Hingga Akhir Tahun, Pasar Farmasi Bisa Tembus Rp 43,7 triliun

NERACA

Jakarta – Dinilai meningkatnya permintaan pasar farmasi yang mengalami kenaikan, Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia memperkirakan pasar farmasi nasional hingga akhir tahun ini meningkat 15% atau menjadi Rp 43,7 triliun. Hal ini menurut Dewan Penasehat Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia, Syamsul Arifin dikarenakan bertambahnya permintaan obat resep, obat bebas serta obat generik.

“Tahun ini, permintaan pasar farmasi naik 15% sebesar Rp 43,7 triliun dibandingkan tahun lalu. Kontribusi obat resep menyumbang 55%, dan obat bebas (over the counter) menyumbang sekitar 45% serta obat generik berkontribusi hingga 10%,” kata Syamsul di Jakarta, Kamis (13/12).

Sementara itu, pertumbuhan pasar farmasi nasional pada semester I 2012 mencapai 15% sehingga melampaui target awal tahun yang hanya sebesar 12%. “Pada semester I tahun ini, pasar farmasi nasional mencapai Rp21,5 triliun, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan telah melampaui proyeksi di awal tahun yang hanya sekitar 12%,” ujarnya.

Pertumbuhan yang tinggi, lanjut Syamsul, dipengaruhi percepatan penyerapan anggaran kesehatan pemerintah di semester I 2012. “Percepatan realisasi anggaran kesehatan pemerintah sangat membantu penjualan produk farmasi,” paparnya.

Namun demikian, GP Farmasi menyatakan Indonesia masih sangat ketergantungan pada bahan baku impor karena sebagian besar bahan baku masih impor dari India, China dan Eropa. “Indonesia masih mengimpor lebih dari 95 persen bahan baku dari India, Cina, dan Eropa,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal GP Farmasi Kendrariadi Suhanda.

Kesulitan bahan baku ini, kata dia, karena belum adanya dukungan dari pemerintah. Salah satu negara yang industri farmasinya maju adalah Cina. Cina menjadi kuat karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Salah satu bentuk dukungan itu adalah pemberian subsidi dalam bentuk pajak. “Jika sudah kompetitif, pelan-pelan subsidi itu dicabut oleh pemerintah,” ucapnya.

Kendrariadi menyatakan pada 2010 total nilai industri farmasi di Indonesia mencapai US$ 3,7 miliar. Tahun ini angka itu diperkirakan meningkat menjadi US$ 4,7 miliar. Rata-rata industri farmasi tumbuh 13,4% per tahun. Kalangan pengusaha memperkirakan pada tahun 2014 angka tersebut naik menjadi US$ 6,1 miliar. “Dari total nilai itu 25% untuk keperluan bahan baku,” ucapnya.

Untuk menemukan dan membentuk molekul butuh biaya besar. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan satu molekul bahan baku diperkirakan mencapai US$ 1 miliar.

Di lain sisi, Staf Ahli Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Disentralisasi Kementerian Kesehatan Ratna Rosita mengatakan, pemerintah akan mengambil langkah untuk mengembangkan produksi bahan baku dengan mempertimbangkan potensi sumber data dalam negeri yang tersedia. “Ini dilakukan untuk meningkatkan kemandirian di bidang bahan baku farmasi, mengingat Indonesia merupakan mega center bahan bio diversity,” papar Ratna.

Kebijakan ini, lanjut Ratna, harus didukung pula dengan kemauan industri farmasi domestik, para pelayan kesehatan, dan konsumen untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri serta penerimaan obat jadi yang berasal dari bahan alam oleh fasilitas pelayanan kesehatan formal. “Dengan demikian, kemandirian di bidang bahan baku farmasi secara pasti akan terwujud,” ujar Ratna.

Keperluan Riset

Sementara itu, Ketua Bendahara GP Farmasi DKI Jakarta, Teddy Iman Soewahjo, menuturkan keinginan kuat pemerintah diperlukan karena tingginya biaya ini. “Salah satunya untuk keperluan riset,” kata Teddy.

Menurut dia, jika tetap dipaksakan dibuat di dalam negeri dengan biaya seperti itu harga keluaran produk farmasi itu tidak memiliki daya saing dengan produk impor seperti Cina dan India. Di kedua negara itu material dasar untuk pembuatan bahan baku industri farmasi sudah tersedia. “Mereka sudah punya bahan dasar kimia,” ucapnya.

Berdasarkan data Lembaga riset Frost & Sullivan, diproyeksikan pasar farmasi Indonesia tumbuh tertinggi keempat di kawasan Asia Pasifik periode 2011-2015. Pertumbuhan pasar farmasi nasional diperkirakan mencapai 10,3% compounded annual growth rate (CAGR) 2011-2015, dengan nilai pasar mencapai US$7,1 miliar pada 2015.

Pertumbuhan pasar farmasi Indonesia melampaui pasar farmasi Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia yang masing-masing tumbuh rata-rata per tahun sebesar 7%, 2%, 7%, dan 2%. Namun pertumbuhan pasar farmasi Indonesia masih di bawah pasar farmasi China yang tumbuh 21% CAGR 2011-2015, India 19%, dan Malaysia 11%.

BERITA TERKAIT

Polemik Pemilih Tetap, Kemendagri Tidak Bisa Intervensi

  Oleh : Ahmad Bustomi, Pemerhati Sosial Politik dan Ekonomi Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh dikritik oleh…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

Selain untuk Pertanian, AMMDes Juga Bisa Jadi ‘Feeder’ Ambulans

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan teknologi Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan (AMMDes) agar bisa dimanfaatkan di berbagai daerah…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…