Hatta: Defisit Perdagangan Hanya Sementara

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, defisit perdagangan selama Oktober hanya bersifat sementara.

Selama Oktober, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) defisit sebesar US$ 1,55 miliar. Sedangkan untuk NPI sebelumnya (September 2012) mengalami surplus US$ 552,9 juta.

Neraca perdagangan Oktober defisit karena nilai impor Indonesia senilai US$ 17,21 miliar, sementara ekspor Indonesia senilai US$ 15,67 miliar,

“Defisit tersebut bukanlah tren yang akan meningkat alias hanya sementara,” kata Hatta.

Hatta mengatakan, sebetulnya ini lebih dipengaruhi oleh penurunan harga yang tajam. “Sawit saja turun dari Rp 1.300 (per kilogram) ke Rp 700-an. Banyak sekali penurunan harga,” kata Hatta.

Jadi, lanjutnya, sebetulnya ekspor menurun bukan karena tidak bisa dijual, tetapi memang dipengaruhi oleh harga. Alasan lain, kata Hatta, bukan karena ada pembelian pesawat. “Tapi ini kan bukan sesuatu yang akan terus-menerus terjadi setiap bulan,” kata Hatta.

Hal ini lebih dipengaruhi oleh peningkatan permintaan transportasi yang terus meningkat. “Bulan depan tidak akan terjadi seperti itu,” kata dia.

Pembelian pesawat yang dimaksud adalah transaksi Lion Air yang pada tahun ini menandatangani kontrak dengan Boeing untuk pembelian pesawat sebanyak 230 unit. Dalam beberapa tahun ke depan, impor tersebut akan dilakukan secara bertahap.

“Walaupun kita sudah defisit lebih dari US$ 1 miliar, saya meyakini bisa kita atasi, terutama dari sisi menurunnya impor bahan baku yang menunjukkan bahwa terjadi industrialisasi manufaktur berbahan baku,” jelas hatta.

Yang harus didorong ke depan, menurut Hatta, adalah produk-produk manufaktur. “Kita harus meningkatkan produk manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi,” kata Hatta.

Menurut Hatta, pengukuran balance of payment (BOP) tidak hanya dari defisitnya neraca perdagangan. “Kita bisa lihat dari sisi portofolio yang cukup bagus. Pasar modal kita masih cukup bagus. Investasi kita dari foreign direct investment juga bagus. Jadi saya meyakini BOP kita masih cukup bagus,” ujar Hatta.

Hatta juga mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan yang terjadi tidak akan mempengaruhi kinerja rupiah dan tidak akan mempengaruhi kinerja investasi. “Investor cukup jeli melihat bahwa ini tidak membahayakan di dalam keseluruhan investasi,” ujar dia.

“Pasar cukup bisa memahami bahwa defisit yang terjadi tidak bersifat sistemik. Kita memiliki barang-barang yang baik untuk diekspor.

BERITA TERKAIT

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Tak Hanya Make Up Artis, HelloBeauty Hadirkan Beragam Layanan Kecantikan

Tak Hanya Make Up Artis, HelloBeauty Hadirkan Beragam Layanan Kecantikan NERACA Jakarta - Tampil cantik bak artis idola tentunya menjadi…

Atasi Defisit, Perjanjian Dagang Perlu Digalakkan

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan pembahasan dan perundingan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara lain untuk melesatkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Permen PUPR Soal Rusun Akan Dijudical Review

        NERACA   Jakarta - Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Persatuan…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…