Produksi Beras Ditargetkan Naik 6%

NERACA

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi beras 6% pada 2013 dibandingkan 2012 untuk mengejar target surplus.

"Kami berharap ada kenaikan 6%dan itu untuk mengejar surplus. Ini sekitar 74 juta ton untuk gabah kering giling. Kami harapkan tercapai," kata Menteri Pertanian Suswono usai penyerahan penghargaan Adi Karya Pangan Nusantara 2012 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara Jakarta, Jumat (14/12).

Mentan mengatakan, kenaikan produksi pada 2012 mendekati angka 5% sehingga diharapkan pada tahun berikutnya bisa meningkat. "Tahun ini berdasarkan angka ramalan II dan kelihatannya konsisten produksinya akan ada kenaikan 4,87% mendekati 5%. Kalau melihat indikator dari Pasar Cipinang, suplai lebih besar dari pada yang keluar,” kata dia seperti dilansir Antara.

Rata-rata 2.500 ton sampai 2.800 ton dalam situasi seperti ini jarang terlihat di Cipinang.

“Ini indikator produksi kita tahun ini sangat bagus meskipun ada pengunduran musim tanam. Ini tampaknya belum terpengaruh dan masih bisa di-cover oleh lahan-lahan rawa yang sebelumnya tidak bisa ditanami, namun menyusul musim kemarau jangka panjang, bisa ditanam juga. Jadi belum mengkhawatirkan" katanya.

Ketika ditanya mengenai berkurangnya lahan pertanian, Suswono mengatakan pihaknya juga mengkhawatirkan hal tersebut. Namun pemerintah akan mengambil sejumlah upaya untuk mencegah hal tersebut.

"Memang saya khawatirkan. Kami sendiri menyiapkan usul untuk moratorium. Kami berharap sampai tiga tahun karena menunggu tata ruang yang tidak selesai-selesai. Sementara konversi lahan terjadi terus menerus. Betapapun produksi pangan ditingkatkan kalau lahannya tidak ada jadi sia-sia," katanya.

Mentan menambahkan. Pihaknya berharap ada inpres soaol konversi lahan. “Seperti dulu ada moratorium lahan gambut itu, mudah-mudahan bisa terjadi pada pertanian lahan produktif karena terus terang miris begitu mudahnya mengonversi. Juga, saya khawatirkan daerah-daerah yang sudah menetapkan lahan pertanian berkelanjutan melalui Perda ternyata apa yang terjadi mereka hanya melihat untuk kebutuhan sendiri,” kata dia.

Dia mencontohkan sejumlah daerah yang hanya berusaha untuk mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa mau memikirkan kebutuhan daerah lain. “Misalnya, warganya kebutuhannya berapa, agar mencukupi, daerah itu butuh lahan sekian (hektare), Ini bahaya. Padahal ada daerah-daerah yang tidak bisa menghasilkan beras. Ini yang terus kita pantau. Daerah yang sudah menetapkan melalui Perda lahan pertanian berkelanjutan harus betul-betul memikirkan juga untuk daerah lain,” kata dia.

BERITA TERKAIT

Gelontorkan Investasi US$ 30 Juta - Darma Henwa Targetkan Produksi 17 Juta Ton

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) fokus untuk meningkatkan produksi di tengah beratnya tantangan di industri…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

Overburden Capai 55 Juta Ton - Samindo Klaim Produksi Lampaui Target

NERACA Jakarta -PT Samindo Resources Tbk (MYOH) telah merampungkan operasional overburden dan produksi tahun lalu dengan capaian melebihi target. Disebutkan,…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Permen PUPR Soal Rusun Akan Dijudical Review

        NERACA   Jakarta - Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Persatuan…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…