Asas Resiprokal Wajib Masuk RUU Perbankan - Persempit Gerak Bank Asing

NERACA

Jakarta - Anggota komisi XI DPR Kemal Azis Stamboel menegaskan pentingnya memasukkan asas resiprokal atau kesetaraan perlakuan hukum antara bank-bank asing dengan bank-bank domestik.

“Sudah saatnya kita memasukkan asas resiprokal dalam RUU Perbankan yang sedang kita bahas. Bank Indonesia memang sudah ada upaya ke arah sana, seperti penerbitan PBI Nomor 14/18/PBI/2012 tentang Capital Equivalency Maintained Assets (CEMA). Namun, ini saja tidak cukup. Perlu ada aturan yang lebih kuat seperti Undang-Undang yang mengaturnya,” ujar Kemal, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamia.

Kemal menilai selama ini cukup terlambat merespon perubahan lanskap kompetisi perbankan di tingkat global dan regional. “Perbankan kita sebelumnya fokus menggarap pasar domestik saja, kita besar di domestik tapi kurang eksposure internasionalnya. Sehingga ketika mau ekspansi keluar negeri ternyata baru menyadari betapa ketatnya aturan di sana dan longgarnya aturan di dalam negeri,” jelasnya.

Menurut dia, Indonesia baru menyadari aturan perbankan sudah terlampau bebas sehingga memberikan karpet merah bagi bank asing untuk melakukan penetrasi usaha dan kepemilikannya di dalam negeri dengan sangat leluasa, sehingga kedaulatan pengelolaan perbankan bukan berarti kita anti-bank asing.

“Kita tidak sedang mengusung pemikiran nasionalisme sempit atau xenophobia dengan memasukkan asas resiprokral dalam bentuk UU. Kita hanya ingin ada keseteraan perlakuan bank-bank asing di negeri kita sebagaimana bank-bank kita diperlakukan di luar negeri,” tegas Kemal.

Selain itu, tambahnya, dalam jangka panjang asas resiprokal ini baik bagi ketahanan fundamental ekonomi kita dalam memitigasi contagion effect dari krisis yang berasal dari luar negeri yang masuk lewat transmisi keuangan. Sementara itu, terkait apa rencana aksi yang bisa dilakukan, Kemal memberikan beberapa poin penting.

Pertama, mengenai perizinan berjenjang (multiple lisence), itu harus dilakukan. Kedua, bank-bank asing yang ingin memperoleh hak-hak operasional penuh, sebagaimana perbankan domestik harus berbadan hukum lokal sehingga persaingan lebih kompetitif dan adil. Ketiga, terkait peningkatan penyertaan modal dan aset minimum juga harus ditingkatkan lebih tinggi lagi, minimal sama dengan perlakuan di negara-negara sekawasan sehingga memiliki kondisi level playing field yang setara.

Terlalu liberal

Sebelumnya, pengamat Indef Enny Sri Hartati mengatakan sistem perbankan nasional masih memberi kemudahan bagi bank-bank asing dalam berekspansi. "Sistem perbankan kita terlalu liberal, sehingga bank asing masih leluasa untuk membuka cabang bahkan telah sampai ke tingkat kabupaten," katanya.

Dia juga mengatakan harus ada prosedur perizinan yang ketat terhadap bank asing untuk membuka cabang di Indonesia, seperti pihak mereka yang cenderung mempersulit bank-bank di Indonesia memperluas operasional di luar negeri. "Harus dibuat peraturan yang bisa mendukung perwujudan kedaulatan perbankan nasional sesuai dengan asas resiprokal," tandas Enny. [ardi]

BERITA TERKAIT

Bank of China akan Evaluasi Proyek PLTA Batang Toru

      NERACA   Jakarta - Bank of China menyatakan akan mengevaluasi pendanaan nya terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga…

Bank Mandiri Incar Bank untuk Diakuisisi

  NERACA Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membenarkan sedang mengincar beberapa lembaga keuangan termasuk perbankan untuk diakuisisi pada tahun…

Likuiditas Bank Ketat?

Istilah likuiditas sering diumpamakan sebagai aliran darah di dalam tubuh yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian. Jika darah itu…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Akulaku Suntik Dana Rp500 Miliar ke Bank Yudha Bhakti

  NERACA   Jakarta – Perusahaan teknologi finansial (tekfin) berskala internasional, Akulaku, menyuntikkan dana ratusan miliar rupiah ke Bank Yudha…

Wakaf Asuransi Syariah Punya Potensi Berkembang

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menilai wakaf asuransi syariah mempunyai potensi yang besar untuk…

Indonesia Re Catat Big Loss Klaim Meningkat - Banyak Bencana

      NERACA   Jakarta - BUMN reasuransi, Indonesia Re, mencatatkan, big loss klaim reasuransi mengalami peningkatan signifikan selama…