Genjot Investasi Perikanan, KKP Gandeng Kadin

NERACA

Bandung - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong peningkatan peran swasta di dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui pengembangan bisnis dan investasi, kreatif serta inovatif. Kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang mengadopsi konsepsi blue economy akan diarahkan untuk mendorong para pelaku bisnis dan investor sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan prinsip-prinsip efisiensi pemanfaatan sumber daya alam.

"Prinsip efisiensi yang terkandung di dalam konsepsi tersebut akan mampu menghasilkan lebih banyak produk turunan dan produk lain terkait, sehingga menghasilkan pendapatan (revenue) lebih besar," ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo ketika menghadiri acara Rapat Pimpinan Provinsi Kamar Dagang Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/12).

Sharif menjelaskan, dunia usaha menjadi salah satu pilar penting di dalam percepatan pembangunan kelautan dan perikanan nasional, mengingat terbatasnya anggaran pemerintah dalam pembangunan infastruktur pendukung kebijakan industrialisasi perikanan. Sementara, pemerintah sebagai regulator akan terus memfasilitasi beragam hambatan yang dihadapi pelaku usaha perikanan sehingga usaha perikanan nasional dapat berperan banyak di pasar domestik maupun global.

Berangkat dari hal tersebut, lanjut sharif, KKP tengah berkonsentrasi untuk memacu produksi dan pendapatan nelayan termasuk mengembangkan wirausaha mandiri lewat strategi industrialisasi kelautan dan perikanan mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasiskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi kepada para nelayan, pembudidaya ikan, serta pengolah dan pemasar hasil perikanan.

"Penerapan konsep blue economy membutuhkan dukungan pengetahuan danteknologi (cutting-edge innovations) yang tidak hanya mampu memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan, tetapi lebih konkrit atas inovasi sistem produksi bersih tanpa limbah. Di sisi lain, blue economy hanya akan menjadi sebuah konsep semata tanpa ada peran entrepreneurs atau investor. Dunia riset dan teknologi harus dekat dengan dunia usaha, hasil-hasil riset harus benar-benar terbukti memadai," jelasnya.

Menurut dia, Blue economy merupakan sebuah model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka pikir seperti cara kerja ekosistem. Sehingga diharapkan mampu mengatasi ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat aktivitas ekonomi termasuk perubahan iklim dan pemanasan global.

Tiga Unsur

Terdapat tiga unsur utama dalam upaya pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan, yaitu unsur nelayan, unsur alam raya lingkungan laut, dan unsur hubungan antara nelayan dan lingkungan laut tersebut. "Ketiga unsur yang saling terkait tersebut harus sinergis dan tercermin dalam program KKP untuk mewujudkan blue economy," tambahnya.

Terkait penciptaan lapangan kerja, lanjut dia, paradigma tersebut dapat mendorong terciptanya jutaan lapangan kerja jika turut didorong dengan ekonomi berbasis kelautan secara komprehensif dan berkesinambungan. Hal itu diulas dalam buku yang bertajuk ‘The Blue Economy’ yang dibuat oleh Gunter Pauli bahwa tujuan dari "Blue Economy" adalah untuk mendorong terciptanya 100 juta lapangan kerja dan nilai modal yang besar melalui 100 inovasi selama dekade 2010-2020.

Seiring dengan itu, KKP tengah mengembangkan aktivitas ekonomi yang berbasiskan blue economy pada pesisir dan laut. Aktivitas ekonomi tersebut akan terintegrasi dengan Integrated Coastal Management (ICM). Model pengelolaan pesisir secara terpadu tersebut, membutuhkan suatu pemetaan tata ruang laut (zonasi) secara spesifik. Lewat pemetaan kawasan tersebut maka stakeholder terkait dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan efisien dan ramah lingkungan secara berkelanjutan.

"Perencanaan tata ruang secara terpadu bertujuan untuk melindungi sumber daya renewable dan non-renewable di sekitar lokasi eksploitasi sumber daya. KKP telah mempersiapkan beberapa model pembangunan kelautan dan perikanan dengan konsep Blue Economy, antara lain Lombok Timur, Banggai Kepulauan, Nusa Penida, Teluk Tomini dan Kepulauan Anambas," ungkapnya.

Sebagai informasi, sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik telah berkomitmen untuk mengembangkan Blue Economy sebagai landasan pola pembangunan ekonomi kelautan dengan fokus pada ocean based economy. Hal ini dapat dilihat pada hasil pertemuan 2nd APEC Blue Economy Forum di Tianjin, Cina yang telah menampilkan beberapa contoh pengelolaan sumberdaya kelautan seperti di Shandong dan Xiamen, China.

Beberapa negara lain seperti Srilangka, Filipina dan Vietnam lebih mengedepankan penerapan prinsip pembangunan wilayah pesisir terpadu (Integrated Coastal Management atau ICM) sebagai pola pembangunan sektor kelautan. “Blue economy ini mampu menjadi referensi sebagai model pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan di negara-negara Asia Pasifik, yang menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya alam dengan mengikuti pola efisiensi alam namun menghasilkan produk dan nilai lebih besar, tanpa limbah, dan kepedulian social," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Kemenkop Gandeng BNI dan Perumnas Bangun Perumahan ASN

Kemenkop Gandeng BNI dan Perumnas Bangun Perumahan ASN NERACA  Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM menggandeng Bank BNI dan Perumnas…

Manfaatkan Data, Kemenko Perekonomian Gandeng Lapan

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyepakati…

Gandeng Teknik Sipil UGM - BTN Insisiasi School of Property Developer

Sejak mendirikan Housing Finance Center (HFC) pada 16 Oktober 2014 silam, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berkomitmen meningkatkan kualitas…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lebih dari 4 Ribu Santri Jadi Wirausaha Baru Dibina

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian hingga saat ini membina dan memberikan pelatihan tentang kewirausahaan kepada 4.720 santri. Program strategis yang…

Komoditas Rempah Sasar Peluang Pasar Ekspor Baru

NERACA Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyebutkan komoditas rempah menjadi peluang Indonesia untuk menyasar pasar ekspor baru yang bukan…

Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program…