Pasar Masih Prospektif, Sucorinvest Targetkan Dana Kelola Naik 20%

NERACA

Jakarta- Meski pertumbuhan reksadana nasional diproyeksikan sekitar 15% tidak akan mencapai target hingga akhir tahun 2012, namun kondisi pasar yang sedang berfluktuasi nyatanya memberikan optimisme bagi PT Sucorinvest Asset Management untuk meningkatkan dana kelola sebesar 20% pada tahun 2013 dibanding perolehan tahun ini.

Direktur PT Sucorinvest Asset Management, Christian Hermawan mengatakan, saat ini perusahaan mencatat telah berhasil memperoleh dana kelola sebesar Rp2,6 triliun, atau melebihi target yang ditetapkan di tahun ini, “Pencapaian target Sucorinvest saat ini melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp2,4 triliun sehingga kemungkinan target kami bisa naik sebesar 20% di tahun,”katanya di Jakarta (10/12).

Menurutnya, dari perolehan dana kelola tersebut, sebesar 92% berasal dari reksa dana pendapatan tetap, sementara selebihnya merupakan reksa dana saham dan campuran. Menurut dia, sejauh ini pertumbuhan keseluruhan industri reksa dana saat ini mengalami peningkatan.

Asset under Management (AUM) mengalami peningkatan sebesar Rp 11 triliun, atau dari Rp 150 triliun pada tahun lalu, menjadi Rp171 triliun di tahun ini. Melihat prospek produk reksa dana yang masih akan bertumbuh positif di tahun depan, perusahaan menargetkan untuk menerbitkan reksa dana berbasis Surat Utang Negara (SUN) atau Sucorinvest Government Bond Fund. “Prospeknya sendiri masih cukup besar. Dibanding deposito target return-nya masih cukup tinggi.” ujarnya.

Return Lebih Menarik

Christian mengatakan, untuk reksa dana diperkirakan akan mampu memberikan return sekitar 6-7%. sedang untuk deposito jika dihitung rata-rata per tahun hanya sekitar 5-6%. Sementara untuk penerbitan produk reksa dana tersebut akan direalisasikan pada tahun depan.

Menurutnya, dalam penerbitan produk reksa dana tersebut, perusahaan akan menempatkan mayoritas dananya, atau sekitar 80% dalam Surat Berharga Negara, dan 20% pada surat utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dia menilai, penempatan dana tersebut didasarkan pada pertimbangan likuiditas dan stabilitas. “Selama masih likuid akan menjadi pertimbangan bagi Sucorinvest untuk menampatkan reksa dana pendapatan tetap pada instrumen tersebut.” jelasnya.

Dia juga menambahkan, kondisi makro yang cukup baik saat ini dan yield yang masih cukup menarik dan cenderung stabil dapat menarik pertumbuhan investor, khususnya investor pemula pada industri reksa dana.

Selain itu, dana minimum untuk produk reksa dana baru ini hanya sebesar Rp 250.000. Pihaknya mencatat, saat ini pertumbuhan jumlah investor pada industri reksa dana masih sebesar 170.00 orang. Angka tersebut masih sangat jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 200 juta penduduk. Karena itu secara prospektif jumlah investor reksa dana masih akan terus mengalami pertumbuhan.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Denny R Taher, minimnya investor reksa dana dibanding jumlah penduduk Indonesia menjadi tantangan bagi industri reksa dana.

Hal tersebut menjadi sangat ironis di tengah melesatnya kelas menengah Indonesia. Berdasarkan survey Bank Dunia tahun 2010, populasi kelas menengah dengan pengeluaran US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari mencapai sekitar 134 juta.

Pihaknya mencatat, jika dibanding negara lain, persentase dana kelolaan reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sangat rendah. Di tahun 2011, persentasenya hanya 2,2% dari total PDB Indonesia senilai Rp 7.427 triliun. Sementara di tahun 2010, di Malaysia persentasenya sudah sekitar 49%, Thailand 20% dan Filipina yang sudah mencapai 19,5%. (lia)

BERITA TERKAIT

Ancaman Covid-19 - Reksa Dana Terproteksi Marak Diterbitkan

NERACA Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal saham lesu, namun minat penerbitan produk investasi di pasar masih ramai. Berdasarkan siaran…

Jaga Stabilitas Harga Sahan - Telkom Buyback Saham Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Melaksanakan anjuran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi dan melakukan stabilisasi harga saham…

Dukung Physical Distancing - Sisternet-Siberkreasi Lakukan Kelas Edukasi Online

NERACA Jakarta - Mewabahnya COVID-19 di Indonesia tidak menghalangi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melalui Sisternet untuk terus melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…