Pelaporan Lalin Devisa Makin Baik

NERACA

Jakarta - Pelaporan lalu lintas devisa (LLD) dan devisa hasil ekspor (DHE) pada 2012 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan adanya pertambahan jumlah pelapor dan kualitas data yang semakin membaik.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik dan Ekonomi Moneter Bank Indonesia Hendy Sulistiowaty mengatakan, dengan kualitas data devisa hasil ekspor (DHE) yang semakin baik maka kemampuan BI dalam memantau kepatuhan eksportir terhadap ketentuan DHE juga semakin baik.

"Sejak ketentuan ini diterapkan pada awal 2012, porsi DHE yang diterima melalui bank devisa dalam negeri terus meningkat hingga saat ini mendekati 90% dari keseluruhan nilai ekspor," katanya di Jakarta, Rabu (5/12).

Data LLD digunakan dalam perumusan kebijakan moneter dan penyusunan beberapa statistik penting, seperti Statistik Neraca Pembayaran Indonesia dan Posisi Investasi Internasional Indonesia, sedangkan data DHE diperlukan untuk memonitor pelaksanaan ketentuan penerimaan DHE melalui bank devisa dalam negeri.

"Mengingat pentingnya kedua data tersebut dalam mendukung upaya pemeliharaan kestabilan nilai rupiah dan pengembangan pasar keuangan yang lebih sehat, maka partisipasi bank, lembaga bukan bank, dan para eksportir dalam menyampaikan laporan secara akurat, lengkap, dan tepat waktu, sangat dibutuhkan. Bank Indonesia akan terus berupaya meningkatkan sinergi dengan para pelapor," lanjut Hendy.

Harus Didukung

Menurut pengamat ekonomi Aviliani, kebijakan BI yang mewajibkan eksportir melaporkan seluruh DHE melalui bank devisa di Indonesia harus didukung. Langkah tersebut penting untuk menjaga pasokan mata uang asing sehingga gejolak rupiah bisa diredam.

Hal ini, lantaran fundamental transaksi likuiditas yang tercipta masih buruk. "Kalau DHE ini bisa baik, mungkin dalam lima tahun ke depan rupiah masih di bawah Rp10.000 per dolar AS. Tapi ada saatnya krisis membaik, DHE tidak dilaporkan, rupiah kita bisa anjlok di atas Rp10 ribu per dolar AS," ujarnya.

Aviliani menjelaskan, hal ini disebabkan oleh karena banyaknya utang luar negeri yang masih belum dilaporkan. "Karena fundamental kita secara transaksi belum bagus. Inilah terjadi, laporan utang harus ditunjukkan," ujarnya. Untuk itu, dia menilai pengambilan kebijakan harus lebih condong pada likuiditas.

"Dan bagian-bagian seperti bank menengah kecil untuk masalah likuiditas masih bermasalah," jelasnya. Menurut dia, untuk mengatasi hal-hal ini diperlukan DHE agar dapat menyeimbangkan antara supply dengan demand. "Kalau enggak ada DHE, kalau Pertamina minta uang, rupiah melemah, PLN minta uang, rupiah melemah. Karena itu DHE dan laporan utang luar negeri bisa diatur," tukas dia.

BERITA TERKAIT

Kebijakan Pemerintah dan BI untuk Mengejar Target Devisa Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa…

DAMPAK BANYAK BENCANA DI INDONESIA - Target Devisa Pariwisata Turun US$2,4 Miliar

Jakarta-Pemerintah menurunkan target penerimaan devisa sektor pariwisata tahun ini dari semula US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar. Penurunan dilakukan walaupun pemerintah sebenarnya ingin…

Gerakan Nasional Revolusi Mental Sudah Berjalan Baik

Gerakan Nasional Revolusi Mental Sudah Berjalan Baik NERACA Jakarta - Gerakan Nasional Revolusi Mental dipastikan telah berjalan dengan baik sesuai…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pasca Dana Desa dan Kelurahan, Kini Muncul Dana Kecamatan

  NERACA   Jakarta – Dana desa dan dana kelurahan sudah digelontorkan oleh pemerintah, kini dana kecamatan ikut dikaji oleh…

Angkutan Barang Pakai Kereta Bikin Penghematan Rp3,5 Triliun

  NERACA   Jakarta - Penghematan peralihan angkutan barang dari moda jalan raya ke jalur kereta api bisa mencapai Rp3,5…

Pameran Industri TPT Siap Dongkrak Investasi di Indonesia

  NERACA   Jakarta - Peraga Expo kembali menggelar pameran industri TPT (Tekstil dan ProdukTekstil) terintegrasi bertaraf internasional terlengkap yakni…