Pemerintah Harus Serius Perangi HIV - Tumbuh Pesat

Pertumbuhan Epidemi HIV di Indonesia sudah sangat memperhatinkan. Hasil Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2011 menunjukkan angka prevalensi orang terinfeksi HIV di kalangan Pengguna Napza Suntik 42,4%, Waria 23,2%, Wanita Penjaja Seks (WPS) Langsung 9,3%, dan Lelaki Seks Lelaki (LSL) 12,4%.

Sedangkan Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sejak pertama kali kasus HIV ditemukan yaitu pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 terinfeksi HIV di 33 provinsi di Indonesia. Jumlah kasus HIV tertinggi adalah di DKI Jakarta sebanyak 20.126 kasus.

“Persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46%). Rasio kasus AIDS antara laki-laki 71% dan perempuan 28%,” ungkap Menkes RI Nafsiah Mboi.

Selama periode pelaporan bulan Januari hingga Maret 2012, persentase kasus tertinggi adalah hubungan seks tidak aman (80%), penggunaan alat suntik bergantian pada pengguna napza suntik (8,5%), dan dari ibu ke anak (5,1%), tuturnya.

Ini diperlukan penangganan yang serius bagi pemerintah, berbagai program yang dilakukan menggenai strategi dan rencana aksi nasional untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS telah disusun untuk jangka waktu 2012 sampai dengan 2014. Sedangkan, Instruksi Presiden No 3/2010 tentang Pembangunan Berkelanjutan telah menyatakan komitmen nasional untuk mempercepat upaya nasional mencapai tujuan MDGs, termasuk HIV dan AIDS.

Dengan itu Indonesia akan terus meningkatkan kualitas program secara intensif terutama mendorong perubahan perilaku aman yang konsisten pada populasi kunci. Cakupan program pada target populasi kunci minimal sebanyak 80% untuk menekan laju infeksi baru.

Stigma dan Diskriminasi

Stigma masyarakat menambah berat masalah sosial yang dialami orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) terutama ODHA perempuan. Masyarakat cenderung menganggap HIV dan AIDS hanya dialami oleh perempuan penjaja seks, padahal saat ini telah banyak perempuan yang tidak melakukan perilaku berisiko, namun terinfeksi dari pasangan tetapnya (suami), dan hal ini berdampak pada anak.

Adanya stigma dan diskriminasi berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Pengidap HIV dan AIDS dapat kehilangan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagian mengalami keretakan rumah tangga hingga mengalami perceraian.

Meningkatnya jumlah anak yatim dan piatu akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu perlu ada perhatian khusus terhadap persoalan stigma dan diskriminasi untuk mendukung program-program penanggulangan AIDS di masa mendatang.

Makin meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS pada perempuan dimana mereka tidak berperilaku seksual berisiko tinggi namun tertular HIV dari pasangan tetapnya yang berperilaku seksual berisiko tinggi amat memprihatinkan.

Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan terhadap HIV dan AIDS dari orang tuanya yang terinfeksi HIV dalam proses persalinan, menyusui, dan melalui media lain seperti transfusi darah. Oleh karena itu, saat ini program-program ditujukan khususnya untuk menyasar pada penguatan hak-hak reproduksi dan penguatan posisi tawar perempuan.

Di banyak tempat di dunia, ditemukan bahwa infeksi HIV pada perempuan atau remaja putri tidak semata-mata disebabkan oleh ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan cara-cara pencegahan.

Seringkali infeksi HIV terjadi karena mereka tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi, sehingga tidak mempunyai posisi tawar untuk melindungi diri. Ini juga disebabkan oleh lingkungan adat istiadat dan budaya dimana mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan.

Kampanye AIDS Sedunia 2012 kali ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mempengaruhi masyarakat untuk berhenti menutup mata terhadap kekerasan pada perempuan dan anak serta mengingatkan akan kewajiban masyarakat untuk melindungi dan memberikan tindakan hukum terhadap oknum-oknum yang melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

BERITA TERKAIT

Volume Penjualan SMCB Tumbuh 4,08%

Di kuartal pertama 2019, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatatkan pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 4,08%. Dalam data perseroan…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal… NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat meyakini pilpres 2019 sangat membawa pengaruh pada kondisi…

Konsumsi Pasar Global Meningkat - Penjualan Mark Dynamics Berpeluang Tumbuh

NERACA Deli Serdang – Permintaan sarun tangan karet global yang terus meningkat tiap tahunnya, menjadi berkah tersendiri bagi PT Mark…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Angka Harapan Hidup Global Meningkat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan angka harapan hidup global sebesar 5,5 tahun dalam rentang 2000 hingga 2016. Wanita diprediksi…

Olahraga Secara Rutin Bisa Cegah Cacat Saat Tua

Kehilangan kemampuan bergerak melakukan aktivitas sehari-hari merupakan masalah yang banyak dialami orang tua. Untuk mencegah masalah kemampuan gerak ini, peneliti…

Makanan Ini Bisa Mencegah Penyakit Jantung dan Darah Tinggi

Menjaga kesehatan jantung tak hanya dengan menghindari makanan cepat saji dan makanan yang diproses berlebihan. Beberapa makanan bahkan baik dikonsumsi…