Nelayan Sumut Berencana Kembalikan Kapal Bantuan KKP - Tidak Bisa Beroperasi

NERACA

Jakarta - Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M. Riza Damanik mengingatkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo untuk tidak "tutup mata" bahkan lempar tanggung jawab terhadap terus memburuknya kinerja program bantuan 1.000 kapal untuk nelayan.

“Di Sumatera Utara, Koperasi Nelayan Syariah Sapaham Tanjung Balai Sumatera Utara berencana mengembalikan bantuan kapal berbobot 30 GT kepada Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Langkah ini diambil setelah kapal bantuan yang diterima nelayan memiliki kualitas buruk bahkan tidak layak beroperasi,” kata Riza Damanik kepada Neraca lewat pesan singkatnya, Rabu (5/12).

Buruknya kualitas kepal bantuan itu, lanjut Riza, ditandai dengan jenis bahan baku kayu berupa kayu nangka/mangga/cempedak yang juga disebut sembarang kayu, perangkat penangkapan ikan tidak lengkap, hingga alat navigasi kapal yang tidak lazim bagi nelayan. “Survey yang dilakukan Kiara menemukan bahwa kapal bantuan tersebut sebelumnya berada di tangkahan Kualo, Sei Apung, Kabupaten Asahan Sumatera Utara,” jelasnya.

Menurut dia, kapal tersebut diketahui bernama Kapal Inka Mina 64 yang dibuat di Rokan Hilir/Kubu Riau dengan estimasi biaya lebih dari Rp 1,2 miliar. Pada kali kedua, lanjutnya, masa kepemimpinan presiden SBY (2009-2014) meluncurkan program pengadaan bantuan 1.000 kapal bagi nelayan dengan bobot minimum 30 GT.

Menanggapi rencana pengembalian kapal oleh nelayan Sumut tersebut, secara terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Heriyanto Marwoto, mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan proses pengadaan kapal bantuan Inka Mina belum melibatkan calon penerima (nelayan). “Berarti dalam proses pengadaan belum melibatkan calon penerima, termasuk dalam pengawasan dalam pembangunannya, yang seharusnya tidak demikian," ujar Marwoto kepada Neraca lewat pesan singkatnya.

Sebelumnya, dalam keterangan tertulis KKP, disebutkan bahwa kementerian tersebut mengaku terus menggiatkan pengembangan industrialisasi perikanan tangkap dengan memperkuat dan memodernisasi armada nelayan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ikan di kawasan timur Indonesia. “Kita terus berkomitmen untuk memperkuat dan memodernisasi armada nelayan di kawasan timur agar dapat menunjang mata rantai produksi secara efisien dan efektif,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo.

BERITA TERKAIT

Presiden Berwenang untuk Tidak Sahkan RUU Pertanahan - Guru Besar Hukum Unpad, Prof Ida Nurlinda

Presiden Berwenang untuk Tidak Sahkan RUU Pertanahan Guru Besar Hukum Unpad, Prof Ida Nurlinda NERACA Jakarta - Guru besar Hukum…

Web Sanken Dicatut, IPW Imbau Polda Minta Bantuan Patroli Siber

Web Sanken Dicatut, IPW Imbau Polda Minta Bantuan Patroli Siber NERACA Jakarta - Kejahatan di dunia maya yang mencatut nama…

81 Warga Lapas Kuningan Usulan Remisi Tidak Memenuhi Syarat

81 Warga Lapas Kuningan Usulan Remisi Tidak Memenuhi Syarat NERACA Kuningan - Sebanyak 81 dari 306 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Produk Pangan - Perlu Investasi Besar untuk Tingkatkan Kualitas Garam Lokal

NERACA Jakarta – Pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas garam dalam negeri, sehingga bisa terserap sesuai kebutuhan dunia industri.…

Perdagangan dan Investasi Akan Terus Diintegrasikan

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus mengintegrasikan perdagangan dan investasi di tengah kondisi ekonomi dunia saat ini. Kepala…

Gelar Ekspansi - Banyak Perusahaan Indonesia Disebut Tertarik Investasi di Afrika

NERACA Jakarta – Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan menyatakan banyak perusahaan Indonesia tertarik berinvestasi di negara-negara Afrika. Menko Luhut menyatakan, Indonesia…