BSM Kejar Permodalan Buku 3

NERACA

Jakarta - PT Bank Syariah Mandiri (BSM) mengincar posisi permodalan masuk kategori Buku 3 sesuai aturan multiple license (izin berjenjang), sehingga memiliki kapasitas lebih besar dalam pembukaan jaringan kantor, pun dalam melakukan aktivitas bisnis.

“Modal inti kita sudah Rp3,9 triliun. Tahun depan akan ada penambahan modal dari Bank Mandiri (induk usaha) sehingga bisa mendekati Rp4,5 triliun. Jadi bisa masuk Buku 3,” ujar Direktur Utama BSM, Yuslam Fauzi di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, target dari sisi permodalan di Buku 3 tersebut, atau modal inti di level Rp5 triliun sampai Rp30 triliun, sangat mungkin bisa tercapai pada akhir 2013 mendatang, dengan menahan perolehan laba tahun buku 2012.

“Trust, kita sudah bisa jalankan. Ada rencana ke sana. Ini kalau tahun depan sudah sampai Buku 3, kenapa tidak. Tapi kita lihat persyaratannya dahulu. Sekarang sih kita siap saja, dengan kemampuan menganalisa, mengelola pembiayaan kan kurang lebih sama kaya trustee,” tutur Yuslam.

Selain itu, lanjutnya, perseroan juga tetap membuka kemungkinan menambah permodalan melalui pasar modal dengan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Namun, katanya, hal ini tetap harus dilakukan dengan melihat kesiapan baik dari sisi internal dan eksternal. “Cari situasi internal dan eksternal yang pas. Kan tidak bisa juga kalau secara internal sudah siap, tapi eksternal tidak baik. Misalnya tahun 2014, itu suasana politik Indonesia sedang panas,” papar dia.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan aturan lisensi berjenjang yang mengatur kegiatan usaha dan perluasan jaringan kantor bank berdasarkan modal. Bank sentral akan menyesuaikannya dengan kekuatan modal inti bank, yang dibagi menjadi Buku 1 dengan modal inti Rp100 miliar sampai Rp1 triliun, Buku 2 antara Rp1 triliun sampai Rp5 triliun, Buku 3 senilai Rp5 triliun sampai Rp30 triliun, dan Buku 4 di atas Rp30 triliun.

Sebelumnya, BSM berupaya terus memerbesar porsi pembiayaan ke segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sampai 95% dari total pembiayaan. Yuslam menambahkan, dahulu porsi pembiayaan UMKM BSM masih kecil, sekitar 32% pada 2005. Namun, kata Yuslam, seiring dengan komitmen perseroan, porsi pembiayaan UMKM semakin membesar. [ardi]

BERITA TERKAIT

Targetkan Jadi Bank BUKU III - Bank China Construction Gelar Rights Issue

NERACA Jakarta – Perkuat modal untuk ekspansi bisnis, PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR) berencana melakukan penambahan modal…

Kejar Pertumbuhan Bisnis - Arthavest Diversifikasi Portofolio Investasi

NERACA Jakarta – Lantaran sering masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga suspensi karena terjadi peningkatan harga saham…

Kejar Ketertinggalan, Kurangi Ketergantungan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Setiap spekulasi mengenai masa depan Indonesia, selalu mengendap dua pertanyaan besar yang…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank BUMN Minta Pengaturan Bunga Deposito

      NERACA   Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memandang saat ini industri perbankan masih memerlukan pengaturan…

Realisasi KUR 2018 Capai Rp120 Triliun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang 2018…

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…