Laju Pertumbuhan Ekspor 2013 Relatif Stagnan

NERACA

Jakarta - Peluang perekonomian global saat ini untuk tumbuh lebih signifikan terbatas karena belum dapat mengharapkan pertumbuhan ekspor yang kuat tahun depan. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengatakan, ekspor Indonesia pada 2013 diperkirakan relatif stagnan dengan laju pertumbuhan antara 0 – 0,5%.

“Dengan demikian, angka ini masih lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan ekspor sebesar 1,8% pada 2012,” ujarnya, Senin (10/12). Dengan demikian, sepanjang 2013 ekspor sulit untuk tumbuh karena kondisi global yang masih lemah. Ekspor diperkirakan sedikit mengalami kontraksi di awal 2013, lalu pertumbuhan ekspor cenderung stagnan sepanjang tahun.

Maka, menurut Nina, kontribusi ekspor pun tidak terlalu banyak memengaruhi pertumbuhan ekonomi. “Pesannya, kita tidak tergantung pada ekspor, lebih pada produksi dalam negeri. Indonesia tumbuh karena dalam negerinya kuat. Karena kalau mengandalkan ekspor, kontribusinya kecil dan yang kita ekspor itu juga raw meterial sehingga tidak menguntungkan,” jelasnya.

Sehingga, Nina sebagai anggota Komite Ekonomi Nasional, mengimbau pemerintah agar menjaga konsumsi dalam negeri bisa mencapai kisaran 6,1%, dengan catatan jangan mengandalkan ekspor. “Bukan tanpa ekspor. Ekspor tetap ada tapi jangan diandalkan,” ujarnya.

Kinerja dua ekspor utama non-migas Indonesia (bahan bakar mineral dan lemak hewan/nabati),walaupun tertekan, masih mengalami pertumbuhan. Tekanan harga di pasar global membuatpertumbuhan keduanya sulit untuk tumbuh dengan signifikan pada 2012.

Keadaan diperkirakan tidak berubah terlalu signifikan pada 2013 sehingga ada peluang cukup besar kinerja ekspor kedua produk utama tersebut relatif stagnan. Mengingat kontribusinya yang amat siginifikan dalam ekspor Indonesia secara keseluruhan, sulit untuk mengharapkan kenaikan kinerja ekspor yang signifikan di 2013.

“Tidak gampang, karena harga dunia bukan kita yang tentukan. Bahkan yang diisukan sebagai kartel kebutuhan pokok, tidak besar pengaruh kita untuk harga internasional. Kita tidak bisa melawan pasar kartel. Yang bisa kita lakukan adalah diversifikasi barang yang tidak bisa dikartel,” ujar Nina.

Diversifikasi barang, menurut dia, bisa menjadi salah satu penyelamat dalam pertumbuhan ekonomi. Namun yang utama menjadi penyelamat adalah konsumsi dan investasi dengan menjaga inflasi. “Caranya adalah menjaga inflasi. Jangan sampai ada ledakan inflasi. Investasi itu jangan sampai ada chaos. Yang penting investasi tetap aman. Problem kita adalah pertahankan ini, karena kalau ada krisis, seperti di Eropa shock, lalu kena ke kita. Itu dikhawatirkan. Jangan sampai kita punya jaring pengaman sosial terkena gangguan eksternal sehingga memengaruhi konsumsi domestik,” terang Nina.

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Bisnis - Sentral Mitra Informatika Bidik Pasar Hotel di Bali

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan, PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) membidik pasar perhotelan di Bali dengan menawarkan manager…

DAK Dikelola dengan Baik Mampu Akselerasi Pertumbuhan

  NERACA   Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Anwar Sanusi mengatakan Dana Alokasi Khusus…

Pertumbuhan Ekonomi Tergantung Waktu

    NERACA   Jakarta - Direktur Riset Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), Berly Martawardaya, memprediksi laju pertumbuhan ekonomi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anggaran untuk Pembangunan Infrastruktur Naik 4,9%

  NERACA Jakarta - Pemerintah berencana untuk menggelontorkan anggaran infrastruktur dari APBN 2020 sebesar Rp419,2 triliun atau meningkat 4,9 persen…

Manipulasi Perintah Hakim, Jaksa Agung Dinilai Abaikan Larangan Presiden

  NERACA Jakarta - Pada pidato Sidang Tahun DPR/MPR 16 Agustus kemarin, Presiden Joko Widodo menginginkan tidak adanya ego sektoral…

Anggaran Pindah Ibukota Tak Masuk APBN 2020

  NERACA Jakarta -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah belum mengandalkan belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan…