Arisan, Pola Pembiayaan Secara Gotong Royong

Bagi kalangan ibu-ibu PKK, arisan telah menjadi menu utama kegiatan rutin mereka. Biasanya, setiap bulan pertemuan khusus ibu-ibu yang tergabung dalam ‘klub’ PKK dilaksanakan. Selain untuk menginformasikan perkembangan terkini seputar dunia PKK, pengurus juga mengadakan undian atau akrab disebut kocokan.

NERACA

Tiap putaran, yaitu setiap periode pertemuan, diambil tidak hanya satu, tapi bisa dua atau tiga. Jumlah pemenang kocokan biasanya ditentukan oleh jumlah peserta arisan. Kalau misalnya peserta sebanyak 20 orang, kocokan diambil dua orang. Jadi tiap putaran selama 10 bulan. Namun, biar periode arisannya selesai tepat setahun atau 12 bulan, jumlah pesertanya sering digenapkan menjadi 24 peserta. Ada empat orang merangkap ikut arisan.

Setiap nama peserta arisan ditulis dalam secarik kertas ukuran kecil dan digulung agar tak kelihatan namanya. Setiap putaran, gulungan kertas berisi nama peserta arisan diundi untuk menentukan siapa yang memperoleh arisan periode itu.

Ada kalanya, arisan dilakukan secara mandiri oleh sejumlah orang atau ibu-ibu. Arisan diadakan untuk mencukupi kebutuhan dana keluarga. Misalnya untuk membayar uang gedung sekolah baru si anak, untuk membeli barang elektronik, kendaraan, atau merehab rumah.

Misalnya peralatan rumah tangga untuk memasak maupun benda-benda elektronik lainnya. Jika harga barang Rp2 juta dan jumlah peserta arisan 10 orang, maka iuran tiap bulannya cukup Rp 200 ribu untuk satu kali penarikan.

Kalau ingin cepat, iuran dinaikkan menjadi Rp200 ribu, dan setiap bulan ada dua orang yang mendapat giliran menerima barang itu. Dalam lima bulan seluruh peserta sudah menerima barang yang diidam-idamkannya. Khusus arisan barang, harus berhati-hati, karena menyangkut inflasi dan kemanfaatan barang itu pada akhir undian arisan. Yang mendapat undian pertama, memperoleh manfaat barang itu lebih dulu. Sebaliknya, yang terundi belakangan, bisa jadi barang itu sudah ketinggalan zaman.

Pola Pembiayaan

Ada dua esensi dari diadakannya arisan. Pertama, mengandung unsur gotong royong, atau saling membantu antarpeserta arisan. Total jumlah iuran arisan tiap periode, biasanya bulanan itulah nilai yang akan kita terima jika kita mendapat giliran.

Kedua, berutang dan menabung. Bagi yang mendapat giliran awal memperoleh arisan, sama artinya dia berutang kepada teman-temannya yang belum mendapat giliran. Sebaliknya, mereka yang belum mendapat giliran memperoleh kocokan, berarti yang bersangkutan menabung.

Berutang dan menabung adalah dua pola pembiayaan. Tak ada yang terbebani dengan arisan, tapi justru terbantu. Sebab, arisan tidak mengenal beban bunga dan biaya administrasi, kecuali, misalnya, ada iuran tambahan untuk membeli konsumsi. Besaran iuran arisan tentu saja ditetapkan bersama berdasarkan kemampuan peserta.

Untuk arisan di tingkat RT atau RW, besaran arisan berdasarkan tingkat ekonomi anggotannya, biasanya diukur dari yang paling rendah, jadi tidak memberatkan. Dengan demikian, hasil perolehannya juga tidak besar. Yang penting, arisan di kampung itu diadakan untuk mengikat warga agar datang ke perjamuan tiap bulan di pos RT atau RW.

Sedangkan arisan yang diadakan di luar PKK, biasanya besar iuran jauh lebih besar dari arisan RT atau RW, karena arisan itu memilih yang derajat ekonominya sepadan. Mereka berhimpun karena mempunyai kepentingan yang sama. Untuk kelompok arisan ‘swasta’ itu biasa dilakukan di keluarga dan teman sekantor.

Jika arisan diadakan dalam sebuah pertemuan, yang disarankan adalah bagaimana mengisi pertemuan itu tidak sekadar untuk berarisan. Tapi harus diisi dengan hal-hal yang positif selain untuk menjalin tali persaudaraan. Misalnya diisi ceramah tentang hal-hal yang bermanfaat. Ada kalanya, penarikan arisan tidak membutuhkan pertemuan mengingat waktu dan tempat tinggalnya jauh atau masing-masing punya kesibukan yang berbeda-beda, jadi sulit untuk berkumpul.

Dalam sejumlah literatur Islam, tidak ada yang melarang diadakannya arisan, karena soal muamalat (kemasyarakatan) itu justru terkandung unsur tolong-menolong dan saling percaya. Unsur percaya di sini diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan mereka yang mendapat arisan terdahulu ‘ngemplang’ tak mau membayar iuran berikutnya. Namun kalau itu terjadi, biasanya koordinator arisan akan meminta pertanggungjawaban peserta arisan lain yang memberi referensi.

Jika ada anggota terkena musibah dan tak mampu lagi melanjutkan arisan, unsur tolong-menolong di sini kembali dipertaruhkan. Anggota lain dituntut kerelaannya untuk membantu agar jalannya arisan tetap berjalan dan yang terkena musibah terkurangi beban hidupnya. (saksono)

BERITA TERKAIT

Pertambangan - Lebih Efisien, Batu Bara Mulai Diperdagangkan Secara Digital

NERACA Jakarta – E-commerce atau pemasaran digital melalui dunia maya sudah merambah sektor bisnis pertambangan, terutama batu bara. Perusahaan tambang…

Tingkatkan Produktivitas - Perlu Kembangkan Teknologi Pertanian Secara Besar-Besaran

NERACA Jakarta – Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mendorong pemerintah untuk mengembangkan teknologi pertanian secara besar-besaran di Indonesia,…

Sektor Kelistrikan Perlu Evaluasi Secara Menyeluruh

NERACA Jakarta – Padamnya listrik (blackout) pada 4-5 Agustus 2019, menjadi momentum yang penting untuk mengevaluasi dan menata kembali sistem…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…