Pasar Tradisional Lesu, Ekspor Tekstil Akan Dialihkan ke Asia

NERACA

Jakarta – Kondisi ekonomi global yang belum stabil mengakibatkan permintaan produk tekstil menjadi lesu karena selama ini permintaan terbanyak berasal dari Amerika Serikat dan Eropa yang sejauh ini menjadi pasar tradisional produk tersebut. Atas dasar itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) akan mengalihkan pasar ekspor ke kawasan Asia pada 2013.

"Untuk mengantisipasi turunnya permintaan di pasar Amerika Serikat dan Eropa, produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) akan memindahkan pasar ekspor ke kawasan Asia. Diproyeksikan pasar Asia pada 2013 menunjukkan tren yang positif," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) API, Ernovian G. Ismy, di Jakarta, Senin (10/12).

Ia menjelaskan bahwa ekspor TPT mengalami penurunan sebesar 6% dibandingkan dengan kinerja ekspor tahun lalu. Namun begitu, penjualan tekstil domestik secara nasional mengalami pertumbuhan sebesar 5% dibandingkan dengan tahun lalu. "Tahun ini, kinerja ekspor TPT terus mengalami penurunan karena krisis global masih melanda Amerika Serikat dan Eropa. Penjualan di dalam negeri mengalami pertumbuhan 5%, namun produk impor terus membanjiri pasar," paparnya.

Pada 2013, lanjut Ernovian, pertumbuhan penjualan ekspor tekstil nasional diperkirakan masih melambat, sementara penjualan domestik tumbuh 5% dibandingkan tahun ini. “Kenaikan pertumbuhan di 2013 akan ditopang naiknya permintaan di pasar domestik,” tuturnya.

Di tengah pasar ekspor yang menurun dan banyaknya masalah di dalam negeri seperti Upah Minimum Provinsi (UMP) yang mengalami kenaikan dan Tarif Dasar Listrik yang juga naik, akan tetapi menurut Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun menilai prospek industri TPT akan semakin cerah. Hal ini dikarenakan semakin meningkat dan tingginya permintaan di pasar domestik sehingga menjadi andalan untuk sektor industri manufaktur. Industri TPT, tambah dia, juga merupakan salah satu industri penting di Indonesia dan sebagai komoditi andalan industri manufaktur.

Alex mengatakan, kontribusinya sangat signifikan dalam memperoleh devisa ekspor dan penyerapan tenaga kerja, serta mempunyai peran strategis dalam proses industrialisasi karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku atau serat sampai dengan barang konsumsi seperti pakaian mempunyai keterkaitan pada sektor industri maupun sektor ekonomi.

Pemerintah, menurut Alex, optimistis prospek industri TPT akan semakin baik pada masa mendatang karena permintaan pasar di dalam negeri yang terus meningkat serta tingginya konsumsi dunia. "Peluang Indonesia untuk memanfaatkan pasar dunia akan semakin meningkat apabila mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan memenuhi pasokan secara cepat dan tepat," paparnya.

Banyak Kendala

Dalam perkembangan industri TPT, lanjut Alex, banyak kendala yang dihadapi produsen karena umur mesin yang sebagian besar sudah berusia tua. "Faktor usia mesin sangat mempengaruhi produksi industri TPT nasional dan pesaing-pesaing baru seperti Thailand, Bangladesh, Vietnam, dan beberapa negara lain telah mengadopsi teknologi baru dan modern. Terlebih lagi, semakin terbukanya pasar dalam negeri oleh produk-produk impor dari China," ujarnya.

Alex menyatakan untuk meningkatkan kinerja sektor TPT, pemerintah telah meluncurkan program restrukturisasi mesin dan peralatan industri. "Pemerintah berharap dunia usaha dan pelaku usaha pertekstilan dapat memanfaatkan program dengan baik, sehingga industri TPT memiliki daya saing yang baik di dunia internasional," tandasnya.

Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Ramon Bangun mengakui beberapa aturan memang masih menghambat industri TPT. Apa lagi saat ini ekonomi global sedang buruk sehingga industri TPT nasio-nal semakm tergencet. Untuk itu, ia bilang beberapa aturan ini perlu disempurnakan. "Beberapa aturan di sektor TPT perlu disempurnakan agar daya saing industri di dalam negeri tidak tertinggal dari negara lain," ucapnya.

Sekedar informasi, nilai ekspor TPT tahun 2011 mencapai US$13,55 miliar. Tahun ini, angka tersebut diperkirakan akan turun menjadi sekitar US$12,87 miliar saja karena berbagai faktor yang membelit industri TPT.

Sebelumnya, Ernovian G. Ismy mengharapkan dana revitalisasi mesin tekstil dan produk tekstil (TPT) yang nantinya akan digelontorkan oleh pemerintah kepada industri tekstil harus tepat sasaran. “Dana revitalisasi yang tadinya Rp135 miliar lalu dipangkas menjadi Rp100 miliar harus tepat sasaran. Karena bagi produsen dana TPT adalah hal yang utama,” kata Ernovian.

Menurut dia, perusahaan yang bergrak di industri TPT telah mencapai 2.600 perusahaan. “Itu untuk semua katagori mulai dari perusahaan skala kecil, menengah dan perusahaan besar yang totalnya mencapai 2.600 perusahaan,” katanya. Untuk itu, Ernovian meminta agar pemberian dana revitalisasi harus tepat sasaran.

Sedangkan Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ramon Bangun mengatakan, awalnya pemerintah mengusulkan alokasi anggaran program revitalisasi mesin TPT sebesar Rp135 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013. Namun, dalam pembahasan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) anggaran diturunkan menjadi Rp100 miliar untuk menutupi kebutuhan pembiayaan program pemerintah yang dianggap lebih penting. “Untuk anggaran revitalisasi mesin TPT pada 2013 turun menjadi Rp100 miliar dari realisasi tahun ini sebesar Rp145 miliar. Dana sebesar itu normalnya untuk 110-120 perusahaan,” tuturnya.

BERITA TERKAIT

Ikatan Pemulung Akan Adukan Perda Larangan Plastik ke DPR

Ikatan Pemulung Akan Adukan Perda Larangan Plastik ke DPR NERACA Jakarta - Peraturan Daerah (Perda) larangan penggunaan kemasan plastik, menuai…

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Keterampilan Tenaga Kerja di Sektor Industri Terus Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang gencar memacu keterampilan atau kemampuan dari tenaga kerja industri di Indonesia sesuai kebutuhan era…

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…