Indonesia Dinilai Belum Siap Penyatuan Bursa Asean

NERACA

Jakarta- Keseriusan industri pasar modal dalam negeri menyambut masyarakat ekonomi Asean dinilai belum siap. Oleh karena itu, pelaku pasar diminta untuk mempersiapkan diri.

Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AAEI), Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia belum siap untuk menghadapi penyatuan bursa dalam program ASEAN Economic Community yang akan berlangsung pada 2015. “Country risk setiap negara berbeda, dana akan masuk ke pasar dengan risiko rendah. Kita kan termasuk risk premium, jadi jangan sampai nantinya merugikan,”katanya di Jakarta, Kamis (13/12).

Dia menuturkan, kesiapan Indonesia bisa dilihat dari sejauh mana kesiapan regulasi dan infrastruktur. Sejauh ini dia menilai masih perlu adanya harmonisasi regulasi dan infrastruktur. Selain itu, penyatuan bursa hanya bisa dilakukan pada saat nilai kapital market sama dengan Gross Domestic Bruto (GDP). “Saat ini kapital market baru hanya sekitar 50%, sedang mereka justru sudah berada di atas GDP mereka. Ini yang harusnya menjadi acuan kita.” ujarnya.

Di samping itu, dengan dibukanya pasar ASEAN, pemerintah perlu berhati-hati akan adanya agenda negara lain seperti Singapura yang bisa jadi mereka memiliki agenda tersembunyi dengan dibukanya pasar untuk kawasan ASEAN tersebut.

Pada kesempatan yang sama Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida mengatakan, perlu ada kesiapan yang matang sebelum masuk kepada ASEAN Economic Community 2015.“Untuk ASEAN Community kita harus mempersiapkan broker kita lebih kompetitif, karena salah satunya ada integrasinya bursa sehingga anggota bursa kita harus lebih siap.” jelasnya.

Selain itu, perlu juga diperhatikan kesiapan dari anggota bursa. Salah satu yang akan dilakukan oleh OJK antara lain mencermati perhitungan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) perusahaan sehingga dapat merepresentasikan aset-aset yang berkualitas. Dengan demikian, dia mengharapkan daya saing broker pasar saham Indonesia bisa lebih baik.

Minim Investor Domestik

Anggota Komisioner OJK, Nurhaida mengakui, sejauh ini pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai cukup tinggi belum dapat menjadi stimulus terjadinya pertumbuhan investasi yang diharapkan. Hal tersebut menurut dia, dikarenakan masih minimnya investor dometik untuk berpartisipasi di pasar modal. Karena itu, pihaknya akan berupaya meningkatkan porsi investor domestik tersebut, baik dari institusi maupun ritel.

Sementara Ketua Komisioner OJK, Muliaman Dharmansyah Hadad mengatakan, perlu dipersiapkan hal-hal untuk merespons terjadinya penyatuan bursa dalam ASEAN Community 2015. Pasalnya, pasar keuangan Indonesia masih sangat rentan terhadap risiko, meskipun perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tumbuh positif. “Pasar keuangan kita masih sangat tipis sehingga indeks tumbuh tinggi, tapi potensi untuk turun tajam cukup besar.” ujarnya.

Karena itu, perlu ada upaya untuk menaikkan jumlah pencatatan saham oleh emiten melalui penawaran umum saham perdana (IPO), right issue, dan obligasi baik dari pemerintah maupun swasta, sehingga pasar keuangan Indonesia atau pasar modal bisa lebih dalam dan bertumbuh pesat. Meskipun demikian perlu dipikirkan daya saing yang tinggi dan dapat memberikan kontribusi nasional.

Menurut Muliaman, untuk menjadikan pasar yang dalam tersebut, OJK juga perlu memikirkan bagaimana membangun dan pembinaan dalam pasar keuangan Indonesia sehingga terjadinya pengintegrasian keuangan, tidak hanya sebagai pasar namun juga dapat menguntungkan. Pertama, harus dibangun kapasitas masing-masing lembaga (capacity building), antara lain yaitu peningkatan sumber daya dan tenaga ahli.

Selain langkah tersebut, perlu juga dibangun infrastruktur finansial, yaitu pengembangan kelembagaan, dan harmonisasi aturan yang dapat dilakukan dengan pendekatan gradualisasi implementasi untuk mendukung perkembangan tersebut. Pihaknya juga mencatat, perlu ada upaya untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan investor di samping adanya penegakan hukum (law enforcement) yang tegas. “Saya berjanji untuk membuka komunikasi dengan industri keuangan untuk perkembangan pasar.” pungkasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…

Menko PMK - Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM

Puan Maharani Menko PMK Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM Depok - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)…

Tutup CGV di Mall of Indonesia - Graha Layar Masih Agresif Buka Layar Baru

NERACA Jakarta –PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) menutup kegiatan operasional layar lebar CGV di pusat perbelanjaan Mall Of I…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…