Sawit RI Dikampanyekan Negatif, Kemendag Galang Dukungan Eksportir

NERACA

Jakarta - Santernya kampanye negatif produk minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) asal Indonesia yang terjadi di negara-negara Eropa membuat pemerintah akan segera membangun komunikasi lebih intensif dengan para eksportir untuk mengampanyekan pemasaran produk berbasis kelapa sawit di pasar luar negeri.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, upaya tersebut bukan berlebihan, mengingat Uni Eropa akan segera memberlakukan Undang Undang Tentang Labelling. UU tersebut akan menerapkan ketentuan penjelasan kandungan di setiap produk, apakah kandungannya berupa palm oil atau minyak yang lainnya. “UU tersebut akan segara berlaku awal tahun 2014 mendatang. Waktu kami sempit untuk perlawanan. Kami akan segera mengumpulkan para eksportir,” kata Bayu di Jakarta, Selasa (11/12).

Bayu mengakui bahwa produk kelapa sawit Indonesia di pasar luar negeri dikampanyekan negatif. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat yang pernah ‘menyerang’ kelapa sawit Indonesia yang dinilai tidak ramah lingkungan. Bahkan Australia, sekitar dua tahun yang lalu melakukan hal yang sama. Begitu pula beberapa negara di Eropa yang berdalih program perlindungan lingkungan hidup, ikut menyerang kelapa sawit Indonesia.

“Ada penyerangan berdalih kesehatan konsumen, ramah lingkungan dan lain sebagainya. Tetapi faktanya, seorang professor ahli nutrisi di Amerika menyatakan bahwa minyak kelapa sawit sama dengan minyak lainnya, dan tidak berbahaya. Tapi kalau over-consumption (konsumsi berlebihan), tentu saja pasti berbahaya bagi kesehatan,” ujar Bayu.

Kemendag melihat ada persepsi negatif terhadap produk kelapa sawit Indonesia di luar negeri. Ironisnya, tujuh ton dari keseluruhan produksi nasional sebanyak 23 juta ton, sudah diproduksi secara berkesinambungan dan berorientasi pada ramah lingkungan.

Kepentingan Bisnis

Sebelumnya Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan kampanye negatif soal minyak kelapa sawit yang berkembang di dunia murni demi kepentingan bisnis. Sebab, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan minyak sawit tidak sehat. "Black campaign` soal sawit itu karena kepentingan bisnis," kata Suswono.

Menurut dia, pihaknya telah bekerjasama dengan beberapa negara termasuk Amerika Serikat untuk melakukan penelitian terkait bahaya minyak sawit terhadap kesehatan. Namun, ia menegaskan belum bisa mempublikasikan hasil penelitian itu dan masih menunggu hasil dialog dengan pihak AS tersebut. "Saya khawatir kalau dipublikasikan sekarang, mereka akan mencari celah untuk menghantam kita (soal minyak sawit)," katanya.

Menteri menegaskan, kampanye negatif yang banyak dilakukan di luar negeri oleh LSM lingkungan itu dinilai tidak disertai pertimbangan ilmiah tetapi lebih ke arah bisnis. "Kampanye negatif kita lawan dengan positif, jadi kita akan terus meyakinkan negara pasar utama kita yakni China dan India bahwa kelapa sawit tidak seperti yang diberitakan," katanya.

Berdasarkan data statsitik Eurostat, Import Uni Eropa untuk komoditas kelapa sawit/CPO dari Indonesia mengalami penuruan tajam pada 2011. Pada 2010 Uni Eropa mengimpor 2.420.444.700 ton CPO dari Indonesia dan pada 2011 menurun drastis hingga 26 persen atau hanya sekitar 1.791.741.900 ton.

Hal itu diperkirakan salah satunya akibat gencarnya kampanye hitam yang dilakukan LSM di Eropa seperti Greenpeace, Robin Wood, dan WWF. Bahkan belum lama ini Prancis berencana menaikkan pajak minyak sawit sebesar 300 persen yang diistilahkan dengan pajak Nutella.

Alasannya, bahaya kesehatan gizi dari lemak nabati kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan utama dalam hazelnut cokelat favorit dan bahan makanan di negara itu, sehingga perlu dinaikkan pajaknya.

Senator di Prancis telah menyerukan kenaikan pajak besar pada minyak kelapa sawit yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi luas di negara tersebut di mana masyarakat Prancis rata-rata mengkonsumsi 2 kg minyak sawit per tahun atau 126.000 ton keseluruhan lokalnya.

Pihak yang anti-minyak sawit terus mengkampanyekan tingginya kadar lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Selain itu juga memiliki risiko kesehatan. Penggunaan industri minyak kelapa sawit telah menyebabkan deforestasi yang meluas di Kalimantan dan Sumatera, menggusur dan membunuh populasi orang utan yang terancam punah karena pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

BERITA TERKAIT

Minta Dukungan, Humprey Temui Mantan Wakil Presiden

  NERACA   Jakarta – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta Humprey Djemat mengunjungi Mantan Wakil Presiden…

Pertamina Olah Kelapa Sawit Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

    NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) sejak awal Desember 2018 berhasil mengolah minyak mentah kelapa sawit menjadi…

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit Mentah dan Karet

NERACA Jakarta – Ketua Pemuda Katolik Indonesia Karolin Margret Natasa mengharapkan pemerintah pusat melakukan langkah nyata untuk memulihkan dan menstabilkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…