Penanaman Modal Sektor Perikanan Bakal Digenjot - Realisasikan Target Investasi Rp 23,67 Triliun di 2012

NERACA

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku akan terus menggenjot realisasi investasi di sektor perikanan. Sepanjang 2012 ini, KKP menargetkan investasi sebesar Rp 23,67 triliun yang tersebar pada usaha perikanan budidaya senilai Rp 21,67 triliun dan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan senilai Rp 2 triliun.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, untuk menggenjot penanaman modal di sektor perikanan, baik yang berupa penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA), KKP bakal mengupayakan sinergitas dengan lembaga terkait.

“Target ini akan terus ditingkatkan menjadi sebesar Rp 24,29 triliun pada tahun 2013 masing-masing senilai Rp 21,79 triliun untuk usaha perikanan budidaya dan Rp 2,5 triliun untuk usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan,” kata Cicip dalam sambutannya pada acara Pembukaan Fisheries and Aquaculture Investment Fair 2012 yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Saut Parulian Hutagalung di Jakarta, Senin (3/12).

Menurut dia, sejauh ini kegiatan investasi belum menjadi mesin pertumbuhan ekonomi sektor perikanan yang penting. Berdasarkan data realisasi investasi sektor perikanan, pada triwulan II tahun 2012 baru sebesar Rp 14 miliar dan US$ 19 Juta untuk PMDN. Dari total investasi dalam negeri (PMDN), sektor perikanan hanya memberikan kontribusi sebesar 0,1% atau sebesar 0,4% dari total investasi dalam negeri sektor primer. Sementara untuk PMA, nilai penanaman modal asing di sektor perikanan Indonesia hanya sebesar 0,3% dari total PMA atau sebesar 1,2% dari total PMA di sektor primer.

Itulah sebabnya, KKP, ujar dia, terus membuka diri kepada para investor domestik dan luar negeri agar lebih memfokuskan dananya pada usaha di bidang kelautan dan perikanan. Hal ini ditunjang dengan beragamnya komoditas yang layak menjadi target investasi seperti udang, kerapu, kakap, mutiara, rumput laut, bandeng, nila, patin, lele, sidat, dan ikan hias yang tersebar di seluruh wilayah potensi perikanan budidaya.

“Khusus untuk komoditas udang, bandeng, rumput laut dan patin yang merupakan komoditas industrialisasi perikanan budidaya, tentunya hal ini menjadi primadona dan mendapatkan prioritas pengembangan karena memiliki keunggulan spesifik. Udang misalnya, saat ini dengan rekayasa teknologi, telah dapat diproduksi sebanyak 3 siklus per tahun masing-masing 15 ton per ha/musim tanam. Disamping itu, melalui upaya mitigasi dini, resiko kegagalan telah dapat dideteksi dan diantisipasi,” sambungnya.

Peluang Investor

Sementara itu, dalam sambutan tertulisnya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengungkapkan, berbasis potensi perikanan serta beragamnya kegiatan industri perikanan yang dapat dikembangkan, tentunya menjadi opportunity (peluang) bagi para investor untuk berkegiatan pada usaha perikanan budidaya.

Slamet juga menjelaskan, pada perikanan budidaya, di 2012 ini, pihaknya telah me-launching revitalisasi tambak udang dan bandeng seluas 1.000 hektar untuk udang dan 500 ha untuk bandeng di Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada akhir November lalu. “Kegiatan tambak percontohan tersebut tersebar di 6 kabupaten, yakni Serang, Tangerang, Karawang, Indramayu, Subang, dan Cirebon,” tambah Slamet.

Sebagai ilustrasi, lanjut Slamet, untuk luasan areal demfarm 1.000 ha, dengan pemberian input sarana produksi untuk standar teknologi intensif dengan plastik mulsa, ditargetkan dapat menghasilkan udang sebaganyak 15 ton/ha/musim tanam dengan nilai Rp 750 juta, atau 15.000 ton untuk 1.000 ha dengan nilai Rp 750 miliar per tahun (asumsi harga udang Rp 50.000/kg). “dengan demikian jika dilakukan musim tanam sebanyak 3 kali, akan dapat menghasilkan sebesar Rp 2,25 triliun,” kata dia.

Sedangkan untuk demfarm bandeng, dengan luasan areal 500 ha, akan dapat menghasilkan bandeng sebanyak 1.125 ton dengan nilai Rp 16,8 miliar. “Tentunya, untuk mendukung pencapaian produksi tersebut, keberadaan dan peran seluruh stakeholder sangat diperlukan,” terang Slamet.

Belum Optimal

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, dalam sambutannya, mengatakan, dilihat dari sisi bisnis dan ekonomi, kontribusi industri perikanan Indonesia masih kecil. Pada 2011 silam, kata Suryo, ekspor ikan nasional baru mencapai US$ 3,34 miliar dengan luas perairan 5,88 juta kilometer persegi. Angka ekspor pada 2012 diperkirakan naik menjadi sekitar US$ 5 miliar dengan produksi 12 juta ton. “Sebagai bandingan, Vietnam dapat mengekspor ikan sebesar US$ 25 miliar dengan luasan perairan yang lebih kecil,” ujar Suryo.

Dengan menyebut angka-angka tersebut, sambung Suryo, dirinya ingin mengatakan bahwa sebagai negara maritim, Indonesia belum mampu mendayagunakan sumber daya laut secara optimal. “Tantangan yang datang dari laut ini bukan hanya merupakan tantangan terhadap pemerintah, tapi juga harus dihadapi oleh dunia usaha,” urainya.

Lebih jauh Suryo menjelaskan, di masa mendatang, Indonesia perlu mengembangkan sumber daya kelautan melalui investasi yang bersifat terpadu (integrated investment). Investasi yang sifatnya segmental, sebagaimana dilakukan selama ini, menurut pendapatnya, tidak akan menyelesaikan masalah.

“Integrated investment diperlukan karena permasalahan perikanan mempunyai spektrum yang luas. Secara vertika dari hulu ke hilir, kita menghadapi permasalahan investasi dalam hal kemampuan penangkapan, penyumpanan dan pengawetan, permasalahan pengemasan, pengangkutan sampai pemasaran,” papar Suryo.

BERITA TERKAIT

Tepung Jagung Olahan Tembus Pasar Israel

NERACA Cilegon - Pangsa pasar produk olahan berupa tepung jagung atau corn starch hasil industri di Cilegon berhasil tembus pasar…

Pemerintah Upayakan Kebijakan Khusus Bagi Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengakui bahwa pihaknya sedang mengupayakan ada kebijakan khusus bagi koperasi terkait…

Ribuan Ton Impor Bawang Siap Masuk ke Indonesia

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mengakui jumlah volume RIPH bawang putih dan bombai yang telah diterbitkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Covid-19 Meluas, Industri Kelapa Sawit Gelontorkan Bantuan

NERACA Jakarta – Terus meluasnya serangan virus covid-19 membuat industri kelapa sawit untuk menggelontorkan sejumlah bantuan, salah satunya Wilmar. Wilmar…

Memacu Ekspor Perikanan Ditengah Meluasnya Covid-19

NERACA Jakarta - Direktur Utama, PT. Kawan Kita Semua, Dudi Hermawan mengatakan bahwa produksi udang cukup tinggi, dari panen hari…

Kemenkop dan UKM Pembenahan Restrukturisasi Kredit

Jakarta – Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM terus berupaya untuk melakukan pembenahan terhadap  kebijakan khusus bagi koperasi terkait restrukturisasi kredit.…