Modal Inti Bank Aceh Rp1,6 Triliun - Penuhi Kriteria Bank Indonesia

NERACA

Jakarta – Salah satu BPD yang berpusat di Pulau Sumatera, yakni Bank Aceh, saat ini sudah memiliki modal inti sebesar Rp1,6 triliun. Kalau mengacu kepada Peraturan Bank Indonesia (PBI) terbaru tentang izin berjenjang (multiple license), jumlah modal inti sebesar itu sudah termasuk dalam BUKU 2, dari empat kategori BUKU yang ada dalam aturan tersebut. Juga untuk menjadi BPD Regional Champion (BRC), sebuah BPD harus mempunyai modal minimal Rp1 triliun sebagai indikator keberhasilan yang harus dicapai agar mendapatkan titel itu.

“Bank Aceh sudah memenuhi persyaratan modal Rp1 triliun, jadi sudah masuk BUKU 2. Modal masih perlu untuk ditambah karena menyesuaikan dengan perkembangan industri perbankan (di Indonesia),” kata Islamuddin, Direktur Utama Bank Aceh, ketika ditemui usai penandatangan perjanjian kerja sama (MoU) dengan PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) atau ASEI, di Jakarta, Selasa (4/12).

Dia menambahkan bahwa apabila modal banknya tidak ditambahkan, maka akan menganggu rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan ketahanan lembaga (bank)nya. CAR Bank Aceh sendiri saat ini sudah mencapai sekitar 17%.

“Tapi (modal) tidak mungkin seketika bertambah, tapi (dilakukan) bertahap. Saat ini, rata-rata BPD masih ada di BUKU 2. Untuk kita sendiri, semoga (permodalan) bisa lebih naik. Kalau memungkinkan, inginnya bisa naik ke BUKU 3,” tuturnya.

Menurut dia, Bank Aceh di setiap tahunnya selalu menambah modal. Di tahun 2011, dia sudah menambah modal Rp18 miliar. “Tahun ini kita mengajukan Rp150 miliar, dan tahun depan diharapkan itu terwujud,” imbuhnya.

Dari sisi caranya menambah modal, Islamuddin bilang bahwa pihaknya bisa saja meminta suntikan modal tambahan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov), dari penawaran saham perdana (IPO), atau menawarkan sahamnya kepada investor non pemerintah.

“Kita bisa melakukan yang mana saja (untuk menambah modal), sejauh itu lebih mudah dan murah. Tapi itu masih melihat dulu, tergantung kesiapan dari pemilik kita juga. Kalau dari investor asing masih belum (ada tawaran),” ujarnya.

Penyaluran kredit Bank Aceh, menurutnya, sudah mencapai Rp9,6 triliun per November 2012, tumbuh 12,5% dari pencapaian di periode sama tahun lalu. Pada akhir tahun ditargetkan bertambah Rp2 triliun menjadi Rp9,8 triliun. Namun kredit yang tersalurkan ini sebagian besar masih digunakan untuk kredit konsumtif para pegawai pemerintah daerah.

“Setiap tahun porsi kredit produktif akan ditingkatkan secara bertahap, target kita itu mencapai 40% di 2014. Saat ini sektornya masih lebih banyak di perdagangan dan pertanian,” ucapnya.

Secara total, kata dia, kredit UMKM banknya masih kurang dari 20%. Padahal mulai tahun depan, semua bank disyaratkan memenuhi kredit ke sektor UMKM sebesar 20% dari total portofolio kredit, untuk menyesuaikan dengan aturan Multiple License.

“Jadi ini akan kita tingkatkan terus.Tahun depan pertumbuhan kredit UMKM ditargetkan mencapai 20% (sesuai aturan). Untuk bunganya, kita kecil saja yaitu 12,5%,” imbuhnya. Untuk perolehan DPK, Bank Aceh akan lebih fokus ke tabungan. Apalagi memang untuk menjadi BRC, salah satu indikator keberhasilannya juga harus punya DPK di luar dana Pemda minimal 70%.

Jaringan ATM luar negeri

Sementara untuk kartu ATM, Bank Aceh memang tergabung dalam Malaysian Exchange Payment System (MEPS) melalui Artajasa/ATM Bersama, sehingga terhubung dengan 7435 ATM bank-bank di Malaysia. “Kerja sama dengan Malaysia itu (untuk)kartu ATM/Debit, jadi kita bisa pakai ATM di sana. Di Arab juga bisa, karena di sana ada beberapa bank yang masuk jaringan Artajasa,” jelasnya.

Selain itu, pada awal tahun depan Bank Aceh juga akan menambah produk baru berupa kartu kredit, dengan menggandeng salah satu bank BUMN. “Kita co-branding dengan Bank Mandiri itu pada Januari tahun depan. Karena itu potensi pasarnya masih banyk. Target kartu kredit mungkin pertama 50 ribu dulu. Utamanya sasaran kita nasabah kita dulu,” tuturnya.

Nasabah mereka untuk penabung, 80%-nya memang pegawai pemda, sedangkan untuk debitor itu berasal dari berbagai kalangan. Sementara itu, untuk ekspansi kantor cabang, Bank Aceh akan menambah delapan kantor lagi di tahun depan. Kantor cabang akan ditambah dua, dan kantor cabang pembantu (capem) akan ditambah enam.

“(Cabang kita)memang masih dominan di Aceh yaitu 24 kantor, serta 80 kantor cabang pembantu (capem), cuma ada satu kantor cabang dan dua capem di Medan. Sedangkan, tahun ini kita tidak terlalu ekspansif, karena kita juga sedang mengembangkan unit usaha syariah (UUS). Aset dari UUS ini masih Rp1,3 triliun. Pertumbuhannya kita targetkan bisa mencapai 25% per tahun. Jadi ini prospeknya bagus,” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Niaga Dukung Nasabah Wujudkan Ide Sosial

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali membuka pendaftaran kompetisi ide sosial bertajuk…

KNKS Dukung Penyusunan Roadmap Fintech Syariah

    NERACA   Jakarta - Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mendukung adanya rencana penyusunan peta jalan atau roadmap untuk…

Masalah Bumiputera dan Jiwasraya Diharapkan Segera Selesai

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengharapkan adanya solusi mendesak untuk mengatasi permasalahan likuiditas yang…