Produktivas Rendah, Harga Buah Lokal Tidak Kompetitif

NERACA

Jakarta - Membanjirnya buah impor dipasar dalam negeri seakan tidak dapat dibendung lagi oleh pemerintah. Permasalahan ini seakan akan menjadi bola panas, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan saling menyalahkan. Padahal kalau dilihat inti permasalahannya karena minimnya produktivitas dinilai menjadi penyebab tidak kompetitifnya harga buah lokal dibandingkan dengan produk buah impor.

Kafi Kurnia, Ketua Asosiasi Eksportir–Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia mengatakan produksi buah nasional masih bergantung pada petani kecil yang terpencar-pencar. "Belum banyak perkebunan komersial dalam negeri yang mampu mensuplai buah dalam jumlah besar. Akibatnya, produk buah unggulan harganya cenderung tinggi dibandingkan dengan buah impor," ujarnya, Rabu (12/12).

Minimnya produktivitas, lanjutnya, juga disebabkan oleh semakin sempitnya lahan perkebunan buah. Menurutnya, ketiadaan insentif dan dukungan pemerintah menjadi penyebab massifnya alih guna lahan perkebunan buah.

Di sisi lain, pemodal yang berminat untuk berinvestasi di perkebunan buah semakin sulit mencari lahan yang cocok. Kalaupun ada, harganya terlampau tinggi. "Tidak banyak daerah yang cocok untuk perkebunan buah. Di Jawa misalnya, kalaupun ada harga per meternya sudah terlampau tinggi," jelasnya.

Kafi menjelaskan dataran tinggi merupakan lokasi yang cocok untuk perkebunan buah. Buah dengan kualitas baik, ujarnya, dihasilkan di daerah dengan kondisi panas di siang hari dan dingin di malam hari.

Sebelumnya permintaan buah-buahan secara nasional dalam lima tahun terakhir diperkirakan mengalami pertumbuhan berkisar 12-15% per tahun. Oleh karena itu, jika membanjirnya buah impor yang tidak dicegah maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan dan memukul produksi buah petani lokal.

Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengingatkan pemerintah agar melakukan perlindungan maksimal terhadap konsumen dari buah impor yang tidak sesuai standar dan kini banyak membanjiri pasar buah lokal. “Perlu pengetatan tata niaga dan standardisasi buah impor agar tidak mudah merambah ke sentra produksi dan konsumen. Disamping itu pemerintah tidak boleh menyerahkan tata niaga impor pada mekanisme pasar karena akan memberi peluang banjirnya buah impor berkualitas rendah, meskipun berpenampilan menarik,” ujarnya.

Kebanyakan buah impor itu dipanen dalam kondisi belum matang agar tidak cepat rusak dan busuk selama proses pengiriman. Padahal, pemanenan buah sebelum matang akan sangat berpengaruh pada kandungan nutrisi dalam buah. Maka tidak heran juga, telah banyak ditemukan buah yang diawetkan dengan formalin, guna tampak lebih menarik, bagian kulitnya terlihat kencang dan segar meski sudah berbulan-bulan di panen.

Oleh karena itu, Rofi menambahkan, pemerintah harus melindungi masyarakat dari serbuan buah impor, mengingat konsumen sangat awam terkait kualitas dan mutunya. Pemerintah juga harus memperbaiki infrastruktur dan melakukan berbagai terobosan kreatif dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengonsumsi buah-buahan lokal.

Selama ini, konsumen membeli berdasarkan selera bukan nilai gizi, karena pada realitasnya berbagai temuan dan penelitian telah menunjukkan bahwa buah impor sangat membahayakan bagi kesehatan.

Buah Impor

Sebelumnya, Kepala Pusat Karantina Badan Karantina Kementerian Pertanian Arifin Tasrif telah menyatakan sekitar 800 ribu ton buah impor buah yang tak laku alias kualitasnya buruk di negara asalnya, terdapat juga yang tidak layak serta mengandung bahan berbahaya. Sehingga, Indonesia menjadi keranjang sampah buah impor.

Buah impor lebih diminati oleh konsumen karena harga yang relatif murah dan tampilan lebih menarik dibandingkan buah lokal, sementara manfaat dan nilai gizi buah lokal lebih besar daripada buah impor. Buah lokal selain karena tampilannya kurang menarik namun juga harganya yang lebih mahal akibat tingginya biaya logistik dan distribusi. “Importir jangan hanya mengejar keuntungan semata dari buah impor karena adanya disparitas harga, namun juga harus memperhatikan perlindungan terhadap konsumen,” lanjutnya.

Karena derasnya impor dan rendahnya ekspor maka tak heran defisit neraca perdagangan buah dan sayur Indonesia mencapai Rp15 triliun akibat impor yang jauh lebih besar ketimbang ekspornya. Defisit sebesar itu akibat volume impor buah dan sayur tahun lalu mencapai 1,162 juta ton sedangkan volumenya ekspornya mencapai 63 juta ton. Ekspor produk Indonesia umumnya masuk ke negara-negara Timur Tengah, sedangkan negara-negara lainnya masih sulit ditembus karena persyaratan yang terlalu ketat.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sepanjang tahun 2011 nilai impor buah-buahan tercatat mencapai US$ 411,57 juta dan Cina memberikan kontribusi sebagai importir terbesar selama ini.

BERITA TERKAIT

Permendag 24 Tahun 2020, Optimalkan Serapan Bulog

NERACA Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Untuk…

Respon Positif Kebijakan Penanganan Covid-19, Kepercayaan Pasar Mulai Tumbuh Kembali

Jakarta – Di tengah pandemi virus corona (covid-19) yang sedang fokus diatasi pemerintah, kabar baik muncul dari pasar uang dan…

Implementasi Kartu Prakerja Harus Dipercepat

NERACA Jakarta - Dalam rangka melindungi para pencari kerja dan pekerja formal atau informal yang terkena dampak langsung dari berkurangnya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Cegah Penyebaran Covid-19, Kemendag Tunda TEI ke-35 Tahun 2020

NERACA Jakarta – Demi memutus rantai virus Covid-19 maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan menunda pelaksanaan Trade Expo Indonesia…

Atasi Covid-19 Kerjasama Global Dilakukan

NERACA Jakarta – Sudah waktunya melakukan kerja sama global untuk mengatasii Covid-19. Hal itulah yang dilakukan oleh pemerintah yang diwakili…

Permendag 24 Tahun 2020, Optimalkan Serapan Bulog

NERACA Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Untuk…