Investasi Industri Mamin Ditaksir Capai Rp 25 Triliun - Pasar Makin Berkembang

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menilai dengan pasar yang semakin berkembang, maka investasi produsen makanan dan minuman (mamin) hingga akhir tahun bisa mencapai Rp25 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 25% dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu.

"Hingga akhir tahun ini, nilai investasi pada industri mamin menyentuh Rp25 triliun, naik 25% dari tahun lalu sebesar Rp20 triliun. Sampai dengan September tahun ini, nilai investasi produsen mamin dari luar negeri sebesar Rp11 triliun dan dari dalam negeri sekitar Rp7 triliun," kata Ketua Umum Gapmmi, Adhi. S. Lukman di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurut dia, dengan meningkatnya investasi bisa ditunjukkan dengan pasar yang cukup potensial sehingga menarik untuk berinvestasi. Pasalnya beberapa perusahaan asal Jepang menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. "Indonesia memiliki pasar yang bagus untuk makanan dan minuman. Saat ini, beberapa produsen asal Jepang telah menyatakan minatnya untuk menanamkan modalnya pada sektor mamin," paparnya.

Peningkatan investasi mamin dari Jepang, lanjut Adhi, ditopang oleh pemerintah Jepang yang terus menghimbau pelaku usahanya untuk berekspansi ke Indonesia. "Selama ini, pemerintah Jepang ikut mendorong investasi ke Indonesia. Sedangkan pertumbuhan industri makanan dan minuman di Jepang sendiri mengalami penurunan pada tahun ini," ujarnya.

Adhi menambahkan, untuk pertumbuhan pasar minuman ringan di Indonesia tidak terlepas dari pertumbuhan pendapatan per kapita masyarakat, khususnya di segmen masyarakat kelas menegah. "Permintaan produk mamin khususnya minuman ringan di Indonesia semakin besar dan peluang investasinya sangat besar," tuturnya.

Namun demikian, Adhi menyesali bahwa peringkat daya saing industri makanan dan minuman di Indonesia masih berada di bawah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Tahiland. Hal ini, menurut dia dikarenakan panjangnya rantai distribusi dan tingginya biaya logistik di dalam negeri.

"Daya saing industri makanan dan minuman Indonesia menduduki peringkat 50, masih di bawah negara kompetitor utama seperti Malaysia yang ada di peringkat 25, Brunei Darussalam peringkat 28, dan Thailand peringkat 38," tambahnya.

Faktor distribusi yang panjang, kata dia, meningkatkan harga produk hingga 15%, yang memicu penurunan daya saing produk mamin Indonesia. "Sistem distribusi yang memerlukan waktu lama membuat biaya logistik semakin tinggi. Selain itu, di negara Asia Tenggara rata-rata kenaikan harga produk hanya 7%, bahkan Jepang dan Malaysia hanya 5%," katanya.

Lemahnya daya saing, membuat industri makanan dan minuman di dalam negeri mengalami defisit perdagangan. "Pada tahun lalu defisit perdagangan sektor makanan dan minuman mencapai US$908 juta. Berdasarkan data GAPMMI, sampai Mei 2012, neraca perdagangan makanan dan minuman defisit US$170 juta dan lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$362 juta," paparnya.

Mamin Impor Ilegal

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi mengatakan Indonesia juga telah dibanjiri oleh produk makanan dan minuman impor illegal sehingga membuat Indonesia mengalami kerugian. "Ada tetapi jumlahnya tidak besar. Yang jelas kita prihatin bahwa itu terjadi," katanya.

Benny berdalih penerimaan sektor devisa yang dihasilkan dari industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi yang signifikan. Pada periode 2011 nilai ekspor makanan dan minuman mencapai US$ 13,73 miliar, meningkat bila dibandingkan 2010 yang hanya US$ 9,26 miliar. "Produk makanan dan minuman untuk ekspor kita cukup besar sampai saat ini sudah US$ 11 miliar. Jadi saya kira peluang untuk ilegal sendiri tidak terlalu besar," kata Benny.

Pemerintah meminta masyarakat memberikan informasi terkait keberadaan makanan dan minuman ilegal yang beredar. Benny berjanji menindak tegas oknum dan para pemilik toko yang menjual makanan dan minuman ilegal. "Sekarang kita kembalikan ke masyarakat, mereka mau melaporkan tidak jika ada makanan dan minuman. Kalau ada laporan kita beri sanksi tegas kepada semua oknum bahkan kita tutup tokonya," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Bukukan Penjualan Rp 106,74 Triliun - Porelahan Margin HM Sampoerna Makin Tebal

NERACA Jakarta – Di tahun 2018, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan penjualan bersih Rp106,74 triliun atau naik 7,72% pada…

JK: Pengawasan APIP Berhasil Jika Koruptor Makin Sedikit

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tolok ukur keberhasilan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam mengawasi lembaga pemerintah…

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…