BEI Ancam Delisting Emiten Minim Saham Publik

NERACA

Jakarta – Minimnya prestasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan jumlah saham publik, menjadi perhatian serius. Manajemen BEI kembali menghimbau emiten untuk menambah jumlah saham di public agar likuiditas perdagagan saham di bursa meningkat tajam.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, pihaknya telah memberikan surat ke sejumlah emiten untuk meningkatkan saham public dan bahkan mengancam akan didelisting tidak melakukan penambahan saham public,”Bila memang emiten tersebut belum dapat memiliki niat dan usaha untuk menambah jumlah saham ke publik atau mengembangkan bisnis ke depan maka kemungkinan akan didelisting,”katanya di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, dirinya meminta sejumlah emiten untuk meningkatkan saham public dan hal ini harus menjadi concern emiten kedepan dan beberapa jumlah pemegang sahamnya.

Menurutnya, jika pemegang saham public jangan sampai terlalu kecil. Bila jumlah pemegang saham sedikit maka likuiditas rendah. Kata Hoesen, bila emiten tersebut dapat menambah jumlah saham ke publik diharapkan dapat menambahkan kegairahan di bursa saham.

Langkah yang telah dilakukan BEI, saat ini telah meminta penjelasan kepada emiten yang memiliki jumlah saham sedikit di publik. Keterangan yang diminta kepada emiten mulai dari rencana ekspansi perusahaan ke depan,langkah apa yang dilakukan untuk menambah jumlah saham di publik.

Sebelumnya, BEI telah lama mewacanakan penambahan saham publik. Dimana sejulah emiten diwajibkan menambah saham public atau floating share menjadi 20%. Bahkan dalam rangka meningkatkan likuidtas pasar dengan menambah saham publik, pihak bursa juga meminta bantuan kepada PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk membantu emiten menyusun "equity report".

Meski demikian, penambahan jumlah saham beredar di pasar juga harus diikuti dengan kinerja perseroan serta fundamental yang juga positif. "Bursa berusaha untuk meyakinkan emiten, kinerja keuangan dan kinerja saham juga seharusnya sejalan," kata eks Direktur Penilaian Perushaaan Eddy Sugito.

Kata Eddy, saat ini emiten cenderung memilih memperbaiki kinerja perusahaannya terlebih dahulu sebelum menambah porsi saham publik. Dengan lebih dahulu memperbaiki kinerja, lanjut dia, maka akan membuat rencana pengembangan perusahaan lebih komprehensif sehingga mendorong minat investor terhadap saham yang akan diterbitkan.

Sementara Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Riil Bapepam-LK, Anis Baridwan pernah bilang, regulator pasar modal Indonesia hanya memberikan imbauan kepada emiten untuk meningkatkan saham publik.

Namun, lanjut dia, perusahaan yang mempunyai rencana penambahan saham publik juga tetap harus mengikuti semua peraturan pasar modal yang ada. "Kalau memang emiten ingin melakukan pemecahan nilai saham (stock split) ataupun penerbitan saham baru (right issue) prosesnya sama, tidak ada pengecualian bagi mereka yang floating share-nya kecil maupun besar," ungkapnya.

Asal tahu saja, pada tahun 2011 ada beberapa emiten yang mengubah bisnis unit usaha. Mereka melakukan aksi korporasi seperti rights issue sebagai pendanaan. Dengan rights issue terdapat standby buyer yang akan mengambil saham tersebut dan menjadi pemegang saham baru.

Hal tersebut dapat mengurangi porsi saham di publik. Salah satu emiten yang mengubah unit usaha dan melakukan rights issue yaitu PT Pelita Sejahtera Abadi Tbk (PSAB) sebanyak 726 juta ke publik. (bani)

BERITA TERKAIT

E-Bookbuilding Rampung Tengah Tahun - Peran BEI Masih Menunggu Arahan OJK

NERACA Jakarta – Mendorong percepatan modernisasi pelayanan pasar modal di era digital saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama…

Kejar Pertumbuhan Target Emiten - BEI Bidik Debitur Bank Besar Untuk IPO

NERACA Jakarta – Dikejar target emiten tahun ini oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebanyak 100 emiten, mendorong PT Bursa Efek…

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…