Sektor Kreatif Topang Pertumbuhan Industri

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat menjelaskan, tren positif pada pertumbuhan industri yang ditargetkan bisa mencapai 7% akan bisa direalisasikan. Pasalnya hingga triwulan III tahun ini, pertumbuhan sektor industri telah mencapai 6,7% sehingga diprediksikan angka 7% bisa tercapai pada akhir tahun. Menurut Hidayat, salah satu penopangnya adalah industri kreatif.

"Kami menginginkan agar industri kreatif bisa lebih dikembangkan lagi. Karena sektor ini sumbangannya cukup tinggi. kepada PDB saja sudah mencapai 8%," ucapnya di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurut dia, dengan berkembangnya industri kreatif maka akan menjadi tren positif bagi pertumbuhan industri. Kedepannya, lanjut dia, industri yang saat ini digerakkan oleh anak muda semisal jasa desain grafis sampai produksi game bakal semakin besar dan bisa menyumbangkan nilai yang tinggi terhadap PDB.

Sebelumnya Hidayat juga mengatakan industri kreatif yang umumnya berskala Industri Kecil Menangah (IKM) adalah salah satu sektor industri yang kuat terhadap gempuran efek krisis ekonomi dunia. "IKM kita terbukti lebih tangguh dan survive, karena tidak tergantung pada utang luar negeri, tidak banyak kredit bermasalah dengan perbankan, menggunakan input lokal dan berorientasi ekspor. Oleh karena itu, ketika krisis keuangan terjadi, industri kreatif yang dimotori oleh IKM tidak terkena imbas besar dalam pembiayaan," kata Hidayat.

Selain itu, lanjut Hidayat, industri kreatif memiliki target pasar nasional yang besar dengan potensi jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Adapun, subsektor industri kreatif yang masuk ke dalam lingkup pembinaan Kementerian Perindustrian adalah fesyen, kerajinan dan layanan komputer dan piranti lunak.

"Fesyen dan kerajinan merupakan subsektor yang dominan memberikan kontribusi ekonomi, baik nilai tambah, tenaga kerja, jumlah unit usaha dan ekspor. Nilai tambah yang dihasilkan subsektor fesyen yakni 44,3%, dan kerajinan sebesar 24,8% dari total kontribusi sektor industri kreatif," ujar dia.

Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang bisa terserap dalam industri fesyen sebesar 54,3%, dan kerajinan sebesar 31,13%. Selanjutnya, nilai ekspor dari kedua subsektor ini mencapai rata-rata US$13 miliar per tahun, selama beberapa tahun terakhir. "Dominasi kedua subsektor tersebut, karena populasinya menyebar di seluruh wilayah Indonesia, serta didukung kekayaan budaya etnis di masing-masing daerah," ucapnya.

Oleh karena itu, Hidayat meyakini, masa depan industri kreatif cukup menjanjikan dan dapat menjadi sumber ekonomi dengan nilai yang tinggi. Karena, dalam industri ini terdapat konten gagasan, seni, inovasi, teknologi, kekayaan intelektual yang di Indonesia cukup besar potensinya. Selain itu, Indonesia telah memiliki beberapa kota yang telah berkembang industri kreatifnya, antara lain Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Jember, Bali, Makassar, Mataram, dan beberapa kota lainnya.

Minim SDM

Namun demikian, ada satu permasalahan yang dialami oleh sektor kreatif yaitu permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM). Kalau didukung dengan SDM yang memadai, industri ini akan menjadi indutri yang bisa mengalami pertumbuhan yang cukup bagus terutama untuk industri animasi. "Untuk animasi kita bagus, tetapi SDM-nya yang kurang. Itu yang kita kurang dan lemah," tutur Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu.

Dia menilai, orang yang bergerak di industri kreatif terutama animasi tidak memerlukan pendidikan umum. Mereka membutuhkan wadah untuk berkreasi serta pengakuan dari pihak manapun. "Intinya menciptakan space di mana mereka bisa berkreasi. TV tolong dong beri program animasi dalam negeri," ungkapnya.

Mari beranggapan, industri kreatif tiap tahunnya bertumbuh. Industri kreatif seperti animasi, film, fotografi, musik adalah orang yang menciptakan konten. untuk itu, Kemenparekraf akan melakukan proses maturing atau mengakui keberadaan industri kreatif tersebut. Mari menyebut, ada beberapa perusahaan Indonesia yang bergerak dalam industri animasi dan telah bekerja sama dengan perusahaan Korea.

Animasi Korea membutuhkan waktu 10 tahun untuk berkembang. "Animasi ini yang paling mahal adalah idenya. Industri animasi ini memang masih kecil di dalam negeri," ungkapnya. Dia juga mengakui, kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian ditargetkan 7,5% pada tahun ini. Kontribusi terbesar industri kreatif adalah fashion sebesar 40,9%, sedangkan griya 40%. "Penciptaan lapangan kerja untuk fashion 4,5 juta dan griya 2,7 juta," paparnya.

Lebih jauh Mari mengharapkan perbankan dapat menggaet industri kreatif serta mengembangkan wadah untuk terciptanya industri tersebut. Ia meyakini, mitra binaan akan menjadi nasabah potensial bagi suatu bank karena terciptanya community share value.

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Kinerja - Elnusa Optimalkan Diversifikasi Portofolio

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan kinerja baik lagi di tengah fluktuasi harga minyak dunia, PT Elnusa Tbk (ELSA) melanjutkan strategi…

Agresif Investasi di Sektor Energi - Tahun Ini, WIKA Targetkan Laba Rp 3,01 Triliun

NERACA Jakarta – Seiring pertumbuhan target kontrak baru di tahun 2019, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) juga menargetkan pertumbuhan…

Mansek Unggulkan Saham Sektor Manufaktur

NERACA Jakarta- PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan sektor manufaktur memiliki prospek paling positif tahun ini. Hal ini didasarkan beralihnya fokus ekonomi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lima Unit AMMDes Penjernih Air Didistribusikan ke Sulteng

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan menyalurkan lima unit alat mekanis multiguna pedesaan (AMMDes) yang berfungsi sebagai pengolah air jernih…

Rendahnya Produktivitas Tebu Picu Tingginya Harga Gula

NERACA Jakarta – Rendahnya produktivitas tebu dapat dilakukan untuk menekan impor gula. Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih…

Keterampilan Tenaga Kerja di Sektor Industri Terus Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang gencar memacu keterampilan atau kemampuan dari tenaga kerja industri di Indonesia sesuai kebutuhan era…