Minim IPO BUMN Dituding Picu Gagalnya Target BEI

NERACA

Jakarta - Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, tidak tercapainya target IPO tahun ini sebanayak 25 emiten karena dipengaruhi melesetnya target IPO BUMN, “Mungkin ini salah satunya dipengaruhi oleh IPO BUMN yang ragu-ragu dan tertunda, padahal kalau target IPO BUMN terpenuhi target 25 (emiten) itu bisa tercapai. Apalagi target 25 emiten itu moderat saja, sudah beberapa tahun terakhir, targetnya segitu saja," katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Kemudian disinggung soal target IPO 30 emtien tahun depan, kata Budi, target tersebut akan sulit tercapai. Pasalnya, ditahun ini saja target tersebut tidak tercapai, tentunya target 2013 sebanyak 30 emiten juga tidak akan tercapai.

Selanjutnya, belum pulihnya sentimen krisisi ekonomi global juga menjadi faktor yang harus diperhatikan. Alhasil, perusahaan yang membutuhkan dana akan lebih menjadi sumber pendanaan dari sektor lain, seperti lewat penerbitan obligasi atau pinjaman ke bank dibandingkan harus melepas saham perdana atau initial public offering (IPO).

Dia juga menambahkan, saat ini suku bunga bank terhadap kredit korporasi tergolong rendah. "Kalau perusahaan sudah berdiri lama, maka dia akan punya hubungan baik dengan bank. Dengan begitu, dia akan lebih mudah dapat kredit dengan bunga rendah. Apalagi sekarang ada kapasitas tambahan dari kredit sindikasi juga dan banyak bank yang sedang mengejar pertumbuhan kredit (korporasi)," jelasnya.

Sementara lewat IPO, lanjutnya, perusahaan akan memulai hal yang baru lagi. Kondisi ini diperburuk dengan kondisi global yang masih tidak menentu. Maka tidak heran, jika di luar negeri ada goncangan sedikit sja, maka investor asing bisa mundur lagi berinvestasi saham, “Karena itu, investor asing memilih membeli bonds pemerintah dan sebagainya yang dianggapnya lebih aman,"ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen pernah bilang, target IPO sebanyak 25 emiten di tahun ini ternyata tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan. Pasalnya, hingga akhir tahun BEI memperkirakan hanya dapat memenuhi sebanyak 23 emiten dengan nilai IPO sebesar Rp8,56 triliun, atau lebih kecil dibanding tahun 2011 yang mencapai Rp19,59 triliun. “Ada sebanyak sembilan calon emiten pindah ke Januari 2013 sehingga penawaran saham perdana hanya 23 emiten pada 2012,”jelasnya.

Dia menuturkan, pada Desember 2012, BEI hanya mencatatkan penambahan dua perusahaan yang berhasil melakukan IPO, yaitu PT Waskita Karya Tbk dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk.

Menurut dia, beberapa calon emiten yang mundur tersebut dikarenakan belum ditemukannya kecocokan harga oleh pihak manajemen perusahaan. Dari sembilan perusahaan tersebut, lanjut Hoesen, ada sekitar tujuh perusahaan yang benar menunjukkan komitmen untuk melakukan IPO pada Januari 2013 sehingga nilai IPO tahun ini diperkirakan hanya mencapai Rp8,56 triliun. Angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai penawaran saham perdana pada 2011 yang mencapai Rp19,59 triliun. (ria)

BERITA TERKAIT

Kebijakan Pemerintah dan BI untuk Mengejar Target Devisa Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa…

DAMPAK BANYAK BENCANA DI INDONESIA - Target Devisa Pariwisata Turun US$2,4 Miliar

Jakarta-Pemerintah menurunkan target penerimaan devisa sektor pariwisata tahun ini dari semula US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar. Penurunan dilakukan walaupun pemerintah sebenarnya ingin…

Dominasi BUMN Dianggap Hambat Investasi

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyebutkan ada lima faktor yang menghambat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kedawung Bukukan Laba Rp 76,76 Miliar

PT Kedawung Setia Industri Tbk (KDSI) pada akhir  Desember  2018 mencatatkan laba bersih Rp76,76 miliar  atau naik 11,32% dibanding periode yang sama…

Penjualan Wahana Pronatural Naik 33,11%

Sepanjang tahun 2018, PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) mencatatkan penjualan sebesar Rp308,57 miliar pada 2018. Perolehan tersebut meningkat 33,11% dibandingkan dengan…

Kali Kedua Saham Onix Capital Disuspensi BEI

Lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menghentikan perdagangan saham PT Onix Capital Tbk (OCAP) akibat lonjakan harga. Ini adalah…