Industri Pengolahan Tumbuh 6,83%

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan bahwa industri pengolahan non migas mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan industri pengolahan mencapai 6,83% sedangkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6,46%. Menurut Hidayat, industri pengolahan non migas terus mengalami peningkatan sebesar 7,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dengan dicapainya pertumbuhan sebesar 7,27%, pertumbuhan industri non migas tidak saja lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan II 2012 sebesar 6,07% tetapi lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan III 2011 yang mencapai 7,16%. Hal ini membuktikan pertumbuhan industri non migas kembali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,17%,” paparnya, akhir pekan kemarin.

Hidayat yang ditemui di Jakarta, Jumat (7/12) menjelaskan dengan semakin bertumbuhnya industri pengolahan maka sekor tersebut telah mampu memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional sebesar 24% dari produk domestik bruto (PDB) nasional. “Setelah mengalami pertumbuhan yang lambat pada periode 2005 sampai dengan 2010, sektor industri pengolahan non migas kembali mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sejak tahun lalu," katanya.

Dilihat dari sektor-sektor utama yang menyumbangkan pertumbuhan ekonomi nasional, lanjut Hidayat, pada triwulan III 2012 sumber pertumbuhan ekonomi terbesar disumbangkan oleh sektor industri pengolahan 1,62% dan diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang menyumbangkan pertumbuhan sebesar 1,02% dan sektor-sektor lainnya di bawah 1%.

“Pencapaian kinerja ini merupakan hasil dari berbagai kebijakan dan upaya yang dilakukan pemerintah dalam penciptaan iklim usaha yang kondusif, baik dalam bentuk penetapan berbagai regulasi, fasilitasi maupun penyediaan infrastruktur dalam rangka pengembangan industri,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan industri nasional yang cukup baik ini, perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih strategis dalam rangka meningkatkan daya saing dan memotivasi dunia usaha serta masyarakat melalui pemberian penghargaan kepada mereka yang berjasa dalam pembinaan dan pengembangan industri, pengembangan desain, penemuan teknologi. “Pemerintah telah memberikan penghargaan di bidang industri pada 2012, yang diserahkan kepada 78 penerima dari 6 (enam) jenis penghargaan,” tandasnya.

Senada dengan Hidayat, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan bahwa pemerintah menjadikan pertumbuhan industri pengolahan (sektor sekunder) sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. "Dengan industrialisasi, keunggulan komparatif ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif," kata Lukita.

Dia menyebutkan, bagi negara berkembang seperti Indonesia, tidak bisa lagi mengandalkan keunggulan komparatif yang hanya mengandalkan sumber daya alam. "Keunggulan komparatif seperti tenaga kerja yang banyak dan murah serta sumber daya alam apalagi yang tidak terbarui, tidak bisa diandalkan lagi," kata Lukita.

Menurut dia, kunci untuk dapat mengalihkan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif adalah adanya inovasi dan peningkatan kapasitas produksi. Lukita menyebutkan, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI) akan memperkuat industrialisasi dan meningkatkan daya saing bangsa. Mengenai adanya deindustrialisasi di Indonesia, Lukita mengatakan bahwa kontribusi sektor industri terhadap PDB yang turun bukan indikasi adanya deindustrialisasi.

"Dalam waktu 10 tahun terakhir memang kontribusi sektor industri kepada PDB turun dari 27% ke 24%, namun kontribusi tenaga kerja sektor industri meningkat, demikian juga dengan nilai ekspor sektor industri," katanya.

Lukita menyebutkan, pada tahun 2009 nilai ekspor produk industri mencapai US$73 miliar, tahun 2010 sebesar US$98 miliar dan tahun 2011 sebesar US$122 miliar, sementara periode Januari-Maret 2012 mencapai US$29 miliar. Komoditas ekspor utama produk industri periode Januari-Maret 2012 meliputi Mesin dan peralatan listrik, mesin/pesawat mekanik, pakaian jadi bukan rajutan, dan alas kaki. "Sementara komposisi tenaga kerja sektor industri pada 2006 mencapai 12,5%, tahun 2010 sebesar 13%, dan 2011 sebesar 13,5%," tukas Lukita.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…

Pengajuan Insentif Fiskal Sektor Industri Disebut Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat pengajuan insentif fiskal berupa "tax holiday" sektor industri meningkat pada 2018, di mana terdapat…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

Songsong Era Digital, Kemenperin Beri Pengarahan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyambut kehadiran 375 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hasil rekrutmen tahun 2018. Jumlah tersebut terdiri…