Harga Saham Mandiri Melorot Pengaruh Dana NII ?

NERACA

Jakarta - Saham industri perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/5) mengalami koreksi sehingga menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah tipis 0,10%. Tekanan terhadap saham perbankan hampir rata terjadi dan tidak terkecuali PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Bahkan bank plat merah ini mengalami koreksi cukup dalam dengan kehilangan 450 poin dalam seminggu terakhir ini.

Pada akhir pekan lalu, perdagangan saham bank Mandiri terkoreksi 50 poin dari Rp 7300, terkoreksi 100 poin ke level Rp 7200, kemudian terkoreksi lagi 200 poin dan terakhir menutup perdagangan awal pekan ini (9/5) saham bank Mandiri belum mampu keluar zona merah, dan terkoreksi 100 poin menjadi Rp 6900.

Indeks BEI sendiri ditutup terkoreksi 13,104 poin (0,35%) ke level 3.785,450. Sementara Indeks LQ 45 ditutup melemah 3,220 poin (0,47%) ke level 674,393. Aksi ambil untung di saham-saham konsumer dan bank memaksa IHSG bertahan di zona merah dalam perdagangan kemarin.

Sebelumnya, berdasarkan pengakuan mantan Menteri Peningkatan Produksi NIl Imam Supriyanto di Mabes Polri, sebagian dana perjuangan "Negara Islam Indonesia (NIl)" sebanyak puluhan miliar rupiah yang semula berada di Bank Century ternyata disebut-sebut dipindahkan ke beberapa bank nasional, termasuk Bank Mandiri dan Bank Kesawan. "Ya, saya dengar waktu Bank Century ditutup, uang tersebut dipindahkan ke Bank Mandiri," ujarnya.

Menurut analis PT Sinarmas Sekuritas Alfiansyah, koreksi terhadap indeks berlanjut akibat merosotnya sejumlah saham perbankan dan industri rokok. Meskipun aksi lepas terhadap saham tersebut tidak besar, toh kedua saham sektor industri itu mengalami koreksi harga.

Penjualan saham itu oleh pelaku pasar tidak sejalan dengan membaiknya nilai tukar rupiah, karena aksi beli mata uang lokal itu oleh pelaku pasar. "Kami memperkirakan indeks masih terkoreksi, karena belum ada faktor positif yang mendorong pelaku membeli saham,"ujarnya.

Dia mengatakan, koreksi ini tidak akan berlangsung lama, karena sejumlah faktor positif sudah menunggu di pasar domestik yang mendorong pelaku asing melakukan pembelian saham. Apalagi Amerika Serikat masih menetapkan suku bunga rendah yang mendorong pelaku asing mencari pasar yang dapat memberikan keuntungan lebih baik.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Kamis lusa pekan lalu, dimana saham industri perbankan dan industri telekomunikasi di BEI melorot akibat dilanda aksi lepas oleh pelaku pasar, setelah data ekonomi AS menyebutkan bahwa banyak perusahaan Amerika Serikat yang mengalami kerugian.

Analis PT First Asia Capital Irfan Kurniawan pernah bilang, merosotnya saham-saham industri perbankan itu sebenarnya tidak ada isu negatif, bahkan sektor perbankan mengalami keuntungan yang berarti. “Saham sektor industri ini hanya terjadi koreksi harga, karena pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah mengalami kenaikan yang cukup tinggi,”tandasnya.

Aksi lepas saham tersebut juga menyusul dengan merosotnya saham-saham di Wall Street, setelah perusahaan besar Amerika Serikat merugi, tambahnya. Sedangkan merosotnya saham industri telekomunikasi, Telkom, menurut dia, karena pelaku asing kurang menyukai saham itu sebab laba yang diraih cenderung flat (datar).

Meski demikian ada juga pelaku asing yang membeli saham tersebut karena perseroan itu akan melakukan buy back (pembelian saham), setelah melakukan Rapat Umum Pemegang Saham pada 20 Mei nanti. Meski demikian, lanjut dia, pelaku asing pada paruh kedua 2011 akan kembali masuk melakukan pembelian saham-saham unggulan yang telah meraih laba bersih cukup besar. “Pelaku pasar asing lebih cenderung bermain di sektor perbankan, saham perkebunan dan perminyakan,”tuturnya.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizki menuturkan, tidak ada kaitan antara turunnya saham Bank Mandiri di pasar modal yang mencapai level 6.900 dengan dugaan Bank Mandiri menjadi tempat menampung dana Negara Islam Indonesia (NII). “Saya melihat nggak ada kaitannya. Turunnya saham Mandiri karena fluktuasi nilai tukar saham dan profit taking. Hal yang sama juga dialami BRI, BRAU, dan Lippo Karawaci,” ujarnya kemarin.

Hal senada juga disampaikan pengamat hokum perbankan Ricardo Simanjuntak, turunnya saham Bank Mandiri ini terlebih karena aksi ambil untung semata. “Tidak ada hubungannya dengan dugaan itu. Kalau suatu emiten turun sahamnya, bisa saja karena berkaitan dengan kesehatan keuangan. Tapi Mandiri sehat,” ujar Ricardo.

Asal tahu saja, banyak sentimen negatif yang menghinggapi pergerakan saham bank Mandiri hingga terkoreksi cukup dalam, selain aksi ambil untung, mungkinkah kabar dugaan bank Mandiri menampung dana NII juga berpengaruh terhadap nilai saham di bursa? ardi/bani

BERITA TERKAIT

PEMERINTAH KAJI INSENTIF LISTRIK BAGI INDUSTRI DAN UMKM - Menkeu Prediksi Defisit APBN 2020 Tidak Lebih 5%

Jakarta-Meski pemerintah memberikan banyak bantuan stimulus dan insentif khusus bagi kalangan industri dan pengusaha UMKM yang usahanya terdampak virus Covid-19,…

Impor, Strategi Amankan Pangan Hadapi Wabah Covid-19

NERACA Surabaya – Ditengah-tengah merebaknya serangan virus covid-19, komoditas pangan tidak terpengaruh. Hal ini penting karena meskipun masyarakat dihimbau untuk…

KEPPRES STATUS DARURAT KESEHATAN TERBIT - Presiden Siapkan Perppu Antisipasi Defisit APBN

Jakarta-Presiden Jokowi akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait pelebaran defisit anggaran menjadi 5,07% dalam UU APBN 2020. Selain…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

JANGAN TERULANG KASUS PENYELEWENGAN BLBI - DPR: Tambahan Dana Covid-19 Rp 405 Triliun Rentan Dikorupsi

Jakarta-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan, pemerintah terkait risiko penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam pelaksanaan aturan baru terkait…

Pelanggan Listrik 1.300 VA Perlu Stimulus Pemerintah

NERACA Jakarta - Analis kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan masyarakat pelanggan listrik 1.300 VA (Volt Ampere) juga…

PEMERINTAH KAJI INSENTIF LISTRIK BAGI INDUSTRI DAN UMKM - Menkeu Prediksi Defisit APBN 2020 Tidak Lebih 5%

Jakarta-Meski pemerintah memberikan banyak bantuan stimulus dan insentif khusus bagi kalangan industri dan pengusaha UMKM yang usahanya terdampak virus Covid-19,…