Pemerintah Optimis Investasi Tumbuh 10% di 2013

NERACA

Jakarta – Di tengah kondisi krisis perekonomian global yang belum cukup pulih, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merasa optimis investasi pada 2013 akan tumbuh 10%. "Saya rasa pertumbuhan investasi pada 2013 bisa mencapai 9-10%. Hal itu sangat mungkin terjadi," ungkap Kepala BKPM Chatib Basri di Jakarta, Rabu (12/12).

Menurut Chatib rasa optimis itu dikarenakan masih banyaknya investor yang sudah melakukan Letter of Intent (Lol) untuk berinvestasi di Indonesia. "Dari Januari hingga September 2012 pipeline investor yang telah melakukan Lol untuk investasi di Indonesia mencapai US$75 miliar atau Rp675 triliun. Sementara realisasinya baru US$30 miliar atau Rp300 triliun," ujarnya.

Ia juga meyakini hingga akhir tahun 2012 realisasi investasi bisa mencapai Rp310 triliun. Angka ini, menurut Chatib berada diatas target yang dilakukan oleh BKPM. "Awalnya kita memperkirakan dan menargetkan investasi di tahun ini mencapai Rp283,5 triliun akan tetapi nilainya justru lebih besar dari target," ujarnya.

Dia juga mengatakan sisa investasi yang telah Lol akan dilakukan pada tahun depan yang sebesar US$40 miliar. Untuk 2013, kata Chatib, BKPM menargetkan investasi di Indonesia bisa mencapai Rp390 triliun.

Investasi Melonjak

Senada dengan Chatib, Menteri Keuangan Agus Martowardojo memperkirakan investasi pada 2013 akan mendominasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, bahkan posisinya lebih besar dibandingkan pertumbuhan konsumsi domestik. Lebih lanjut dikatakan Agus, dominasi investasi sudah mulai terlihat saat ini, dimana pertumbuhan penanaman modal asing (Foreign Direct Investment) mencapai angka 27,3%, didominasi sektor industri atau manufaktur. "Mesin ekonomi kita yaitu investasi diperkirakan akan melampaui sharet to PDB konsumsi domestik di 2013," ujarnya.

Kendati investasi mendominasi, ia menilai, konsumsi domestik dan investasi akan bersama-sama menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi tahun depan. Terutama di tengah perlambatan ekonomi global.

Agus pun memproyeksikan tahun depan, ada tiga sektor industri padat karya yang akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di antara sektor tersebut adalah sektor manufaktur, perdagangan dan jasa, serta transportasi/telekomunikasi. "Tiga ini merupakan sektor padat karya yang akan tumbuh di 2013," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menilai iklim investasi di Indonesia masih rendah. Hal ini terlihat dalam survei doing business dalam hal kemudahan dalam berusaha (ease of doing business) di Indonesia yang menurun menjadi peringkat 129. "Iklim investasi juga masih rendah karena kita masih kesulitan memperoleh listrik (getting electricity), memperoleh kredit (getting credit), dan menjalankan kontrak (enforcing contract)," tambah Suryo.

Lebih lanjut dikatakan Suryo, penyebab menurunnya peringkan doing business adalah prosedur untuk memulai usaha yang masih berbelit-belit. Padahal, kata dia, jika dibandingakn dengan Singapura maka Indonesia akan kalan jauh sekali. "Di Singapura hanya memerlukan waktu 3 hari untuk memulai bisnis dengan izin formal tetapi sayangnya di Indonesia membutuhkan waktu berbulan-bulan dan proses yang berbelit-belit," keluhnya.

Selain biaya logistik antar wilayah Indonesia yang masih tinggi, kata dia, kondisi pasar kerja yang kurang efisien juga menyebabkan iklim investasi yang juga rendah, terutama yang mencakup biaya reundansi yang tinggi, kekakuan lapangan kerja, penerimaan dan pemutusan hubungan kerja, fleksibilitas penentuan upah dan hubungan karyawan pengusaha. "Meskipun begitu, investasi luar negeri terus saja mengalir ke Indonesia karena faktor krisis di negara-negara perekspor modal," tuturnya.

Hasil riset yang dilakukan Kadin, tambah Suryo, telah memperlihatkan bahwa perbaikan iklim investasi di daerah sebesar 1% akan meningkatkan kontribusi investasi terhadap penerimaan atau output daerah sebesar 6,963%. "Oleh karena itu, kami menilai reformasi regulasu usaha harus cepat diperbaiki agar bisa mendukung peningkatan investasi. Kinerja birokrasi di Indonesia juga masih buruk. Karena ditunjukan dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) pada 2011 hanya bernilai 3 dari angka maksimum 10," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Optimis Sambut Tahun 2019 - Jababeka Residence Bidik Penjualan Rp 1 Triliun

NERACA Cikarang – Opitimisme pasar properti masih akan tetap tumbuh di tahun ini, mendorong beberapa perusahaan properti genjot ekspansi bisnisnya…

Jumlah Investor Masih Kecil - Reksadana Berpeluang Tumbuh Besar

NERACA Jakarta – Pertumbuhan industri reksadana tiap tahunnya selalu mengalami pertumbuhan seiring dengan mulai meleknya masyarakat berinvestasi di pasar modal.…

Stimulus Pemerintah Tidak Berpengaruh - Penjualan Intiland Terkoreksi 22,1% di 2018

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD) berhasil mencatatkan pendapatan penjualan (marketing sales)…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Menperin Usung Globalisasi Industri 4.0 di WEF

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke Davos, Swiss selama empat hari, 22-25 Januari 2019. Agenda…

Lima Unit AMMDes Penjernih Air Didistribusikan ke Sulteng

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan menyalurkan lima unit alat mekanis multiguna pedesaan (AMMDes) yang berfungsi sebagai pengolah air jernih…

Rendahnya Produktivitas Tebu Picu Tingginya Harga Gula

NERACA Jakarta – Rendahnya produktivitas tebu dapat dilakukan untuk menekan impor gula. Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih…