Pelaku Usaha Belum Optimal Terapkan Teknologi Informasi

NERACA

Jakarta - Kemajuan dan perkembangan sistem teknologi informasi semakin cepat dan luas. Namun, penelitian yang dilakukan oleh konsultan manajemen dan IT global PT Accenture Indonesia menunjukkan, pelaku bisnis di Indonesia sudah terjun ke era digital dan memanfaatkan teknologi, hanya saja belum maksimal.

Penelitian tersebut menyebutkan, sekitar 63% perusahaan di Indonesia telah memiliki tim digital internal. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata negara Asia Tenggara lainnya. Hanya saja, tim digital perusahaan tidak mampu mendorong penggunaan digital secara maksimal.

"Hanya 35% perusahaan di Indonesia menggunakan platfom jejaring sosial untuk bertukar informasi, ini lebih rendah dibandingkan negara ASEAN yang 48% memanfaatkan jejaring sosial untuk informasi," ujar Country Managing Accenture Julianto Sidarto di Jakarta, Rabu (5/12).

Hasil survei menggambarkan, 63% pelaku bisnis di Indonesia berencana mengimplementasikan strategi digital. Namun 51% nya tidak memikirkan dampaknya. "Dengan mengadopsi digital setengah-setengah, perusahaan berisiko kehilangan pangsa pasar dan daya saing dengan perusahaan lain yang memiliki strategi digital yang lebih fokus," katanya.

Pada dasarnya, konsumen di Indonesia, termasuk pelaku bisnis, sangat bisa menyesuaikan diri (adaptif) terhadap jejaring sosial.Julianto mengatakan, 53% orang Indonesia setuju bahwa jejaring sosial mampu meningkatkan pengetahuan mereka terhadap produk atau jasa yang tidak diketahui sebelumnya.

Dari data tersebut juga terlihat, 45% orang Indonesia percaya bahwa jejaring sosial mampu meningkatkan interaksi mereka dengan perusahaan penyedia barang atau jasa. Sementara itu, 60% orang Indonesia ingin perusahaan berinterkasi langsung pada diskusi-diskusi yang terjadi di jejaring sosial.

Belum Maksimal

Sebelumnya Direktur PT Bakrie Telecom Tbk Rakhmat Junaidi juga mengungkapkan kalau sampai saat ini dunia usaha di Indonesia dinilai masih belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi internet, media online, social media untuk mengembangkan perusahaan.

"Meskipun banyak perusahaan yang telah menggunakan sistem on-line dalam operasionalnya, namun sebagian besar perusahaan belum mengintegrasikan bisnisnya ke dalam sistem informasi dan komunikasi (ICT)," kata Rakhmat.

Padahal menurutnya, jika penggunaan internet dan media online dilakukan dengan serius maka perusahaan akan mampu menekan biaya operasional yang akhirnya dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Ia menjelaskan saat ini dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi telah membuat proses dan strategis bisnis berubah dengan cepat.

"Teknologi informasi berbasis internet sudah dipandang sebagai salah satu senjata untuk bersaing di kompetisi global, kecenderungan ini terlihat dari tidak digunakannya lagi IT sebagai pelengkap dari proses bisnis perusahaan, namun sudah dijadikan sebagai bagian dari proses bisnisnya," ujar Rakhmat.

Berdasarkan catatan, di Tiongkok IT berperan meningkatkan 38% pertumbuhan produktivitas, dan 21% pertumbuhan ekonomi negara itu. Ditambahkan Rakhmat, perkembangan internet dan media online dan jejaring sosial telah pula mempengaruhi pertumbuhan layanan operator telekomunikasi.

"Fenomena berkembangnya fitur layanan berbasis internet mendorong kami untuk tetap menangkap segala peluang dengan memadukan layanan kami dengan media online, social media di masyarakat," ujarnya.

Dia juga memastikan, tren tersebut terlihat dari semakin berkembangnya layanan data, sementara layanan suara (voice) seluruh operator telekomunikasi cenderung datar. "Jadi buat kami ini kesempatan besar yang harus digunakan apalagi penetrasi internet di Indonesia masih sangat rendah," tegasnya.

Media sosial

Sementara itu, praktisi Media Online Virtual Consulting Nukman Lutfhie, juga berpendapat bahwa media sosial merupakan suatu alat yang harus dimanfaatkan perusahaan. Meski demikian, ia menilai masih banyak organisasi besar yang mengetahui dan membuktikan bahwa peluang meningkatkan kinerja usaha dapat diperoleh dari jasa online, namun belum sepenuhnya memanfaatkannya. "Bukannya mereka (perusahaan) tidak mau, namun mereka tidak siap menghadapi perubahan organisasi," tegas Nukman.

Selain itu dia menilai pemanfaatan media sosial justru lebih banyak dilakukan perusahaan skala menengah ke bawah yang memiliki jumlah karyawan lebih kecil yang dengan mudah dipantau dan menjalankan operasional melalui jaringan internet. Fenomena ini juga terlihat dari adanya pergeseran penggunaan internet dari yang semula didominasi keperluan browsing menjadi penggunaan aplikasi.

BERITA TERKAIT

Ford Rencanakan Teknologi Nirkabel Baru Untuk Mobil

Ford Motor Co mengatakan pada Senin (7/1) bahwa pihaknya berencana untuk meluncurkan teknologi nirkabel untuk model kendaraan baru di Amerika…

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan NERACA Bogor – Pekan lalu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (“WOM Finance”)…

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Bilateral - Indonesia-Amerika Berkomitmen Tingkatkan Nilai Perdagangan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan…

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…