BI: Restrukturisasi Kredit Macet, Dana Segar Mengucur

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai isu kredit macet pada bank-bank BUMN dapat dikaitkan dengan kontribusinya pada APBN melalui jalur dividen. Bahkan, bila kredit macet dimaksud dapat dikembalikan melalui restrukturisasi, maka dapat mendatangkan likuiditas baru sebanyak Rp4,5 triliun, yang bisa digunakan untuk penyaluran kredit-kredit lainnya.

Likuiditas sebanyak Rp4,5 triliun dapat terealisasi bila dilihat berdasarkan data per Oktober 2012, jumlah kredit macet perbankan BUMN mencapai Rp14,69 triliun dan bagi BPD (Bank Pembangunan Daerah) mencapai Rp3,39 triliun, sehingga totalnya menjadi Rp18 triliun.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ronald Waas, mengungkapkan seandainya suku bunga dasar kredit (SBDK) saat ini sekitar 11%, maka keuntungan tambahan yang berpotensi diperoleh bank-bank BUMN dapat mencapai hampir Rp500 miliar. Pada akhirnya, isu ketidakpastian hukum ini sebenarnya adalah opportunity cost bagi bank-bank BUMN maupun bagi bank-bank BPD.

“Nilai yang sangat berarti bagi perekonomian bagsa yang akan lebih besar lagi apabila dasar hukumnya memiliki kepastian,” jelas Ronald di Jakarta, Kamis (13/12). Dengan demikian, isu ketidakpastian hukum yang sebenarnya adalah opportunity cost bagi bank-bank BUMN maupun bagi bank-bank BPD berada di angka Rp500 miliar.

Nilai ini sangat berarti bagi perekonomian bangsa akan lebih besar apabila dasar hukumnya memiliki kepastian. Adapun penyaluran kredit bank-bank BUMN dan BPD sampai Oktober 2012 mencapai Rp1.110 triliun dari total kredit perbankan nasional sebesar Rp2.585 triliun.

Seperti diketahui, isu ketidakpastian hukum muncul akibat belum sejalannya definisi dari kekayaan negara pada beberapa dasar hukum yang ada, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah bank-bank BUMN menjadi bagian dari keuangan negara sebagaimana diatur dalam UU No.49/1960 tentang PUPN.

“Akibat dari beberapa aturan ini bank-bank BUMN mengalami kesulitan dalam melakukan penanganan kredit bermasalah melalui restrukturisasi piutang yang sebenarnya merupakan proses bisnis yang alami dan normal dalam industri perbankan”, pungkas Ronald. [ardi]

BERITA TERKAIT

Harga IPO Rp 180 Per Saham - Citra Putra Realty Raup Dana Rp 93,6 Miliar

NERACA Jakarta – Resmi mengantungi pernyataan efektif untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dari Otoritas…

Buyback 9,29 Juta Saham - Arwana Realisasikan Dana Rp 3,29 Miliar

NERACA Jakarta – Perusahaan keramik, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) telah membeli kembali 9,29 juta saham lewat aksi korporasi buyback.…

Rencanakan Buyback Saham - Indo Straits Siapkan Dana Rp 1,95 Miliar

NERACA Jakarta - PT Indo Straits Tbk (PTIS) mengantungi izin dari pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali (buy back) saham…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank BUMN Minta Pengaturan Bunga Deposito

      NERACA   Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memandang saat ini industri perbankan masih memerlukan pengaturan…

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…