2013, Tahun Konsolidasi Perbankan Nasional

NERACA

Jakarta - Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Dony Abdul Cholid, mengatakan situasi politik Indonesia serta transisi Bank Indonesia (BI) menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai sangat berpengaruh terhadap konsolidasi perbankan nasional. “Tahun depan, perbankan kita akan menghadapi memanasnya situasi politik serta fase transisi BI menuju OJK,” ujar Dony di Jakarta, Selasa (11/12).

Dia menerangkan bahwa memanasnya situasi politik berpotensi memberikan efek negatif. Dirinya juga melihat, tahun 2013, perbankan nasional akan lebih memfokuskan pada konsolidasi pasca BI mengeluarkan aturan stabilitas sistem keuangan (SSK) yang harus dijalankan seluruh bank yang beroperasi di Indonesia.

“Tingkat konsentrasi perbankan relatif tinggi, tercermin dari aset bank besar yang mencapai di atas 60% sehingga konsentrasi lebih stabil. Konsolidasi ini akan lebih banyak pada bank-bank dengan aset yang lebih kecil agar dapat memenuhi aturan BI,” terangnya.

Dony pun menjelaskan bahwa akan ada dua kebijakan yang dapat mempengaruhi proses konsolidasi perbankan, yaitu single presence policy (SPP) dan multiple license (lisensi berjenjang). Lebih lanjut dia mengatakan, pendistribusian kegiatan perbankan juga bakal menjadi isu menarik.

Dia melihat, kinerja 2012 secara makro cukup baik, tetapi ada hal yang perlu dilihat seperti penurunan return on assets (ROA) BPD (bank pembangunan daerah) dan bank asing, kenaikan capital adequacy ratio (CAR) pada seluruh kelompok bank kecuali bank campuran, serta meningkatnya loan to deposite ratio (LDR) seluruh bank kecuali BPD.

“Dari konsolidasi perbankan yang akan terjadi tahun depan, kita harus melihat isu laten yang harus segera diselesaikan yakni pertumbuhan kredit konsumsi yang begitu besar dibanding produktif,” terangnya. Dony juga memaparkan bahwa isu tersebut dapat memicu potensi terjadinya gelembung (bubble) ekonomi yang berimplikasi pada terjadinya krisis.

Isu laten tersebut, lanjut Dony, harus segera diselesaikan sehingga penyaluran kredit produktif dapat lebih ditingkatkan sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak ke arah yang positif. Sementara investor Asing, menurut Dony, akan terlibat dalam konsolidasi di industri perbankan dikarenakan prospek industri perbankan Indonesia yang masih baik.

“Belum adanya tanda akan diubahnya aturan kepemilikan saham oleh asing serta perlakuan BI yang menyamaratakan antara bank lokal dengan asing”, ujarnya. Dengan adanya investor asing, menurut Dony akan menimbulkan perdebatan yang harus diteliti lebih lanjut.

Yang perlu juga disorot terkait konsolidasi perbankan adalah mengenai penyebaran kegiatan perbankan yang mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa. “Lebih dari 75% kegiatan perbankan terpusat di Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta yang menyumbang hampir 50%. Ke depan, konsolidasi perbankan harus fokus pada penyebaran kegiatan perbankan sesuai dengan koridor yang ditetapkan oleh BI,” ujar dia.

Penerapan Basel III

Sementara pengamat ekonomi Telisa Aulia Falianty, mengungkapkan Indonesia harus memiliki perbankan yang berkapasitas regional agar mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi serta berperan dalam perkembangan kawasan.

Telisa juga menjelaskan, sektor keuangan di Indonesia termasuk dalam tiga terbesar sektor yang memiliki pertumbuhan tertinggi pada kuartal III 2012. Menurut dia, akan ada banyak kondisi yang aka dihadapi oleh perbankan Indonesia ke depan, terutama penerapan Basel III terkait permodalan dan likuiditas pasar, lalu penyesuaian regulasi BI, perubahan sistem pengawasan perbankan ke OJK serta aspek makropudensial yang semakin ketat.

“Basel III merupakan standard untuk memperkuat pengukuran secara komprehensif di sektor perbankan dikarenakan kestabilan sektor keuangan sangat penting bagi keseimbangan ekonomi secara makro. Dengan penerapan standard Basel III ini perbankan kita diharapkan mampu berdaya saing di tingkat regional,” papar Telisa.

Di tingkat Asean, lanjut dia, posisi Indonesia sering dimanfaatkan pihak asing lantaran faktor demografi penduduk yang begitu besar sehingga banyak sekali investor asing berlomba untuk memasuki Indonesia. Dalam kaitannya dengan Masyarakat Ekonomi Asean 2015, semua sektor dibuka termasuk keuangan sehingga memunculkan konsep Qualified Asean Banks, yang menjadi salah satu leading market di kawasan regional.

Qualified Asean Banks merupakan perbankan, baik secara kuantitatif dan kualitatif, mampu bersaing secara regional. “Indonesia menjadi salah satu perumus konsep tersebut bersama dengan Malaysia. Tetapi Indonesia belum bisa memenuhi kriteria yang diminta,” tegasnya.

Predikat good boy

Indonesia, kata Telisa, berusaha memperjuangkan terutama dari aspek kecukupan modal yang memenuhi syarat sehingga siap bersaing. Terkait predikat kalau Indonesia masih menjadi good boy asing, dirinya tidak membantah. Namun Telisa mengingatkan bahwa justru dengan predikat itu menjadikan Indonesia sebagai penonton di negeri sendiri.

“Kita selalu takut sovereign rating dipotong. Lalu investor asing kabur karena regulasi yang bermacam-macam, artinya jika secara elegan kita mampu mengemas argumen kita pasti diterima oleh semua pihak,” papar dia.

Sementara pemetaan sektoral, menurut Telisa, harus dilakukan oleh perbankan nasional sehingga kredit produktif dapat segera tersalurkan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih baik. Caranya dengan menggenjot fee based income, yakni mendiversifikasikan aset sehingga tidak bergantung besar dananya dari investor asing. [dias]

BERITA TERKAIT

Bazar Serentak Nasional Perindo, Tulang Punggung Keluarga Ucapkan Terima Kasih Pada Perindo

JAKARTA, Partai Perindo menggelar bazar murah serentak di seluruh Indonesia hari ini, Jumat (12/4/2019) dengan total beras 400 ribu kilogram…

Mantan Dirut Jasindo Divonis 7 Tahun Penjara

Mantan Dirut Jasindo Divonis 7 Tahun Penjara NERACA Jakarta - Mantan Direktur Utama (Dirut) Korporasi PT Asuransi Jasa Indonesia (PT…

Pimpin Fogging Serentak Nasional Perindo, Hary Tanoe Asapi Sibolga

SIBOLGA, Partai Perindo menggelar fogging secara serentak di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Gerakan Fogging Serentak Nasional Perindo ini dipimpin…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BCA Pastikan Akuisisi Bank Royal

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk memastikan telah memulai proses akuisisi seluruh saham PT. Bank…

Allianz Luncurkan Perlindungan Kesehatan Tambahan

    NERACA   Jakarta - PT Asuransi Allianz Life Indonesia melalui Allianz Health & Corporate Solutions (AHCS), memperkenalkan manfaat…

Pemerintah Tetapkan Penjualan SBR006 Sebesar Rp2,2 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR006 sebesar Rp2,2 triliun yang…