Suku Bunga Kartu Kredit Turun untuk Melindungi Konsumen - Ada Tim Pengawas dan Terus Dipantau

NERACA

Jakarta - Surat Edaran (SE) Bank Indonesia (BI) Nomor 14/34/DASP tentang Batas Maksimum Suku Bunga Kartu Kredit, resmi keluar pada 27 November 2012 dan berjalan efektif 1 Januari 2013. Isinya menjelaskan bahwa batas maksimum suku bunga kartu kredit yang wajib diterapkan oleh penerbit kartu kredit adalah sebesar 2,95% per bulan atau 35,4% per tahun. Hal ini berlaku untuk transaksi pembelanjaan maupun transaksi tarik tunai.

Deputi Gubernur BI Bidang Sistem Pembayaran, Ronald Waas mengungkapkan, tujuan diterbitkannya SE ini untuk meningkatkan aspek perlindungan konsumen pengguna kartu kredit di Indonesia serta mendukung praktek pemberian kartu kredit yang lebih memperhatikan manajemen risiko pemberian kredit.

“Karena kita tidak hanya koreksi bunga, tapi pendapatan nasabah pun sekarang kita lihat. Jadi sederhananya kita bilang kalau kalian mau berhutang tolong ukur kemampuan. Makanya pendapatan sekarang menentukan jumlah kartu kredit yang dimiliki nasabah,” kata Ronald di Jakarta, Kamis (13/12).

Bank sentral mengubah batas maksimum suku bunga kartu kredit tersebut dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu indikator perekonomian seperti BI Rate, Struktur biaya kartu kredit yang meliputi biaya dana (cost of fund), biaya operasional dan pengelolaan risiko kredit oleh penerbit (risk premium), dan/atau praktek suku bunga yang dikenakan oleh penerbit.

“Karena perbankan makin efisien, BOPO turun, maka suku bunga bisa turun juga. BI Rate berubah, angka itu bisa berubah, terus kita lihat struktur biaya mereka. Dan itu mengakibatkan BI secara berkala harus terus menghitung, tidak bisa angka mati (suku bunga) itu. Angka itu akan bergerak terus. Lalu kita juga perhatikan (suku bunga kartu kredit) dari beberapa negara lain,” paparnya.

Ronald menambahkan bahwa suku bunga itu terus dipantau minimal setahun dua kali. “Tapi belum kita ubah kalau BI Rate masih seperti sebelumnya. Memang untuk mengubah (suku bunga kartu kredit) tetap ada aturannya,” ujar dia.

Kemudian mengenai pengawasan terhadap penerbit kartu kredit agar betul-betul menerapkan suku bunga kartu kredit maksimal sebesar 2,95%, Ronald bilang bahwa BI mempunyai tim pengawas sendiri, yang mana mereka akan turun ke lapangan secara rutin untuk mengawasi penerbit-penerbit tersebut.

“Kalau ketahuan ada pelanggaran (terhadap aturan), sanksinya bisa mulai dari sanksi administratif sampai yang paling berat adalah pencabutan izin (dari penerbit itu),” jelasnya. Menurutnya, teknik pemberian sanksi tersebut tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Melainkan ada pemeriksaan terlebih dulu, kemudian entry meeting, dan lain-lain.

Mengenai jumlah maksimum kepemilikan kartu kredit bagi nasabah dengan pendapatan antara Rp3 juta sampai Rp10 juta, di mana dalam SE Nomor 14/27/DASP tertanggal 25 September 2012, disebutkan bahwa nasabah berpenghasilan sebesar itu maksimal hanya boleh memiliki dua kartu saja dari satu penerbit kartu kredit, Ronald mengatakan bahwa kalau seseorang jadi nasabah dua penerbit kartu kredit, dia malah noleh memiliki empat kartu. Dua kartu dari masing-masing penerbit, seperti Visa dan Master Card.

“Sebetulnya prinsip konsumen yang memilih dia mau (pakai) yang mana. Kan biasanya dia (konsumen) pilih yang sudah lama dia pegang karena ada rasa saling percaya. Sedangkan kalau ada dispute atau ketidaksepakatan antara penerbit dan nasabah, atau juga konsumen bingung pilih yang mana, baru dia datang ke BI untuk konsultasi. Tapi kalau dia secara sadar bilang ‘oke deh saya tutup yang ini sama ini’, tidak akan jadi masalah lagi,” ungkapnya.

AKKI mendukung

Senada dengan Ronald, Ketua Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Steve Marta, yang dihubungi terpisah mengatakan bahwa asosiasi setuju saja dengan keputusan BI menurunkan suku bunga kartu kredit menjadi 2,95%.

“Ya, karena ini sudah proses lama, maka kita setuju saja, karena sudah diajak konsultasi juga (oleh BI). Malah BI tadinya mau (suku bunga kartu kredit) di 2,5%. Karena dia kan regulator, makanya mau lebih rendah,” jelasnya.

Steve mengatakan bahwa secara jangka panjang penurunan suku bunga kartu kredit ini memang baik. Dan ini bisa saja mempengaruhi pendapatan atau laba bank tersebut.

“Terutama bank-bank besar yang biasa memberi suku bunga lebih tinggi dari ini, maka pendapatannya akan tergerus. Karena memang salah satu pendapatan utama mereka adalah dari bunga. Tapi itu tergantung juga dari portofolio kredit masing-masing bank, karena kalau NPL-nya tinggi maka akan bahaya di jangka panjang, termasuk juga untuk bank kecil,” katanya.

Menurutnya, bank-bank akan mengubah cara mainnya dalam kartu kredit setelah ada aturan ini. “Jadi mereka akan lebih selektif, jangan ada resiko kredit macet, dan harus lebih efisien,” ujarnya.

Tapi tutur dia, angka 2,95% ini tidak akan permanen, karena akan terus dicari suku bunga yang terbaik untuk semua pihak ada di angka berapa. “Rata-rata suku bunga kartu kredit di perbankan Indonesia antara 3%-3,25%. Bank-bank besar ada di rata2 itu, tapi masih lebih rendah daripada bank kecil,” tuturnya.

Namun, di sisi lain, Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo, menyatakan tidak setuju dengan keputusan BI menurunkan suku bunga kartu kredit itu. Apalagi jika alasannya dihubungkan dengan efisiensi bank. Karena menurutnya juga BI memandang resiko kartu kredit itu rendah, jadi bunganya diturunkan. Padahal risikonya bisa saja juga tinggi.

“Makin efisien (bank) harusnya profit makin tinggi. Kenapa tidak 3% atau 4% sekalian? Bagaimana BI memutuskan dengan 2,95% bisa menentukan efisiensi? Mana ada bunga menentukan efisiensi. Kalau BI mengeluarkan peraturan satu orang maksimal hanya dua, setuju saya. Karena (memikirkan) risiko, dan itu jadi terbatas. Tapi kalau bunga (diturunkan), saya tidak setuju,” tukasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta – Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate…

Mempertanyakan Tim TAP Bentukan Gubernur Jabar

Mempertanyakan Tim TAP Bentukan Gubernur Jabar NERACA Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membentuk Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) melalui…

Bunga The Fed Diyakini Hanya Naik Sekali

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia mengubah proyeksinya untuk kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kredit Bank DKI Tumbuh 27,9%

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, Bank DKI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 27,95 dari semula sebesar Rp27,1…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta – Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate…

Bunga The Fed Diyakini Hanya Naik Sekali

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia mengubah proyeksinya untuk kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank…