Kerjasama dan Kolaborasi Harus Dilakukan Semua Stakeholder - Ciptakan Indonesia Lebih Baik

Menciptakan masa depan Indonesia yang lebih baik merupakan tanggungjawab semua rakyat Indonesia, Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama untuk mengurangi masalah-masalah sosial yang dapat ditanggulangi dengan bentuk dan alokasi program tanggung jawab sosial yang tepat.

NERACA

Indonesia, negara yang konon katanya merupakan negeri atlantis yang hilang (the lost atlantis) mengandung berbagai potensi sumber daya yang melimpah ruah. Namun dibalik kekayaan yang menghiasinya, negeri tercinta ini dihadapkan dengan beragam permasalahan sosial. Layaknya penyakit kronis, permasalahan ini berakar dari hal - hal yang sangat krusial, seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan dan lain-lain.

Masalah sosial yang muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada telah melahirkan kesadaran dari berbagai pihak, khususnya perusahaan, baik itu perusahaan milik negara ataupun swasta.

Perhatian tersebut pun dicurahkan sebagai wujud tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar atau lebih dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Tak tanggung-tanggung, dengan dana yang tidak sedikit, beragam kegiatan pun dilakukan demi menciptakan Indonesia yg lebih baik. Diharapkan dengan adanya ProgramTanggung jawab Sosial yang dilakukan perusahaan, berbagai manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat, diantaranya adalahkesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

Keterlibatan dunia usaha dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial melalui CSR menjadi bukan hanya penting, tetapi esensial. Praktek CSR yang ada di masing-masing korporasi saat ini bukan karena peraturan pemerintah, tetapi karena di masing-masing perusahaan sudah menjadikan etika sosial sebagai bagian dari praktek bisnis.

Harus diakui bahwa untuk menyelesaikan masalah sosial di Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Konsep institut bisnis sosial serta pelaksanaan yang sangat matang mutlak diperlukan dalam mengaplikasikan program CSR agar memberikan dampak yang signifikan.

Nah untuk itu, diperlukan program sosial untuk menjawab permasalahan sosial di Indonesia. Namun, jika program yang dijalankan tanpa kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, maka dapat dipastikan dampak yang dihasilkan pun tidak maksimal.

“Perusahaan memiliki berbagai macam pemangku kepentingan. Jika perusahaan ingin memberikan dampak yang luas dari program CSR yang dijalankannya, maka pilihan utama hanya ada pada kemitraan. Jika perusahaan melaksanakan program CSR tanpa ada kerjasama dengan elemen masyarakat lainnya, maka tinggi kemungkinan bahwa program tersebut akan gagal,” kataExecutive Director Indonesia Business Links (IBL), Yanti Triwadiantini Koestoer.

Hal senada juga diungkapkan oleh Praktisi dan Akademisi CSR & Social Entrepreneurship, Dr. Maria R Nindita. Wanita yang akrab disapa Nita ini menuturkan, demi menciptakan program CSR yang berkelanjutan, kerjasama antara perusahaandengan elemen masyarakat harus dimulai sejak proses awal implementasi program CSR tersebut.

Selain itu, lanjut Nita, kolaborasi antara tiga sektor dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan juga harus dilaksanakan. “Tiga sektor yang dimaksud adalah pemerintah, swasta, dan organisasi sektor tiga (OST), seperti universitas, yayasan, perkumpulan, dan organisasi nirlaba lain,” ujarnya.

Nita mengungkapkan, banyak perusahaan telah bekerja sama dengan OST telah memberikan dampak positif. Misalnya, kerja sama Unilever dengan Oxfam dalam program menghitung dampak program “pengurangan kemiskinan yang berkelanjutan”.

Di Indonesia, lanjut Nita, Arthur Guiness bekerja sama dengan British Council Jakarta (BC). BC kemudian juga bekerja sama dengan universitas dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengadakan kompetisi wirausaha sosial, selanjutnya memberikan seed fund (dana awal) bagi para pemenang.

Agar program-program CSR yang dijalankan oleh korporasi-korporasi di Indonesia menjadi efektif dan berkelanjutan, kemitraan harus dipahami secara mendalam. Kepercayaan antara setiap pemangku kepentingan, baik itu dari dalam maupun dari luar perusahaan, menjadi kunci sukses program CSR. Selain itu, kemitraan harus berprinsip pada sharing resiko dan manfaat.

“Setidaknya ada 3 prinsip utama yang menjadi pijakan dalam menjalin kemitraan, yakni masalah kesetaraan, transparansi, dan yang pasti harus saling menguntungkan agar berkelanjutan,” tambah Yanti.

BERITA TERKAIT

PKB Harus Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman

PKB Harus Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman NERACA Jakarta - Pasca pelaksanaan muktamar di Nusa Dua, Bali, Partai Kebangkitan Bangsa dinilai…

Lebih Meriah, Gelaran Kedua ISSOM Night Race 2019

Lebih Meriah, Gelaran Kedua ISSOM Night Race 2019 NERACA Jakarta - Sukses digelar pertama kali pada tahun lalu, Event bergengsi…

Lepas 414 Juta Saham Ke Publik - Telefast Indonesia Bidik Dana IPO Rp 80 Miliar

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) bakal membawa anak usahanya PT…

BERITA LAINNYA DI CSR

Kampanyekan Mulai Bijak Sampah Plastik - Unilever Ubah Peduli Lingkungan Jadi Gaya Hidup

Darurat sampah plastik yang merusak lingkungan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Berangkat dari semangat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan bagian…

Tekan Angka Anak Jalanan - Pemkot Surabaya Berdayakan Jadi Barista

Masalah sosial seperti gelandangan dan anak jalan masih menyelimuti beberapa kota besar di Indonesia, maka dalam rangka menekan jumlah anak…

Cetak Developer Muda - Indosat Gelar Roadshow ID Camp di UNDIP

Indosat Ooredoo melalui program tanggung jawab perusahaan (CSR) pilar pendidikan telah meluncurkan IDCamp, sebuah program yang dirancang untuk mencetak developer/programmer…