KKP Tantang Pemuda Terjun Ke Industri Kelautan

NERACA

Jakarta - Sebagai negara yang 70% kawasannya berupa perairan dan laut serta belasan ribu pulau, Indonesia memiliki potensi yang menggairahkan untuk mengembangkan ekonomi berbasiskan kelautan dan perikanan. Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menantang para pemuda untuk terjun dalam industri kelautan.

“Optimalisasi pemanfaatan sektor kelautan dan perikanan tentunya dapat berjalan jika para pemuda turut terjun langsung untuk mengelola potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang bersandar pada prinsip-prinsip blue economy. Sehingga bisa memberikan kontribusi positif terhadap percepatan pembangunan industrialisasi kelautan dan perikanan khususnya pada perekonomian nasional,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo dalam siaran persnya, Minggu (9/12).

Sharif menjelaskan, konsepsi blue economy menawarkan platform yang luas dari ide-ide inovatif, sehingga dapat merangsang kaum muda untuk berwirausaha di setiap sektor bisnis kelautan dan perikanan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan. Blue Economy harus dipahami sebagai upaya untuk model bisnis yang mampu melipatgandakan pendapatan yang diikuti dengan terserapnya tenaga kerja dan peningkatkan nilai tambah (value added).

Di dalam penerapannya konsepsi blue economy dapat mengolah limbah dari satu produk menjadi bahan baku bagi produk lain serta mampu menghasilkan lebih banyak produk turunan (zero waste) pada seluruh rantai produksi. Pemanfaatan tersebut selain dapat menurunkan tingkat pencemaran lingkungan, juga mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses industri.

Filosofi Blue Economy ini semakin menjanjikan, selain mampu memberikan kontribusinya pada ketahanan pangan Indonesia yang didapatkan dari pemanfaatan hasil laut dari sektor perikanan, lalu berkurangnya pengangguran karena hasil pemberdayaan daerah laut dan pesisir yang dapat memunculkan lapangan pekerjaan baru, juga merupakan konsep yang tentunya mendukung upaya ramah lingkungan.

Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu disikapi dengan peningkatan peran bidang penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Perguruan tinggi sebagai center of excellence diharapkan mampu menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan dengan cara pandang baru yakni education for sustainable development within blue economy.

Hal tersebut tentunya, perlu ditopang dengan riset dasar dan pengembangan teknologi kelautan dan perikanan. Pasalnya, di dalam penerapan konsep blue economy membutuhkan dukungan pengetahuan dan teknologi (cutting-edge innovations), yang tidak hanya mampu memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, tetapi lebih konkritinovasi dalam sistem produksi bersih tanpa limbah.

Sebagai contoh penerapan teknologi dengan paradigma tersebut yaitu, ikan segar yang dapat diolah menjadi enam jenis produk turunan seperti, ikan kaleng, beku, tepung ikan, minyak ikan, makanan ternak, kulit samak, gelatin, dan kerajinan. Tak hanya itu, komoditas rumput laut mampu menghasilkan agar-agar, karaginan, dan alginate dapat diolah menjadi 16 jenis produk baru.

Selain itu, terdapat berbagai potensi lainnya yang menggiurkan untuk mengembangkan usaha dan investasi dengan mengadopsi model blue economy, yaitu produk budidaya bulu babi, ikan karang dan industri garam. Bahkan pendapatan dari produk-produk turunan tersebut diharapkan dapat memberikan hasil jauh lebih besar dari produk awal, termasuk di dalamnya diversifikasi produk, sistem produksi, pemanfaatan teknologi, financial engeneering, dan menciptakan pasar baru bagi produk-produk yang dihasilkan.

“Blue economy adalah tentang kepastian, bahwa ekosistem mampu menjaga proses evolusi pemanfaatan sumber daya dari alam berupa kreativitas, adaptasi, dan kelimpahan (abundance),” terangnya.

Potensi Besar

Sebagai gambaran, potensi sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia begitu besar, seperti potensi perikanan tangkap di perairan umum yang mencapai 6,4 juta ton ikan/tahun. Di sisi lain terdapat pula potensi perikanan budidaya tak kalah menggoda untuk dikembangkan yang terdiri dari budidaya ikan, moluska, rumput laut, serta budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913 ribu ha.

Upaya untuk menggairahkan sektor kelautan dan perikanan bukan sekedar slogan, melainkan langkah nyata yang ditandai dengan disepakatinya lima point penting antara KKP dengan konseptor Blue Economy Holding KK. Gunter Pauli. Kelima poin itu yakni, pertama, pemerintah akan mengindentifikasi peluang-peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan berbasis Blue Economy.

Kedua, mengembangkan usaha dan investasi berbasis model Blue Economy, yang dimulai dari beberapa kegiatan utama seperti budidaya rumput laut, artemia, garam, pakan ikan, perikanan tangkap, dan pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan yang mengantisipasi isu ketahanan energy, pangan dan air bersih.

Ketiga, pengembangan sumber daya manusia di bidang kelautan dan perikanan melalui pelatihan pemuda dan calon pengusaha-pengusaha muda. Keempat, pengembangan dokumentasi dan materi Blue Economy untuk publik dan terakhir upaya untuk mempromosikan penyelenggaraan dan partisipasi bersama dalam pertemuan internasional.

Sejalan dengan itu, KKP terus menularkan nilai-nilai yang terkandung di dalam filosofi Blue Economy, lantaran paradigma tersebut, sejalan dengan strategi industrialisasi kelautan dan perikanan yang tengah diusung KKP.

Adapun terdapat tujuh hal yang ingin dicapai dalam industrialisasi perikanan. Ketujuh hal tersebut antara lain peningkatan nilai tambah, peningkatan daya saing, modernisasi sistem produksi hulu dan hilir, penguatan pelaku industri perikanan, berbasis komoditas, wilayah dan sistem manajemen yang berkelanjutan dan transformasi sosial.

Paradigma Blue Economy di dalam pembangunan industrialisasi kelautan dan perikanan merupakan proses untuk mensinergikan kebijakan ekonomi, infrastruktur, sistem investasi dan bisnis, serta menciptakan nilai tambah dan produktivitas.

Sebagai informasi, KKP mampu menggenjot produksi ikan secara signifikan setiap tahunnya. Sepanjang 2011, KKP telah mampu meningkatkan produksi ikan sebesar 12,39 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 10,84 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah tersebut berasal dari kegiatan penangkapan dan budidaya perikanan.

Sementara sampai triwulan II 2012, capaian produksi ikan tercatat sebesar 73,28 persen dari yang telah ditargetkan sebesar 14,86 juta ton. Di sisi lain, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan pada triwulan III 2012 sebesar 5,05 persen. Sedangkan target pertumbuhan PDB adalah 6,85 persen pada 2012, 7 persen pada 2013, dan 7,25 persen pada 2014.

BERITA TERKAIT

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…