Ekspor Jeblok, Pemerintah Salahkan Krisis Global

NERACA

Jakarta - Pemerintah menyalahkan buruknya pemulihan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat yang membuat kinerja ekspor menurun. Secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2012 ekspor jeblok 6,2%, yakni hanya sebesar US$ 158,7 miliar. Karena krisis, harga komoditas migas maupun non-migas Indonesia anjlok.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi mengaku tidak khawatir dengan situasi tersebut. Namun target ekspor awal pemerintah sebesar US$ 203 miliar tidak akan tercapai.

Dia berharap pengiriman ekspor untuk musim semi yang dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa bisa meningkatkan kinerja ekspor sampai akhir tahun. Saat ini pemerintah hanya menargetkan pencapaian ekspor sampai US$ 190 miliar.

"Tapi itu belum termasuk siklus pengiriman barang yang kita harap bisa meningkatkan jumlah ekspor kita karena pengiriman produk untuk musim semi masih sampai 15 Desember nanti," ujar Bachrul di Jakarta, Selasa (4/12).

Optimisme Bachrul didorong pola konsumsi Amerika dan Eropa yang biasa mengubah kebiasaan belanja ketika terjadi pergantian musim. "Ada spring, winter, terus summer, itu tiap ganti musim ganti baju, perkakas, peralatan, sekarang ini ekspor untuk nanti spring digenjot, kita tentu berharap semua positif," katanya.

Selain berharap pada ekspor untuk musim semi, Kemendag mempersiapkan beberapa langkah antisipasi buat 2013 bila krisis tetap berlanjut. Di antaranya adalah hilirisasi produk berbasis sumber daya alam. Ekspor produk turunan kakao hingga Oktober tahun ini mencapai 52,9% bisa dijadikan contoh sukses agar segera ditiru produsen lain.

"Kakao merupakan satu contoh mengenai pendekatan hilirisasi tadi yang berhasil meningkatkan ekspor dan nilainya, (kebijakan serupa) harus kita galang untuk produk-produk berbasis sumber daya alam," ujarnya.

Skenario lain adalah menggalakkan diversifikasi pasar. Terutama agar produk Indonesia bisa lebih banyak dikirim ke Afrika dan Amerika Selatan. "Potensi pasar ke Afrika dan Amerika Latin tumbuh signifikan, rata-rata 115% meskipun dalam skala nilai ekspor relatif kecil, di bawah US$ 100 juta," katanya.

Ekspor Fluktuatif

Di tempat berbeda, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, sepanjang September 2012 lalu ekspor Indonesia menembus angka US$ 15,90 miliar, naik 13,21% dibandingkan ekspor periode Agustus 2012 yang sebesar US$ 14,12 miliar. "Ini positif karena ekspor sudah membaik," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, sejak mencapai rekor tertinggi pada Maret 2012 yang sebesar US$ 17,25 miliar, kinerja ekspor Indonesia memasuki fase fluktuatif dengan tren turun. Puncaknya, pada Agustus 2012 lalu, ekspor bulanan mencapai titik terendah US$ 14,12 miliar.

Jika dirinci, total ekspor pada September 2012 tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 2,77 miliar dan nonmigas US$ 13,13 miliar. Secara kumulatif, ekspor sepanjang Januari - September 2012 mencapai US$ 143,00 miliar. Angka akumulasi ini lebih rendah 6,06% dibandingkan realisasi periode sama tahun 2011 lalu yang sebesar US$ 152,22 miliar.

Dari sisi negara tujuan ekspor, Suryamin menyebut Tiongkok masih menjadi partner dagang terbesar Indonesia dengan nilai ekspor pada September ke Negeri Tirai Bambu itu sebesar US$ 1,67 miliar. Posisi ke dua adalah Jepang dengan nilai ekspor ke Negeri Matahari Terbit itu sebesar US$ 1,45 miliar. Ke tiga adalah Amerika Serikat (AS) dengan nilai US$ 1,17 miliar.

Soal impor, Suryamin mengatakan, nilai impor sepanjang September 2012 lalu mencapai US$ 15,35 miliar, naik 11,12 % dibandingkan periode Agustus 2012 lalu yang sebesar US$ 13,81 miliar. Sementara jika dibandingkan impor September 2011, nilainya juga naik 1,19 %. "Artinya perdagangan internasional kembali bergairah," katanya.

Impor tersebut terdiri dari impor migas US$ 3,44 miliar dan impor nonmigas US$ 11,90 miliar. Sedangkan secara kumulatif, impor periode Januari - Spetember 2012 mencapai US$ 141,96 miliar, naik 9,18 % dibandingkan periode sama 2011 yang sebesar US$ 130,03 miliar.

Dari sisi negara asal impor, Tiongkok kembali menjadi negara asal impor terbesar. Pada September 2012 lalu, impor dari Tiongkok mencapai US$ 2,23 miliar. Jepang menempel di posisi ke dua dengan nilai US$ 1,80 miliar. Di posisi ke tiga ada Thailand dengan nilai US 917,5 juta. "Impor dari Thailand tinggi berasal dari otomotif, karena Indonesia banyak sekali mengimpor mobil dari Thailand," ujarnya.

Dengan kinerja ekspor dan impor di atas, maka surplus neraca perdagangan Indonesia yang sempat menipis kini kembali naik. Secara kumulatif sepanjang 2012, surplus neraca perdagangan yang per bulan lalu sebesar US$ 0,49 miliar, maka per bulan ini naik tipis menjadi US$ 1,04 miliar.

BERITA TERKAIT

Mahasiswa Difabel Diberikan Beasiswa Rp1 juta/bulan oleh Pemerintah

Akses masyarakat memperoleh pendidikan tinggi terus ditingkatkan, terutama dalam pendanaan. Selain melalui beasiswa Bidikmisi, pemerintah juga akan mengalokasikan beasiswa bagi…

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

Dorong Ekspor UKM, Kemenkop Perkuat Sinergitas

Dorong Ekspor UKM, Kemenkop Perkuat Sinergitas NERACA Yogyakarta - Kementerian Koperasi dan UKM komitmen untuk terus mendorong koperasi dan UKM…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Dongkrak Daya Saing Batik dengan Substitusi Impor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri batik dan tenun dalam negeri. Hal ini dilakukan guna menghasilkan…

Siap Jaga Stabilitas Harga Barang Pokok Menjelang Puasa

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan jajaran pemerintah terutama Kementerian Perdagangan siap menjaga harga dan ketersediaan barang kebutuhan…

IEU CEPA Diminta Dikaji Ulang, Tapi Bukan Karena Sawit

NERACA Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi menilai bahwa tidak seharusnya alasan sawit menjadi dasar kaji ulang rencana…