namun rasio kendaraan bermotor terhadap panjang jalan di Indonesia masih lebih tinggi seperti Malaysia yang hanya 74 unit per kilometer, bahkan Filipina hanya 11 unit per kilometer," ucapnya.

Yongkie menambahkan, tingginya populasi kendaraan bermotor di Indonesia tidak lepas dari pesatnya pertumbuhan penjualan mobil. "Penjualan mobil tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur. Hal ini harus mendapat perhatian dari pemerintah," tuturnya.

Penyediaan Fasilitas

Sementara itu, pengamat otomotif Soehari Sargo menilai dengan naiknya penjualan otomotif harusnya diimbangi dengan penyediaan fasilitas dan penambahan infrastruktur jalan. Bukan malah sebaliknya membangun lahan-lahan komersial baru seperti mal, pusat perbelanjaan dan sebagainya yang justru malah menambah macet dan semrawut ibukota.

Sargo mengatakan jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembangunan jalan, maka kemacetan di ibukota akan semakin parah akibat tidak adanya penambahan jalan baru. Dari 9 juta penduduk di Jakarta, ibukota hanya menyediakan 6% lahan. Sementara dari 2 juta penduduk Tokyo, luas jalan mencapai 26%. "Jadi tidak mungkin orang membeli kendaraan tetapi dibatasi. Pemerintah harus membangun jalan-jalan baru, bukanya malah kebanyakan bangun mal," lanjutnya.

Sebelumnya, Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Gunadi Shinduwinata memaparkan dengan adanya kemacetan artinya menunjukan penjualan otomotif sedang bagus dan kemacetan menjadi indikasi pertumbuhan yang semakin baik. Konsumen, kanat Gunadi membeli kendaraan karena kebutuhan. "Kemacetan justru mendorong penjualan otomotif dan justru kemacetan akibat pengaruh pertumbuhan ekonomi," tambah dia.

Presiden Komisaris PT Indomobil Group Subrontol Laras menyatakan, walaupun Jakarta menghadapi perosalan benang kusut kemacetan akibat akses jalan yang terbatas, namun sebaliknya perkembangan luar biasa terjadi pada penjualan otomotif. Hal tersebut, menurut Subronto merupakan realitas bahwa kemacetan tidak ada sangkut pautnya dengan keinginan orang untuk membeli kendaraan.

"Memang luar biasa pertumbuhan kendaraan. Misalnya saja tahun ini, baru sampai Juni saja sudah terjual 418 ribu unit mobil. Artinya impian untuk menjual 800 ribu atau bahkan lebih dari itu adalah hal yang mungkin terjadi. Prediksi saya, pada 2013 penjualan mobil akan melebihi angka yang sekarang," tuturnya.

Dominasi MPV

Berdasarkan data Gaikindo, sekarang ini penjualan terbesar, di posisi pertama, masih dikuasai oleh pabrikan Jepang, Toyota yang mendominasi pasar mobil di Indonesia dengan market share mencapai 38%. Total penjualan mobil Toyota selama Januari sampai Maret tercatat sebanyak 96.050 unit. Kontributor terbesar atau yang memberikan angka penjualan tertinggi bagi PT Toyota Astra Motor, ATPM Toyota di Indonesia, tetap disumbangkan oleh mobil MPV terlaris yaitu Toyota Avanza.

Di peringkat kedua sampai kedelapan, ditempati oleh merk-merk mobil Jepang. Berurutan setelah Toyota adalah Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Nissan, Hino, Honda dan Isuzu.

Sebagai catatan, pada tahun-tahun sebelumnya Honda selalu berada di peringkat 5 besar, namun sejak ada bencana gempa di Jepang dan banjir di Thailand, ATPM Honda di Indonesia mengalami kekurangan supply dari pabrik Honda di Jepang dan Thailand, dan ini berpengaruh terhadap angka penjualan, sehingga posisi Honda sekarang berada di peringkat 7. Bahkan pada bulan sebelumnya, angka penjualan mobil baru Honda berada di bawah Isuzu.

BERITA TERKAIT

Bangun Pabrik di Jawa Tengah - PBID Targetkan Konstruksi Kuartal 1/2019

NERACA Jakarta – Rencana pembangunan pabrik baru di Jawa Tengah, terus di kejar progresnya oleh PT Panca Budi Idaman Tbk…

Dongkrak Penjualan - Passpod Gandeng Tokopedia dan LOKET

NERACA Jakarta - Perluas penetrasi pasar untuk mengerek pertumbuhan penjualan, PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) atau lebih dikenal Passpod…

Awal Tahun, NasionalRe Gelar Pelatihan Bagi Para Mitranya di Jawa Timur

Awal Tahun, NasionalRe Gelar Pelatihan Bagi Para Mitranya di Jawa Timur NERACA Jakarta - PT Reasuransi Nasional Indonesia atau NasionalRe…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…

GSP Bakal Dibahas Dengan Dubes Perdagangan AS

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat bakal membahas secara bilateral mengenai penerapan "Generalized…

Petani Minta Pemerintah Serap Produk Hortikultura Strategis

NERACA Jakarta – Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah menyerap produk hortikultura strategis seperti cabai agar petani tidak lagi terbebani…