Optimisme dan Ketidakpastian Global

Oleh: Prof Firmanzah Ph.D

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Kita semua optimis bahwa ekonomi Indonesia pada 2013 mampu tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Pada 2011, kita mampu tumbuh 6,5%. Sampai kuartal III-2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,3% dan menjadikan pertumbuhan ini tertinggi kedua setelah China dalam kelompok negara G-20. APBN 2013 juga menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,8%. Hadirnya MP3EI telah memberikan arahan pembangunan sektor riil dan infrastruktur di Indonesia ke depan. Realisasi investasi juga diproyeksikan akan terus meningkat tahun depan. Diharapkan realisasi investasi 2013 melampaui Rp 390 triliun, lebih tinggi dari harapan realisasi investasi 2012 yang diperkirakan mampu di atas Rp 300 triliun.

Untuk mencapai target dalam APBN 2013 memang membutuhkan kerja keras secara kolektif dari segenap anak bangsa. Mengingat perekonomian global 2013 masih penuh dengan ketidakpastian. Sejumlah lembaga internasional melihat upaya pemulihan dari resesi dipastikan membutuhkan waktu lebih lama. Hal ini ditambah dengan risiko fiscal-cliff yang terjadi di Amerika Serikat juga akan memberikan tekanan pada upaya keluar dari krisis global. Angka pengangguran di sejumlah negara di Eropa memunculkan kekhawatiran pada 2013 yang akan membuat makin melemahnya daya beli dan permintaan dari zona Eropa.

IMF pun merevisi pertumbuhan ekonomi dunia 2013 dari semula 3,9% turun menjadi 3,6%. Sementara OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan menjadi 3,4% dari sebelumnya 4,2%. Kita bersyukur, tanda-tanda membaiknya ekonomi China, India, dan Jepang pada 2013 akan membantu tumbuhnya perekonomian di kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, konsumsi domestik di kawasan ASEAN menjadi penggerak utama tumbuh dan meningkatnya ekonomi di kawasan ini pada tahun depan.

Target APBN 2013 menetapkan inflasi akan dalam kisaran 4,9%. Menjaga inflasi tetap rendah merupakan tantangan bagi kita semua di tengah risiko volatilitas harga pangan dan energi dunia. Perubahan iklim yang mengakibatkan tidak tercapainya produksi pangan di sejumlah negara penghasil utama membuat lonjakan harga sepanjang tahun 2012. Antisipasi cadangan pangan dan keamanan stok serta perbaikan jalur distribusi domestik perlu terus kita tingkatkan tahun depan. Karena seringkali kenaikan harga komoditas di masyarakat juga disebabkan oleh terhambatnya pendistribusian barang dan komoditas.

Menurut WTO, volume perdagangan dunia 2013 diperkirakan akan tumbuh 4,5% dan masih dibawah trend pertumbuhan selama 20 tahun terakhir yaitu 5,4%. Tekanan pelemahan pertumbuhan permintaan serta harga komoditas produk ekspor Indonesia akan membuat kita bekerja keras untuk terus memperbaiki neraca perdagangan. Selain itu juga, tingginya industrialisasi telah meningkatkan permintaan ekspor barang modal dan bahan baku penolong yang masih belum dapat kita produksi. Koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus ditingkatkan untuk mencapai target nilai tukar rupiah sesuai APBN 2013 Rp 9.300/US$.

Ekonomi Indonesia 2013 akan ditopang oleh konsumsi, investasi dan belanja pemerintah. Ketiga sektor pengeluaran ini akan berkontribusi sangat besar dalam pembentukan PDB nasional. Namun terlepas dari semua itu, faktor-faktor non-ekonomi seperti stabilitas politik, keamanan, dan kepastian hukum perlu terus kita jaga bersama. Segenap elemen bangsa diharapkan dapat bekerja sama untuk membuat ekonomi Indonesia tahan akan krisis, tumbuh dan terus mampu menyediakan langan usaha dan kerja baru. Dengan berbekal semangat Bhineka Tunggal Ika, kita optimis pencapaian positif kinerja ekonomi selama ini dapat dipertahankan pada 2013.

BERITA TERKAIT

Terbitkan Rights Issue - Global Mediacom Patok Harga Rp 360

NERACA Jakarta –Perkuat struktur permodalan dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) berencana melakukan penambahan modal dengan menerbitkan…

Korupsi dan Transaksi Bursa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perdagangan bursa di awal tahun 2019 mencetak IHSG…

Polemik Harga Tiket, Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai

Oleh: Royke Sinaga Pesawat terbang sebagai moda transportasi harus diakui tetap menjadi favorit bagi masyarakat. Selain dapat menjelajah jarak ribuan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pasca Debat

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Debat pilpres pertama menyisakan sejumlah persoalan, mulai…

Koperasi Syariah vs RUU Perkoperasian

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Setelah lama tak terdengar dan telah  meredup cahayanya  bertahun – tahun, akhirnya draf…

Lagi, Impor Gula

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef   Dalam satu minggu terakhir pembahasan mengenai gula kembali mencuat. Pasalnya adalah impor gula yang…