Masuki Era Baru Go Public, PT Pos Ekspansi Bisnis Properti - Bidik Dana Rp 1 Triliun

NERACA

Jakarta- Rencana PT Pegadaian yang bakal menawarkan saham perdana atau initial public offering (IPO) mendapatkan respon positif dari pelaku pasar, meskipun rencana tersebut molor dari target. Kini menyusul rencana IPO PT Pegadaian, juga bakal di lakukan PT Pos Indonesia. Rencana PT Pos Indonesia go public di pasar modal sudah menjadi wacana lama. Terlebih perseroan kini tengah membutuhkan dana untuk ekspansi dan sumber pendanaannya melalui pasar modal.

Presiden Direktur PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana mengatakan, pihaknya saat ini sedang berupaya mempersiapkan penawaran saham umum perdana pada 2013. Pasalnya perusahaan berkomitmen untuk menginvestasikan sebesar Rp1 triliun guna mendukung kinerja perusahaan, “Kami mengharapkan dana sekitar Rp1 triliun dari hasil penawaran saham perdana. Investasi kami tahun depan diperkirakan mencapai Rp1 triliun pada 2013,”katanya di Jakarta, Senin (10/12).

Dalam penawaran saham perdana tersebut, pihaknya berharap dapat melepas sekitar 20%-30% saham ke publik. Namun, hal tersebut tergantung dari kebijakan pemerintah. Rencananya, perseroan akan melakukan penawaran saham umum perdana tersebut pada semester kedua 2013.

Sementara, dana yang diperoleh dari pelaksanaan IPO tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha seiring dengan rencana perseroan yang akan fokus untuk mengembangkan bisnis properti. Dengan pengembangan usaha tersebut, perseroan optimistis dapat meraih pendapatan Rp4,3 triliun pada 2013 dari target pendapatan pada 2012 senilai Rp3,5 triliun. Laba bersih diharapkan mencapai Rp300 miliar pada 2013 dari target 2012 Rp250 miliar.

Selain itu, guna mendukung pengembangan bisnis tersebut perseroan juga sedang menjajaki kerja sama dengan Japan Pos dan Korea Pos untuk e-commerce, termasuk dengan pihak bank Mandiri. “Kerja sama dengan bank Mandiri untuk transaksi pembayaran. Diharapkan kerja sama itu dimulai awal tahun Depan,” ujarnya.

PT Pos Indonesia (Persero) semakin gencar melakukan revitalisasi dan diversifikasi usaha. Hal tersebut dilakukan untuk mendongkrak kinerja keuangan setelah beberapa tahun merugi.

Kata I Ketut Mardjana, sejak 2009, pihaknya terus melakukan perbaikan. Hingga Agustus 2012 ini, PT Pos Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp2,13 triliun dan laba sebelum pajak Rp211,04 miliar, “Pendapatan tersebut sudah berhasil melampaui Rencana Kerja Anggaran (RKA) yang kami susun,"ungkapnya.

Melihat kinerja yang sekarang dilakukan, dirinya optimis target pendapatan tahun 2012 sebesar Rp3,4 triliun bisa tercapai. Begitu juga dengan target laba sebesar Rp182 miliar yang juga diyakini akan tercapai.

Menurut Ketut, kinerja tersebut sudah terlihat sejak 2011. Dari sisi pendapatan mengalami kenaikan 14,74% dari Rp2,68 triliun pada 2010 menjadi Rp3,07 triliun di 2011. Laba bersih setelah pajak yang berhasil dibukukan meningkat pesat hingga 220%. Pada 2010 laba bersih tercatat Rp45,31 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp144,98 miliar.

Untuk mencapai kinerja saat ini, dikatakan Ketut PT Pos memang telah melakukan sejumlah modernisasi dan perluasan bisnis. Selain memperkuat dan mengembangkan core bisnis di bidang pengembangan direct mail, paket dan layanan logistik, PT Pos Indonesia juga merambah layanan finansial dan properti.

Bahkan pada 2013 PT Pos Indonesia akan bersinergi dengan sejumlah BUMN seperti Bank Mandiri untuk melakukan Initial Public Offering (IPO). Pengembangan juga dilakukan Pos Indonesia di sektor perhotelan. Hingga 2016 nanti, setidaknya 12 hotel akan dibangun di beberapa kota di Indonesia, seperti Bandung, Malang dan Kediri.

Dinilai Lebih Mudah

Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomuan Sihombing mengatakan, pencarian dana melalui penawaran saham perdana dan rights issue dinilai lebih mudah dibandingkan obligasi. Namun, sayang minat penawaran saham perdana dan rights issue lebih ditentukan sentimen regional dan kondisi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Biasanya perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana dan rights issue ketika bursa saham lagi naik,” jelasnya.

Menurut Pardomuan, apabila IHSG naik dan kondisi bursa saham regional membaik, total penawaran saham perdana dan rights issue diperkirakan akan lebih besar dibandingkan tahun ini. Karena itu, dia menilai target 30 emiten oleh BEI termasuk masih kecil.

Selain itu, menurut Pardomuan tidak semua perusahaan memiliki akses ke perbankan untuk memperoleh pinjaman perbankan. Oleh karena itu, Pardomuan mengharapkan sosialisasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memberikan informasi mengenai manfaat pendanaan dari pasar modal dan mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk mencatatkan saham perdana di BEI. (lia)

BERITA TERKAIT

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Penggunaan Teknologi di Era Industri 4.0 Dongkrak Produktivitas IKM

NERACA Bogor - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penggunaan teknologi era revolusi industri 4.0 akan mampu mendongkrak produktivitas industri manufaktur…

Bidik Pasar Milenial - Erha Luncurkan E-commerce Produk Kesehatan Kulit

Boomingnya industri e-commerce di dalam negeri, dimanfaatkan Erha sebagai klinik kesehatan kulit untuk mendongkrak penjualan. Apalagi, saat ini belum banyak…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…