Indonesia Berpeluang Tumbuh 7%

NERACA

Jakarta - Secara teknis, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun. Hal tersebut diungkapkan Kepala Ekonom dari The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip. Dia mengindentifikasi berbagai faktor yang dapat menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut. Berdasarkan identifikasi tersebut, setidaknya terdapat 4 faktor kunci yang perlu didorong untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

Faktor pertama, ditopang oleh pertumbuhan investasi minimal 12,% setiap tahun. “Sayangnya, berdasarkan perhitungan IEI, sejak 2001 sampai dengan 2011, rata-rata pertumbuhan investasi hanya mencapai sebesar 7,4%. Untuk mencapai pertumbuhan investasi sebesar 12% tersebut diperlukan alokasi belanja modal pemerintah serta peran investasi swasta yang lebih besar,” ujar Sunarsip, Minggu (9/12).

Namun demikian, lanjut dia, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekaligus berkesinambungan, terdapat dua pra-kondisi yang harus dipenuhi. Pertama, adanya elemen kontinuitas berupa lingkungan makro ekonomi yang kondusif. Kedua, adanya pertumbuhan akumulasi kapital dan produktivitas (total factor productivity) sebagai elemen struktural agar perekonomian dapat meningkatkan kapasitasnya dan berdaya saing.

“Pertambahan akumulasi kapital dapat tercapai melalui peningkatan investasi, baik berupa mesin, bangunan pabrik, termasuk juga investasi yangbersifat intangible seperti riset dan pelatihan sumber daya manusia,” tambahnya. Faktor kedua, dibutuhkan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sebesar 60% dari tingkat produktivitas tenaga kerja saat ini.

Indonesia menghadapi tuntutan produktivitas. Suatu perekonomian dapat dikatakan telah mencapai kinerja yang cukup baik dalam hal produktivitas tenaga kerja, yang menyumbang lebih dari 60% terhadap pertumbuhan ekonomi selama dua dasawarsa terakhir, sementara sisanya disumbang oleh pertumbuhan dalam jumlah angkatan kerja.

Produktivitas tenaga kerja selama 2000-2010 menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 2,9% per tahun. “Namun, Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan produktivitasnya sebesar 60% dari angka yang dicapai saat ini, atau mencapai 4,6% per tahun, agar perekonomian dapat mencapai target pertumbuhan PDB tahunan sebesar 7%,” jelas Sunarsip.

Pertumbuhan Manufaktur

Faktor ketiga, dibutuhkan pertumbuhan di atas 7% untuk sektor manufaktur, atau dengan menaikkan kinerja sektor manufaktur seperti level sebelum terjadi krisis ekonomi 1997-1998 yang pertumbuhan manufakturnya di atas 7%. Di samping itu, Indonesia perlu memacu peningkatan kinerja sektor pertanian dan pertambangannya yang hingga saat ini pertumbuhannya masih di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Pertumbuhan sektor manufaktur saat ini terlalu lambat, sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor ini relatif kecil. Akibatnya, pengurangan jumlah orang miskin menjadi lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelum krisis,” lanjut Sunarsip. Rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan, dan manufaktur selama 2001-2011 masing-masing sebesar 3,42%, 1,11%, dan 4,60%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional selama 2001-2011 sebesar 5,33%.

Faktor keempat, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lebih agresif melalui percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan investasi. Saat ini, menurut Sunarsip, telah bermunculan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di luar Jawa, yang kini menjadi salah satu penopang penting tercapainya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. Beberapa daerah bahkan memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sayangnya, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan baru tersebut masih memiliki masalah dengan rendahnya realisasi APBD. Di sisi lain, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan baru tersebut, belum menjadi tujuan investasi utama di Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan data Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), hingga triwulan III/2012, realisasi APBD baru mencapai 41,30%. Sementara itu, pada 2011, sebesar 60,20% investasi masih terkonsentrasi di Jawa dan sebesar 83,90% terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera.

BERITA TERKAIT

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Kredit Bank DKI Tumbuh 27,9%

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, Bank DKI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 27,95 dari semula sebesar Rp27,1…

Niaga Komoditas - Indonesia Berpotensi Membawa Kebijakan Sawit Uni Eropa ke WTO

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pihaknya berpotensi untuk membawa kebijakan diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit yang dikeluarkan oleh…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Data Eksplorasi Migas Indonesia Masih Lemah

  NERACA   Jakarta - Anggota legislatif Komisi VII DPR Tjatur Sapto Edy menilai bahwa sistem data eksplorasi minyak dan…

Imperva Bangun Scrubbing Center di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Imperva Inc, perusahaan cybersecurity mengumumkan hadirnya DDoS Scrubbing Center pertama di Indonesia. Menurut Wakil…

Pemda Diminta Lapor Penggunaan Dana DBHCT

  NERACA   Karawang - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah daerah harus melaporkan penggunaan dana…