Sepanjang 2012, Produksi CPO RI Terbesar di Dunia

NERACA

Jakarta - Prospek industri agribisnis 2013 relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada 2012 yang penuh drama, karena dampak kekeringan di negara-negara besar produsen pangan, seperti Amerika Serikat, Rusia dan Australia.

"Misalnya, produksi Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2012 sekitar 24 juta ton dan itu terbesar di dunia serta jauh dari Malaysia, sedangkan ekspor CPO telah mencapai 18 juta ton dan konsumsi domestik sebanyak 6 juta ton," kata Ekonom Senior INDEF Bustanul Arifin di, Jakarta, Kamis (6/11).

Bustanul mengungkapkan, sayangnya persoalan di dalam negeri belum berubah. Peran sawit rakyat terus menurun sampai 41%. Menurut Bustanul, rendahnya produktivitas tanaman dengan skema Indonesia Sustainable Palm Oil Organization (ISPO) sehingga persoalan struktural inti berseberangan dengan plasma yang mewarnai industri CPO.

"Sedangkan kontroversi Bea Keluar (BK) akan mengurangi daya saing, struktur dan rantai nilai yang semakin tidak adil, mungkin sulit menjawab tantangan keberlanjutan yang dipersyaratkan oleh pasar global," ujar Bustanul.

Dikatakan Bustanul, untuk itu kebijakan moratorium skema REDD jadi tantangan baru. Dia mencontohkan, di Brazil sebagai salah satu produsen gula dan kedelai terbesar dunia sedang mengalami anomali cuaca yang relatif basah, sempat sempat membuat harga-harga pangan dan pertanian dunia cukup liar. Namun demikian, jelas Bustanul, beberapa sektor cukup prospektif dan beberapa lain harus berjuang dari bawah.

Pemerintah tidak terpengaruh dengan keputusan Malaysia yang menurunkan tarif Bea Keluar (BK) sebesar 4,5% untuk komoditas CPO atau minyak sawit ke pasar dunia. Pasalnya, Indonesia sudah cukup cerdas untuk merancang dinamika pasar dan dinamika BK untuk produk CPO.

“Kita mampu fleksibel terhadap dinamika harga CPO di pasar dunia. Kita buat dalam kolom-kolom biaya-biaya CPO. Jadi, bila harga naik, otomatis harga CPO ikut naik. Bila harga turun, otomatis harga CPO ikut turun,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi.

Menurutnya, Malaysia kemudian meniru. Sebulan yang lalu BK untuk komoditas CPO mereka persis sama. Angka persentasenya beda, tapi polanya sama. “Ini yang masih kami pikirkan mendalam. Kita sekarang sedang berada dalam situasi harga tertekan. Kalau harga turun, akan ada penurunan demand. Harusnya suplainya dikendalikan atau sedikit ngerem. Malaysia malah ngegas, karena dia buka kuota,” imbuh Bayu.

Harus Hati-hati

Bayu menjelaskan, kebijakan pajak ekspor CPO jangan sampai membuat Indonesia kesulitan. “Kalau kita berlomba-lomba nurunin BK CPO atau membuat kebijakan promotif, yang jadi korban kita sendiri. Jadi bagaimana caranya kini, kita memikirkan secara hati-hati. Di satu sisi tidak seolah-olah perang harga, di sisi lain harus mampu menyikapi perubahan posisi Malaysia yang membuaka kuota,” terangnya.

Untuk itu, menurutnya, pemerintah sedang mencari kebijakan kreatif. “Ini memang situasi yang harus kita cermati bersama, di samping berharap pasarya lebih membaik. Ini temporer saja, bukan permanen,” jelas Bayu.

Lebih lanjut Bayu menuturkan, mulai Desember atau Januari mungkin CPO naik lagi. September saja ada lompatan ekspor CPO Kenyataan ini menunjukkan market mulai menunjukkan respon. Meski demikian, semua kemungkinan terbuka.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menyebut 3 langkah itu di antaranya penebangan pohon sawit tua, pengurangan stok CPO, dan memberikan subsidi untuk biofuel di dalam negeri.

Namun ketiga usulan itu masih dalam penggodokan. Dalam waktu dekat ini pemerintah akan bicara dengan semua pihak, termasuk pengusaha industri kelapa sawit. "Yang paling mungkin itu misalnya replanting yah, artinya tanaman tua itu ditebang yah. Masalahnya kalau di Malaysia itu dibiayai oleh pemerintah. Kalau tanaman tua perhektar berapa. Kalau di Indonesia nggak bisa. Nah nanti bagaimana, apakah kita mencarikan kredit atau bagaimana," kata Deddy.

Usulan kedua adalah pengurangan stok CPO yang berlebih. CPO itu digunakan sebagai bahan bakar alami atau biofuel. Pembakaran itu menunjukkan stok berlebihan. "Tank itu kan penuh kan biasanya, nah sedangkan produksi terus berjalan. Jadi dibakar saja," lanjut Deddy.

Terakhir meningkatkan penggunaan biofuel yang digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Hanya saja itu tidak mudah. Sebab harganya pasti mahal. Pemerintah harus mensubdisi biofuel. "Kita mensubdisi BBM dengan harga Rp 9.000-an, nah paling tidak ini mensubsidi Rp 4.000. Kenapa tidak mensubsidi biofuel saja? Kalau BBM kan itu mensubsidi pihak luar kan. Sedangkan kalau biofuel mensubsidi dalam negeri," jelas Deddy.

Hanya saja mungkin, tandas Deddy, subsidi biofuel juga akan dirasakan pengusaha sawit besar. "Tapi nggak apa-apa kan itu kan juga di dalam negeri," jelas dia.

Deddy melanjutkan saat ini harga CPO sudah menembus harga USD 800 per ton. Jika harga itu terus turun di bawah US$ 750 per ton, maka pengiriman ke luar negeri tidak dikenakan pajak bea keluar atau ekspor. Ini akan mengurangi pendapatan pajak. "Dengan turunnya bea keluar ini kan tidak ada, pemerintah nggak ada pendapatan," kata Deddy.

BERITA TERKAIT

Mengkritisi Upaya Membuka Pasar Baru Dunia

Oleh: Pril Huseno Forum “Seminar Perdagangan Nasional dan Dialog Gerakan Ekspor Nasional” yang digagas Kadin, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia dan…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…