Cegah Seks Bebas untuk Perangi HIV/AIDS - Pendidikan Sex Usia Dini

Pendidikan seks untuk anak usia dini sudah seharusnya dilakukan, dimana orang tua merupakan aktor utama sebagai wahana belajar utama bagi anak. Ya,anak hendaknya memperoleh pendidikan seks sejak usia dini. Hal ini penting untuk mencegah berkembangnya pikiran-pikiran negatif pada anak. Kurangnya pengetahuan seksual pada anak remaja memicu keingintahuan berlebih pada anak. Apalagi, orang tua kerap kali tertutup soal seks.

Alhasil, mereka memuaskan rasa keingintahuan mereka dengan bertanya pada teman, atau mencarinya di internet yang belum tentu menyediakan informasi yang benar. Batasan-batasan dalam pacaran pun tidak jelas. Meski masih dianggap tabu di Indonesia, tidak bisa dipungkiri kalau kebanyakan remaja telah melakukan hubungan intim secara bebas dengan teman dekatnya.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak tentang perilaku seksual remaja Indonesia, sebanyak 93,7% pernah berciuman, petting dan oral seks. 62,7% remaja SMP tidak perawan. Sebanyak 21,2% remaja SMU pernah aborsi. Dan 97% remaja pernah menonton film porno. Data-data diatas sangat mencengangkan terutama dunia pendidikan. Mengingat pada usia tersebut rata-rata remaja masih berada dibangku sekolah.

Sejatinya, pendidikan seks untuk anak usia dini dilakukan, karena akan mempengaruhi kehidupan anak ketika remaja. Dalam hal pendidikan anak usia dini, orang tua merupakan aktor utama sebagai wahana belajar utama bagi anak. "Orang tua lah yang paling tepat untuk memberikan pendidikan seks pada usia dini," ujar Eka Viora, Sp.K.J.

Mengajarkan masalah seks pada anak-anak memang tidaklah mudah. Jika salah dalam penyampaiannya bisa-bisa anak menjadi bertambah bingung. Untuk itu orang tua harus bisa menjawab rasa keingintahuan anak yang tinggi dan mengajari anak sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Salah satu hal penting adalah menjawab pertanyaan sang anak dengan jujur dan dengan bahasa yang lebih halus, sehingga anak bisa memahami dengan baik. Namun juga tidak berarti harus dijelaskan secara detail, karena hal itu justru akan membuat anak merasa bingung

Pendidikan seks usia dini juga bukan berarti mengajarkan bagaimana cara melakukan seks. Namun pendidikan seks pada usia dini menjelaskan tentang organ-organ yang dimiliki manusia dan apa fungsinya agar mengenal dirinya sesuai dengan tahapan-tahapan usia anak.

Pada saat anak berusia 2-3 tahun ajari anak nama-nama anggota tubuh termasuk alat kelamin mereka. mengajari anak mengenai fungsi alat kelamin mereka pada usia memasuki usia prasekolah sampai lulus sekolah dan ketika memasuki usia remaja.

Selanjutnya, mengajari mereka bagaimana mereka mengalami pubertas, seperti berubahnya bentuk tubuh dan organ-organ vital mereka, terjadinya menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Nah,jika sang anak mendapat pendidikan seks yang baik dan benar dari orang tua, bukan tidak mungkin seks bebas dikalangan remaja bisa diatasi dan tingkat penderita HIV/AIDS bisa dikurangi.

BERITA TERKAIT

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Perbaiki Regulasi untuk Tekan Kecelakaan Kerja

NERACA Jakarta - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) akan memperbaiki regulasi untuk memastikan tingkat kepatuhan perusahaan dalam rangka untuk menekan angka…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…