KEN: Inflasi 2013 Akan 4,3-4,9%

NERACA

Jakarta - Komite Ekonomi Nasional (KEN) memproyeksikan laju inflasi pada 2013 di kisaran 4,3-4,9%, dengan nilai tengah 4,6%. Dengan demikian, maka pada tahun itu, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 5,5-5,75%. KEN juga memperhitungan nilai fundamental nilai tukar rupiah berada di bawah Rp9.500 per dolar.

“Biasanya rupiah sulit bergerak terlalu jauh dari nilai fundamentalnya untuk waktu yang terlalu lama. Jadi, ada prospek rupiah untuk menguat ke level yang lebih sesuai dengan nilai fundamentalnya. KEN memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2013 akan cenderung menguat ke kisaran Rp9059 – 9.545 per dolar,” ujar Ketua KEN Chairul Tanjung, Senin (10/12).

Menurut Chairul, ekonomi Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh, walau terjadi perlambatan di perekonomian global. Saat ini, perekonomian Indonesia masih berada pada fase pertumbuhan dari siklus bisnisnya. Data historis menunjukkan, biasanya ekonomi Indonesia dapat tumbuh selama sekitar 7 tahun (rata-rata). Indonesia baru memasuki fase pertumbuhan lagi padaMaret 2009. “Jadi, terdapat peluang yang besar perekonomian Indonesia masih akan beradadalam fase pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan (sampai 2016),” lanjutnya.

Sebelumnya, Senior Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, jika pemerintah memutuskan menggunakan kewenangannya untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi , inflasi diperkirakan mencapai 7%. Bila memang tahun depan naik, kata dia, sudah pasti kenaikan harga BBM bersubsidi akan berpengaruh cukup besar pada kenaikan hingga akhir tahun 2013.

Dia memprediksikan, setelah memperhitungkan kenaikan tarif listrik dan kenaikan upah buruh (UMP/upah minimum provinsi), angka inflasi akan mencapai 5-5,5%. Sedangkan inflasi akhir tahun ini prediksinya masih di kisaran 4,5%. "Kalau harga BBM naik tahun depan, inflasi akhir 2013 bisa sampai 7%. Prediksi inflasi 5% sampai 5,5% dengan asumsi BBM tidak naik, hanya TDL dan upah buruh saja yang naik tahun depan," katanya.

Tumbuh Pesat 2013

Chairul mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi pada 2013 akan didukung terutama oleh konsumsi dan investasi. Pada 2013, perekonomian Indonesia diperkirakan terus tumbuh, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan pada 2012. Laju pertumbuhan di atas 6% akan terjadi pada seluruh triwulan. “Dengan demikian, untuk 2013, perekonomian kita diperkirakan tumbuh dengan laju pada kisaran 6,1 – 6,6%,” tambahnya.

Batas atas akan tercapai, lanjut Chairul, bila kondisi perekonomian global mengalami perbaikan yang lebih baik dari perkiraan. Sedangkan pertumbuhan hanya akan berada pada batas bawah kisaran tersebut bila Eropa belum dapat keluar dari resesi pada 2013. Dari pertumbuhan tersebut, belanja rumah tangga akan memberi kontribusi sekitar 2,6 - 2,9% dari pertumbuhan.

Sementara itu, investasi memberi kontribusi sekitar 2,7 - 2,8% dari pertumbuhan pada 2013. Kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan hanya sekitar 0,0 – 0,2%. Artinya, perekonomian Indonesia pada tahun 2013 akan mengandalkan kekuatan domestik.

9 Rekomendasi

Adapun rekomendasi KEN untuk pemerintah yang perlu dilakukan secepatnya yaitu pada saat keadaan perekonomian baik, bukan pada saat keadaan perekonomian kurang baik. Pertama, antisipasi krisis global dengan memonitor perkembangan krisis global, terutama krisis ekonomiyang berpotensi memburuk di Uni Eropa dan Amerika Serikat, serta perkembangangeopolitik di Timur Tengah.

“Pemerintah harus menyiapkan diri dengan seksama untuk mengambil tindakan cepat dan terukur, sehingga kepercayaan pelaku ekonomi tetap terjaga baik. Payung hukum Jaring Pengaman Sistim Keuangan (JPSK) menjadi prioritas dalam persidangan DPR pada 2013, sehingga para pembuat kebijakan tidak merasa gamang mengambil tindakan dalam keadaan krisis,” terang Chairul.

Kedua, perlu dipersiapkan ruang fiskal yang cukup, sebagai amunisi untuk dapat dipakai menjadi fiskal stimulus pada saat terjadi tekanan ekonomi yang berasal dari global. Ruang fiskal berupa cadangan yang dapat sewaktu-waktu digunakan ini dapat diperoleh dari penggunaan belanja yang berkualitas. “Kualitas belanja pemerintah dapat diperbaiki melalui penggunaan anggaran rutin secara efisien serta belanja barang dan modal dengan efektif dan tepat sasaran,” jelas Chairul.

Ketiga, evaluasi subsidi, BBM, listrik, dan subsidi lainnya perlu dilakukan secara menyeluruh. Keempat, pemerintah bersama swasta perlu memperbaiki efisiensi mesin perekonomian. Tingginya Incremental Ouput to Capital Ratio (ICOR) merupakan refleksi dari ketidakefisienanpenggunaan modal untuk menghasilkan output. “Penurunan ICOR harus diusahakan agarIndonesia dapat menaikkan produktivitas perekonomian nasional,” ujar Chairul.

Kelima, perbaikan daya saing. Keenam, kemampuan ekonomi nasional untuk menciptakan lapangan kerja harus menjadi prioritas kebijakan pemerintah. Ketujuh, Pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap permasalahan ketenagakerjaan secara komprehensif dan mengambil insiatif untuk menjembatani kebuntuan perundingan mengenai ketenagakerjaan. Kedelapan, pengurangan kesenjangan dan perlindungan sosial. Terakhir, menjaga daya beli dan daya tahan ekonomi domestik.

BERITA TERKAIT

Ikatan Pemulung Akan Adukan Perda Larangan Plastik ke DPR

Ikatan Pemulung Akan Adukan Perda Larangan Plastik ke DPR NERACA Jakarta - Peraturan Daerah (Perda) larangan penggunaan kemasan plastik, menuai…

Permen PUPR Soal Rusun Akan Dijudical Review

        NERACA   Jakarta - Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Persatuan…

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal

BPOM: UU POM Akan Perkuat Penindakan Produk Ilegal NERACA Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Permen PUPR Soal Rusun Akan Dijudical Review

        NERACA   Jakarta - Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Persatuan…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…