Hapus Premium Tak Semudah Membalik Tangan - Infrastruktur Kilang Belum Mampu

Infrastruktur Kilang Belum Mampu

Hapus Premium Tak Semudah Membalik Tangan

Jakarta--- Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui tak mudah menghapus BBM jenis Premium. Masalahnya hal ini terkait infrastruktur Pertamina. “Jadi bukan menghapus premium, jadi tidak semudah itu. Kalau menghapus bahan bakar kan, kita harus melihat infrastrukturnya, kilangnya mampu atau tidak.,” kata Dirjen Migas Evita Herawati Legowo kepada wartawan di Jakara,9/5.

Menurut Evita, wacana penghapusan premium yang sempat beredar memang bisa dilakukan, namun yang paling mungkin dilaksanakan dalam waktu dekat adalah menghapus subsidi BBM. "Jadi yang dimaksud Menteri Keuangan adalah menghapus subsidi," tambahnya.

Yang jelas, kata Evita, hingga saat ini pemerintah belum mempunyai rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi meskipun harga minyak dunia naik tinggi. "Di perhitungan kami belum (naik). Saya kan dua minggu sekali rapat. Belum ada opsi (menaikkan harga) sama sekali," paparnya.

Diakui Evita, pemerintah tak punya kemampuan melarang masyarakat mampu menikmati bensin bersubsidi seperti premium. Saat ini pemerintah hanya dapat mengimbau saja. “Sampai saat ini memang kita hanya bisa sampai tahap mengimbau supaya BBM bersubsidi kan tidak untuk semua orang, hanya untuk orang yang membutuhkan," jelasnya.

Evita mengatakan, dalam undang-undang disebutkan BBM subsidi tidak untuk semua orang melainkan untuk golongan kurang mampu. “Jadi sementara ini hanya bisa mengimbau saja. Tapi kami sekarang ini kami tetap mencoba tahun ini apa sih cara yang terbaik digunakan, kita mempersiapkan beberapa," jelas Evita.

Dikatakan Evita, meski harga minyak naik dan produksi turun, namun pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM. "Sampai saat ini belum ada rencana naik. Kami terus memonitor harga dua hari sekali," imbuh Evita.

Pemerintah berencana untuk mengubah asumsi harga minyak dalam perhitungan APBN-P 2011 nanti. Karena saat ini harga minyak terus menerus melonjak. Sementara di APBN asumsi harga minyak adalah US$ 80 per barel. "Minyak bumi kita yg harganya tdk cocok lagi, ini kan hrs cocok untuk semuanya, mengenai formula, satu lagi selain perubahan harga mengenai keberadannya, masih cukup banyak atau nggak, itu semua kita perhitungkan. Kita lihat Juli ini deh, ini masih dilakukan terus, ada beberapa percobaan, beberapa model," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Modena Kenalkan Mesin Cuci Pembasmi Virus

    NERACA   Jakarta - Di tengah situasi penyebaran virus Corona (COVID-19) yang makin tak terkendali, masyarakat dituntut kian…

Anggaran Pembangunan Ibukota Baru Minta Dialihkan untuk Beli APD Tenaga Medis

    NERACA   Jakarta - Sekjen Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS), Hardjuno Wiwoho meminta pemerintah merealokasikan semua dana pengembangan…

Kebijakan Penanganan Covid 19 Harus Berbasis Riset

    NERACA   Jakarta - Kebijakan pemerintah dalam menangani wabah virus corona (Covid 19) yang telah menewaskan ratusan jiwa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Herborist Pasok 2500 Liter Hand Sanitizer ke RSPAD Gatot Soebroto

    NERACA   Jakarta - Pada awal Maret 2020, Presiden Joko Widodo, telah mengumumkan mulai terdapat orang yang dinyatakan…

Modena Kenalkan Mesin Cuci Pembasmi Virus

    NERACA   Jakarta - Di tengah situasi penyebaran virus Corona (COVID-19) yang makin tak terkendali, masyarakat dituntut kian…

Anggaran Pembangunan Ibukota Baru Minta Dialihkan untuk Beli APD Tenaga Medis

    NERACA   Jakarta - Sekjen Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS), Hardjuno Wiwoho meminta pemerintah merealokasikan semua dana pengembangan…