Dana Pemda Banyak yang Menganggur - Bisa Dikenai Sanksi

NERACA

Jakarta – Rendahnya penyerapan belanja diperparah dengan masih banyaknya pemerintah daerah (Pemda) yang menimbun dana di bank. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Marwanto Harjowiryono mengatakan, banyaknya dana menganggur milik Pemda yang disimpan di bank menjadi perhatian serius pemerintah.

Sebab, seharusnya dana tersebut dibelanjakan untuk menggerakkan perekonomian daerah. "Memang belum ada sanksinya, tapi sekarang kita siapkan," ujarnya, Senin (10/12). Banyaknya dana Pemda yang disimpan di berbagai instrumen keuangan, seperti deposito bank maupun Sertifikat Bank Indonesia (SBI), terus menjadi isu panas yang tak kunjung bisa dipecahkan. Berbagai imbauan dari pemerintah pusat pun kurang efektif.

Buktinya, jumlah dana yang diparkir justru merangkak naik, seiring dengan bertambahnya alokasi dana yang ditransfer pemerintah pusat ke daerah. Data menunjukkan, pada 2002 nilai dana daerah dalam simpanan berjangka sebesar Rp 22,18 triliun. Hingga akhir 2011, jumlahnya naik berlipat-lipat hingga mendekati Rp 100 triliun.

Karena itu, menurut Marwanto, pemberian sanksi dinilai bisa menjadi solusi untuk mendorong pemda agar lebih produktif dalam memanfaatkan anggarannya. "Nanti (sanksi) kita masukkan di revisi UU Nomor 33/2004 (tentang tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah)," katanya. Saat ini, revisi tersebut tengah dimatangkan di internal pemerintah.

Marwanto mengatakan, terkait sanksi yang akan diberikan bagi pemda yang menumpuk dananya di bank, saat ini beberapa opsi sanksi masih dibahas pemerintah. "Misalnya, dalam bentuk penundaan transfer DAU (Dana Alokasi Umum)," sebutnya.

Marwanto mengatakan, kebijakan lain dalam transfer dana ke daerah adalah opsi transfer dalam bentuk obligasi atau surat berharga negara (SBN). Hal itu dilakukan untuk memperluas basis penyerap SBN. "Tapi, yang terbaik adalah penyerapan dana transfer untuk proyek-proyek yang bisa mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah," ucapnya.

Secara terpisah, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani mengatakan, kapasitas pengelolaan keuangan daerah memang harus terus ditingkatkan. Selain masih banyaknya dana yang diparkir di perbankan, dana yang dibelanjakan pun sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai. "Jadi, belanjanya tidak produktif," ujarnya.

Menurut Aviliani, dengan kapasitas fiskal pemda yang makin baik seiring naiknya dana transfer daerah, Pemda mestinya bisa berperan banyak dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. "Kuncinya, dana-dana yang ada harus digunakan untuk belanja produktif sehingga memberi daya dorong bagi perekonomian," katanya.

Sebelumnya, Kepala Ekonom dari The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lebih agresif melalui percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan investasi. “Sayangnya, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan baru tersebut masih memiliki masalah dengan rendahnya realisasi APBD. Di sisi lain, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan baru tersebut, belum menjadi tujuan investasi utama di Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan data UKP4, hingga triwulan III 2012, realisasi APBD baru mencapai 41,30%. Sementara itu, pada 2011, sebesar 60,20% investasi masih terkonsentrasi di Jawa dan sebesar 83,90% terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera.

BERITA TERKAIT

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun - Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar NERACA Depok - ‎DPRD…

Targetkan Listing Awal September - Bhakti Agung Bidik Dana IPO Rp 335,5 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti lesu, hal tersebut tidak menyurutkan rencana PT Bhakti Agung Propertindo Tbk untuk go public.…

Gelar Rights Issue - Radana Finance Bidik Dana Rp 696,5 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan dalam rangka menunjang ekspansi bisnisnya, PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) bakal menggelar aksi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Badan Riset Dorong Prioritas Riset dan Inovasi Lebih Terarah

    NERACA   Jakarta - Wakil Direktur Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI)…

LG Catatkan 1.000 Unit Penjualan Mesin Cuci Laundry

    NERACA   Jakarta - PT LG Electronics Indonesia berhasil mencatatkan penjualan 1.000 unit mesin cuci laundry sejak dimulai…

Pemerintah Siap Bangun Infrastruktur di 3 KEK

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menggelar sidang dewan nasional untuk membahas terkait pengembangan…